Senin, 19 April 2021

Ujung Kasau Dalam Arsitektur Tradisional Kerinci


Kamis, 07 Maret 2019 | 15:06:33 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

Bentuk atap rumah tradisional Kerinci merupakan segi tiga lurus, tidak seperti sayap burung patah yang kita temukan pada rumah tradisional daerah Jambi. Rumah tradisional Kerinci kaya dengan ornamen ukiran yang spesifik, bahagian luar maupun bahagian dalam diberi ukiran sampai pada kasau – kasaunya juga diukir, dan ukiran – ukiran tersebut diberi warna – warna yang menyolok. Bahagian – bahagian dari rumah tradisional ini mempunyai pengertian tertentu, umumnya pandangan hidup suku Kerinci.

Rumah tipe mandiri atapnya terbuat dari bahan ijuk yang disusun sedemikian rupa, pada hubungan atap yang melengkung seperti perahu ujung ke ujung diberi tambahan kayu berukir yang berfungsi sebagai puuk rumah. Ujung kasau sebelah bawah sedikit lentik (bentuk kurva) dan pada ujung ini diberi ukiran.

Kontrstruksi dasar bentuk empat persegi panjang rumah panggung, panjang tiang rumah sama dengan panjang tiang hubungan dan dapat ditarik menjadi garis belah ketupat. Petak ruang merupakan bilangan ganjil seperti 3 ruang, 5 ruang dan 7 ruang. Tiang dari balok kayu sisi 8 dengan garis tengah ± 25 cm sampai 50 cm, ditegakkan pada batu sendi yang juga dipahat bersisi 8.

Loteng terdiri dari dua tingkat, tingkat pertama terbuat dari papan dan tingkat kedua terbuat dari susunan bilah – bilah bambu. Rumah ini berfungsi sebagai tempat musyawarah pemuka – pemukan adat, orang Kerinci manamai rumah ini “Umoh Gedea” atau “Umoh Pesusun” sering juga disebut Balairung Bergonjong Dua, tidak khusus untuk rumah tinggal tetapi ada penghuninya yang disebut Panatih.

Rumah Larik atau tipe panjang masih dapat kita temukan dalam dusun – dusun di daerah Kerinci, walaupun tidak utuh secara keseluruhan, tetapi bentuk asal menunjukkan bangunan asli rumah Kerinci. atap rumah terbuat dari bilah – bilah bambu atau sering juga dipakai papan – papan tipis dari kayu yang sudah dibelah, sekarang atap ini sudah ditukar dengan seng. Rumah Larik bertingkat dua sama dengan rumah mandiri, terbagi atas beberapa ruang bilangan genap seperti 2, 4 dan 6. petak ruangan muka dapat dihubungkan satu sama lainnya oleh sebuah pintu, sehingga satu larikan rumah dapat dipertemukan seluruhnya.

Biasanya pintu penghubung ini dibuka jika penduduk ingin mengadakan musyawarah besar seperti Kenduri Seko, acara perkawinan dan sebagainya. Bahagian dalam Rumah Larik dibuat bilik – bilik untuk dapat tidur keluarga, bahagian luar tidak dubuat bilik terdapat anjungan setinggi ± 1 jengkal dari lantai, gunanya tempat tamu terhormat atau pemuka – pemuka adat. rumah larik ini dapat mencapai panjang 100 m bahkan bisa lebih, dusun terdiri atas beberapa jajar rumah larik, sehingga sebutan untuk dusun (negeri) dikenal juga sebagai “parit nan bersudut empat – larik nan berjajar”.


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments