Senin, 18 November 2019

Semiotika Maut Puisi Chory Marbawi


Kamis, 28 Februari 2019 | 14:15:35 WIB


Nafri Dwi Boy*
Nafri Dwi Boy* / Istimewa

Nafri Dwi Boy*

SERUPA Chairil Anwar, Chory Marbawi meninggal di usia muda. Puisi-puisinya diselamatkan oleh Sean Popo Hardi dan EM Yogiswara. Sebanyak enam puluh puisi yang ditulisnya terhimpun dalam sebuah antologi ini. Buku ini menjadikan nama Chory Marbawi abadi lewat puisinya yang hingga saat ini masih terus dibaca. Beberapa kali puisi Chory digunakan sebagai puisi wajib dalam lomba musikalisasi puisi. Begitulah paragraf pengantar dalam buku puisi yang berjudul Aku Bawakan Cinta Buatmu karya Chory Marbawi untuk menggambarkan proses terbitnya antologi puisi ini.

Puisi adalah jiwa-raga tanpa gerak, tapi bisa dirasa. Bila tubuh penyair merupakan perpaduan jiwa dan raga dan gerak, puisilah jiwa kedua bila Tuhan menjemput. Raga boleh saja terkubur, tapi jiwa tetap abadi lewat bait-bait sajak. Barangkali itulah alasan mengapa setiap puisi mempunyai ruh, yang bisa menghipnotis pembaca. Puisi seolah hidup seperti manusia, tapi tentu saja tidak bisa bergerak. Puisi hanya bisa bergerak dalam otak, meracun paradigma lewat tanda-tanda (simbol) yang disuguhkan penyair.

Karya sastra hakikatnya sebagai kumpulan tanda (Endraswara, 2013: 35). Puisi merupakan bagian tubuh karya sastra yang kaya akan tanda-tanda. Sehingga puisi tidak hanya untuk dibaca saja, tetapi juga dinikmati dalam bentuk interpretasi. Pembaca dituntut untuk bisa mengkaji tanda-tanda sesuai dengan paradigma sendiri. Barangkali itulah yang membuat puisi punya ruh. Sehingga puisi bisa menjadi identitas dari penyair.

Dalam mengkaji puisi karya Chory Marbawi, setidaknya hampir seluruh puisinya menyampaikan tanda-tanda kematian. Salah satu puisi yang dianggap paling banyak menggunakan tanda-tanda maut adalah puisi yang berjudul Suara Kematian Itu.

SUARA KEMATIAN ITU

Suara kematian itu kembali datang
Dari arah persimpangan sayapnya bermain
Menampar keheningan angin

“kalian telah mengaduk-aduk kebeningan cahaya itu
Lewat darah yang berdiri di atas ubun-ubun”

Bibir terjatuh tapak menginjak
Ranjau jantung berdetak

“kalian telah mengalirkan darah dalam dadaku”

Suara kematian yang
Datang dari arah persimpangan itu,
Menikam jantung darah merapatkan detaknya.

(Teater AiR Jambi, 19 November 2007)

Semiotika maut tentang kematian jelas terasa dalam puisi tersebut. Bagaimana Chory Marbawi memanfaatkan citra pendengarannya untuk mendengar suara kematian yang datang dari persimpangan. Bukankah puisi itu lahir dari isu, persoalan, dan permasalahan baik dari penyair atau luar penyair? Lalu apakah konsep itu yang digunakan Chory Marbawi dalam menciptakan puisi tersebut?

Bila benar, kita bisa memposisikan diri sebagai Chory Marbawi untuk membaca tanda-tanda yang ia tulis. Sayangnya, Chory tidak menjelaskan secara rinci persimpangan yang menjadi tanda dalam bait pertama. //Dari arah persimpangan sayapnya bermain// Bisa diinterpretasi kejadian itu terjadi pada suatu persimpangan yang dalam pemikiran saya persimpangan itu antara dunia dan akhirat.

Chory ingin menjabarkan proses kematian yang pasti akan datang. Manusia tidak bisa memilih ke arah mana dia akan melangkah. Itulah bedanya persimpangan dunia dan akhirat. Apabila Tuhan menghendaki, maka terjadilah. Dalam bait ke tiga //Bibir terjatuh tapak menginjak/Ranjau jantung berdetak// Chory menjabarkan ketika manusia kehilangan kata, mulutnya terkunci oleh maut. Kemudian suatu ketika jantung berdetak sangat keras. Darah mengalir sangat kencang, manusia akan merasakan sakitnya maut. Di bait terakhir, dengan menggunakan tanda suara kematian sebagai sebuah kepastian. Maut datang menikam jantung, hingga manusia akhirnya meninggal dunia.

Ruh yang mengalir dalam tiap diksi puisi tersebut sangat kuat. Chory ingin memberi tahu bahwa kematian pasti akan datang lewat semiotika yang ada dalam tubuh puisi. Secara keseluruhan makna kematian berhasil dikomunikasikan oleh penyair kepada pembaca. Tapi, Chory menyampaikannya dengan tenang dan mengalir. Pembaca dibawanya ke dalam sebuah renungan. Coba saja Chory memberikan tanda-tanda yang lebih menyeramkan lagi. Bisa jadi pembaca tidak hanya sampai pada sebuah proses renungan, tapi juga sampai pada proses penyadaran.

Apakah puisi tersebut terjadi dalam diri penyair sendiri? Atau dalam bentuk kejadian nyata yang dilihatnya? Atau suara itu didengar sendiri oleh Chory? Tidak ada yang tahu! Bisa jadi puisi tersebut lahir dari imajinasi Chory, tapi yang perlu diingat bahwa karya sastra itu merupakan perpaduan kejadian nyata dan imajinasi. Sangat dini untuk memutuskan bahwa Chory benar mendengar suara kematian yang menjadi tanda utama dalam puisi tersebut, kecuali bila ia sendiri yang mengungkapkan.
Tanda-tanda maut seakan tidak lepas dari kehidupan Chory. Puisi Tak Ada Lagi Burung Menyanyi menjadi karya terakhir dalam antologi puisinya. Sekaligus menjadi tanda-tanda terakhir, sebelum maut menyergap.

TAK ADA LAGI BURUNG MENYANYI

Di jalanan ini tak ada lagi burung menyanyi
seperti tempo hari, burung-burung setia memainkan
diri, pagi hari
ketika matahari dan embun riang menyanyi

Di jalanan ini tak ada lagi burung menyanyi
seperti hari ini, kering tandus dimakan api, siang hari
Ketika panas menjelmakan diri jadi api

Di jalanan ini tak ada lagi burung menyanyi.

Teater AiR Jambi, 26 September 2012

Puisi yang ditulis enam hari sebelum Tuhan menjemput Chory itu menggambarkan kesunyian yang mulai dirasakan penyair. Bacalah larik pertama yang ia tulis: //Di jalanan ini tak ada lagi burung menyanyi//. Dari penggalan puisi tersebut terlihat keindahan, keriangan, dan kebahagiaan burung sebagai tanda dunia tidak lagi seperti sedia kala. Penyair merasa sepi, ada yang mulai berbeda dalam dirinya.

Bukankah kematian itu berawal dari tanda-tanda? Manusia tidak ada yang menyadari bila tanda itu datang. Manusia hanya menyadari pada saat eksekusi. Puisi kesunyian di atas adalah bentuk ekspresi kegelisahan Chory sebelum maut menjemput. Tanda kegelisahan terdapat pada larik: //seperti hari ini, kering tandus dimakan api, siang hari//. Puisi tersebut sebagai alat merekam saat-saat sebelum kematiannya. Ini bisa dijadikan alasan bahwa puisi adalah jiwa kedua penyair. Sebab kegelisahannya direkam secara rinci, lewat pilihan diksi dan semiotika maut.

Chory meninggal pada 2 Oktober 2012 saat hendak menunaikan pekerjaannya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Ia meninggal atas musibah kecelakaan di persimpangan Sungai Buluh ketika hendak mengabdi sebagai guru di salah satu sekolah negeri di Muara Bulian. Akhirnya persimpangan maut yang menjadi tanda itu, datang juga.

Suara kematian memanggilnya keras, kesunyian yang mulai dirasakan seketika membuatnya membisu abadi. Tapi percayalah, jiwanya tetap abadi dalam tiap bait sajak. Puisi akan terus mengenangnya sebagai rekan kerja abadi, meski berbeda dunia. Serupa Chairil Anwar, Chory Marbawi meninggal di usia muda. Beliau juga layak disebut sebagai salah satu penyair muda berbakat di Indonesia. Sebagai bentuk apresiasi kepadanya yang tanpa lelah menjadi aktivis di dunia Sastra.

2019


Penulis: * Penulis merupakan mahasiswa Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Jambi
Editor: Herri Novealdi



comments