Rabu, 20 Maret 2019

Menjadi Guru Generasi Milenial


Selasa, 05 Maret 2019 | 15:04:41 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

GENERASI milenial atau yang biasa disebut generasi Z merupakan generasi yang lahir kisaran tahun 1980-2000. Generasi ini tentu berbeda dengan generasi sebelumnya yang belum bersentuhan dengan terknologi seperti saat ini. Generasi ini tidak bisa melepaskan dirinya dari pengaruh gadget, setiap anak akan menggunakan gadget 5-6 jam perhari untuk berbagai aktifitas, hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap karakteristik generasi Z ini.

Perubahan karakter ini dapat dilihat dari kondisi anak di sekolah, jika dulu anak duduk tenang mendengarkan penjelasan guru, sekarang anak akan lebih tertarik untuk melihat tranding video di youtube. Anak akan lebih tenang saat memegang gawai daripada mengerjakan tugas. Anak melihat sekolah sebagai sesuatu yang sangat membosankan sehingga mereka tidak memiliki semangat untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.

Untuk menghadapi perubahan tersebut, Guru di era millennial harus memiliki kompetensi dan memilih strategi yang tepat agar mampu diterima oleh generasi ini, beberapa diantaranya adalah pertama kenali anak lebih dalam dan ajak anak mengenali dirinya. Mengajar generasi millennial tidak bisa diartikan hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, Karena mereka sudah dapat mendapat informasi dan berbagai pengetahuan dari ponsel pintar mereka, lebih dari itu, mengajar harus mampu memberikan Sesuatu yang lebih dari sekedar pengetahuan. Yaitu menemukan potensi mereka serta mengarahkannya agar mampu eksis di masa yang akan datang. Disinilah peran guru sangat dibutuhkan.

Kedua, melek teknologi. Perkembangan zaman yang tidak dapat dicegah ini menuntut para guru untuk dapat lebih kreatif terutama dalam menggunakan berbagai teknologi yang tersedia, terdapat banyak teknologi yang dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran. beberapa metode pembelajaran berbaris IT juga sudah dapat diterapkan dengan mudah, guru hanya perlu terus belajar dan membuka diri terhadap canggihnya teknologi informasi saat ini. Dengan mengenal teknologi, anak-anak tidak akan menyepelekan gurunya dengan menganggap gurunya gaptek.

Ketiga, ciptakan ekosistem menyenangkan, ekosistem yang menyenangkan dapat dibangun dengan cara memasuki dunia mereka, karenanya guru harus selalu update informasi. Hindari gaya otoriter, karena guru otoriter hanya akan dijauhi murid, sebaliknya sentuhlah anak dengan kasih sayang, ajaklah anak mengobrol, biarkan mereka menceritakan hobi mereka, jadilah pendengar yang baik untuk mereka, dan berilah arahan saat mereka melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan etika dan norma yang berlaku. Sampaikan kebaikan kepada mereka lewat pendekatan kasih sayang, dengan begitu anak akan merasa bahwa gurunya benar-benar aware terhadap mereka.

Keempat jadilah rule mode bagi mereka. Sehingga anak akan tetap memiliki pegangan dan contoh yang baik. Sebagai contoh kecil, ada seorang guru yang dengan santainya bermain gadget di kelas saat pelajaran berlangsung, maka otomatis anak akan berpikir bahwa bermain gadget di kelas sebagai hal yang wajar. Keesokan harinya anak-anak di kelas tersebut ramai menggunakan gadgetnya saat pelajaran berlangsung.

Siapakah yang salah? Dalam hal ini guru salah, karena iapun tidak mampu memberikan contoh yang baik kepada muridnya. Di era yang serba instan ini, anak harus memiliki tokoh yang bisa dijadikan panutan, mereka yang setiap tingkah lakunya bisa ditiru, nampaknya semboyan dari Ki hajar Dewantara sangat tepat untuk diterapkan oleh seorang guru “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani” artinya “di depan memberi teladan, ditengah membangun semangat, di belakang memberikan dorongan”.

Jika beberapa strategi diatas telah dilakukan oleh guru, maka ia akan dengan mudah diterima oleh murid millenial, sekarang yang perlu dipertanyakan, Sudahkah kita menjadi guru yang tepat untuk generasi milenial???


Penulis: Lailatul Mufarrohah, S.Sy, M.Pd
Editor: Herri Novealdi



comments