Jumat, 2 Oktober 2020

Ujung Kasau Dalam Arsitektur Tradisional Kerinci


Kamis, 07 Maret 2019 | 15:06:33 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

Konstruksi rumah larik tidak mempergunakan besi paku, dimana lembaran – lembaran papan yang lebar dimasukkan kedalam alur kemudian disentung dengen balok kayu berukir, seterusnya dipasang pasak – pasak kayu.

Rumah larik adalah rumah tinggal untuk keluarga – keluarga Kerinci, namun dapat juga berfungsi sebagai “Umoh Gedea” atau “Umoh Pasusun” tempat menyimpan benda – benda pusaka nenek moyang yang dikeramatkan.

Motif ukiran rumah tradisional Kerinci umumnya bermotifkan flora, tidak pernah kita temukan ukiran yang bermotif fauna atau manusia. Ini kemungkinan pengaruh peradaban Islam yang melarang membuat gambar (ukiran) binatang maupun manusia pada rumah, ukiran binatang seperti ular, ulat ketadu atau benda lainnya seperti matahari, binatang dirobah kedalam bentuk ukiran flora. Iri khas ukiran Kerinci disebut “selampit simpae” yaitu, sejenis ukiran pilin berganda yang tidak diketahui awal dan akhir ukiran, jenis ukiran lain dalam bentuk – bentuk geometris sederhana berupa pola anyaman.

Sumber : M. Ali Surakhman, Arsitektur Traditional Kerinci, ( Kerinci Long House) Dept. Social and Science, Royal Netherlands Institute

*) Penulis adalah peminat sejarah, tinggal di Jambi


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments