Jumat, 28 Februari 2020

Labor UGM: Percakapan Soal Golput Paling Banyak di Jawa


Senin, 25 Februari 2019 | 16:40:47 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

YOGYAKARTA-Laboratorium Bigdata Analytics Departemen Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada berdasarkan hasil penelitiannya menyebutkan percakapan soal golput menjelang Pilpres 2019 paling banyak di Pulau Jawa daripada daerah lainnya.

"Kami menemukam bahwa persebaran percakapan soal golput terkonsentrasi di Jawa," kata peneliti Laboratorium Bigdata Analytics Arya Budi saat jumpa pers "Peta Potensi Golput 2019" di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM, Yogyakarta, Senin.

Arya menyebutkan berdasarkan analisis data dari media sosial dalam rentang 27 Januari sampai 19 Februari 2019, seperti Twitter menunjukkan bahwa percakapan soal golput di Jawa Barat di posisi pertama mencapai 21,60 persen, diikuti DKI Jakarta 14,94 persen, dan Jawa Timur 14,64 persen.

Ia mengatakan bahwa isu golput menjadi ramai diperbincangkan di media sosial, di antaranya karena isu itu mulai dilontarkan oleh orang-orang atau tokoh publik yang memiliki pengaruh dengan jumlah "follower" (pengikut) yang banyak.

Pemicu lainnya, kata dia, adalah ketika bertepatan dengan momentum politik yang pas seperti saat debat pilpres. Sebagian orang kemungkinan merasa kecewa atau tidak cocok dengan kedua pasangan capres/cawapres.

"Meskipun ada juga yang disebabkan persoalan teknik (pemilu). Akan tetapi, yang paling banyak memang karena adanya kekecewaan atau secara ideologi tidak ada yang nyambung dengan para kandidat," katanya.

Perbincangan soal golput di medsos paling banyak dilakukan oleh pemilik akun di Jawa karena kesadaran soal politik, kelas ekonomi, serta penetrasi digital lebih tinggi dan masif di Jawa.

Kendati demikian, dari total percakapan tentang golput sebanyak 2.840 percakapan, menurut dia, 9,5 persen di antaranya memang sengaja ingin mengampanyekan golput. Titik daerah yang teridentifikasi paling banyak mengampanyekan golput tertinggi di Jakarta 20 persen, Jawa Barat 17 persen, dan di Jawa Tengah 12 persen.

Menurut Arya, terdapat akun yang sengaja dibuat khusus untuk mengampanyekan golput atau mengajak masyarakat tidak berpartisipasi di dalam pemilu.

"Kalau kita baca memang itu benyakan dilakukan secara personal walaupun memang ada akun yang dibuat untuk kampanye golput. Akan tetapi, kami belum menemukan adanya upaya yang terstruktur dan terorganisasi untuk itu," katanya.


Penulis: ***
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments