Rabu, 26 Juni 2019

Pauline Ngarmpring, Transgender Pertama Menjadi Kandidat PM Thailand


Sabtu, 09 Maret 2019 | 01:21:18 WIB


Pauline Ngarmpring
Pauline Ngarmpring / Dok

BANGKOK- Pauline Ngarmpring berpikir dia akan bersantai saja saat memulai hidup baru sebagai perempuan transgender setelah perubahannya pada usia 49 tahun.

Dalam tiga tahun malahan dia mencalonkan diri sebagai perdana menteri Thailand, transgender pertama di negeri itu yang menjadi kandidat, dan siang-malam hari-harinya dipenuhi dengan jadwal kampanye, rapat-rapat penting serta wawancara dengan media.

Itu adalah perubahan yang tidak diperkirakan oleh mantan wartawan yang berubah menjadi promotor olahraga dan kemudian menjalani peran sebagai duta bagi LGBT dan persamaan hak gender di negara yang pemimpin politiknya terbuka bagi perempuan dan kaum homo.

"Politik merupakan minat saya sejak lama, dan sebagai laki-laki dulu saya sering diundang untuk bergabung dalam partai politik. Tetapi saya belum dalam kerangka yang tepat sampai saya berubah," ujarnya seperti dikutip Metrojambi.com dari Antara.

"Sebagai perempuan, saya merasa nyaman dan tidak ada yang perlu disembunyikan. Saya siap, tetapi apakah rakyat sudah siap menerima calon transgender?"

Thailand akan menyelenggarakan pemilihan umum pada 24 Maret, yang pertama sejak kudeta militer 2014.

Persaingan tampaknya akan memperlihatkan pertikaian antara kelompok dukungan militer, Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha dukungan kerajaan dan pendukung mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra yang dalam pengasingan.

Ngarmpring --yang melaju dengan memakai nama Pauline-- adalah satu dari tiga orang calon dari partai Mahachon, dan tidak dipertimbangkan sebagai yang utama, namun komunitas LGBT+ Thailand berharap dia dan hampir 20 LGBT+ lain yang menjadi calon anggota parlemen dukungan Partai Mahachon akan membantu mendapat perhatian mengenai tantangan-tantangan yang mereka hadapi serta kemampuan mereka, kata seorang pegiat.

"Pencalonannya merupakan pertanda penting karena dia menantang norma-norma tradisional mengenai gender dan seksualitas," kata Anjana Suvarnanda dari kelompok Anjaree, organisasi hak-hak LGBT+.

"Kita pernah punya tokoh LGBT dalam politik Thailand sebelumnya, tetapi tidak seorangpun yang menyatakan secara terbuka identitasnya, dan tidak ada perdebatan umumdengan pendekatan positif," katanya kepada Thomson Reuters Foundation.

Hubungan keluarga Thailand sudah membangun reputasi sebagai tempat yang longgar menghadapi gender dan keragaman seksual sejak homoseksual dinyatakan bukan kejahatan pada 1956.

Komunitas Budha yang kolot juga akan meloloskan hukum yang bersejarah dan menjadi negara pertama di Asia yang menesahkan pengakuan perkawinan sejenis sebagai pasangan.

Pada saat ini LGBT+_ menghadapi diskriminasi dan cap di sekolah, tempat kerja dan pelayanan kesehatan, bahkan sering mendapat penolakan dari keluarga, kata pegiat.

Bagi transgender Perempuan, halangannya bahkan lebih tinggi.

Ngarmpring yang menjalani operasi ubah kelamin di Amerika Serikat, tinggal selama tiga tahun di negara tersebut untuk masa perubahan, dan menyebut dirinya beruntung.

"Saya beruntung karena sudah punya karir panjang dan berhasil sebagai laki-laki sebelum saya melakukan perubahan," katanya.

"Jika tidak, orang-orang transgender tidak akan mendapat peluang kerja dan terpaksa bekerja di dunia hiburan atau industri pelayanan tamu," katanya.

Peluang di politik bahkan lebih terbatas.

Sementara jumlah mereka meningkat, politisi gay yang mengungkap jatidirinya masih menghadapi diskriminasi dan bahkan ancaman kematian di sejumlah negara.

Kaum perempuan keadaannya sedikit lebih baik, secara global rata-rata keberadaan perempuan di parlemen adalah 24 persen, di bawah batas 30 persen yang ditetapkan untuk keterwakilan yang memuaskan, menurut PBB.

Di Asia, tingkat rata-ratanya 20 persen sedangkan di Thailand hanya lima persen, merupakan kelompok terendah di dunia.

"Perempuan tidak terlalu diperhatikan di Thailand, memang ada sejumlah politisi perempuan, tetapi sangat sulit untuk memasuki politik tanpa ada hubungan keluarga," kata Ngrampring.

Thailnd pernah memiliki perempuan perdana menteri, Yinluck Shinawatra, saudara dari Thaksin, dan dari hampir 70 persen calon perdana menteri pada saat ini, hanya tujuh yang perempuan.

Sebagai perempuan transgender, Ngrampring mengatakan dia punya perspektif tersendiri dalam tantangan yang dihadapi perempuan dan orang-orang LGBT.

"Sehubungan dengan penampilan saya di depan umum, orang melihat saya sebagai inspirasi dan kadang mereka mengirimi pesan-pesan." 

"Saya katakan kepada mereka: gunakan waktumu, ini bukan tentang apa yang dipikirkan orang lain. Ini tentang bagaimana menjadi jelas pada diri sendiri. Perlu 40 tahun untuk mengakui diri sendiri bahwa saya terlahir sebagai perempuan," katanya.

Diusung oleh Partai Mahachon untuk mengatur kebiajakan dan strateginya sendiri, Ngrampring mengunggah profilnya di facebook pada 8 Februari.

Dia berjalan di jalan yang padat Khlong Toey, Bangkok dan membagikan kartu nama serta memperkenalkan diri, menjaab pertanyaan dan selfie-selfie dengan para pedagang dan pembelanja.

Berbusana dengan warna partai putih-biru dia ditemani pendukungnya yang membawa plakat.

"Saya tahu, pencalonan ini merupakan lambang. Saya sadar tidak akan menjadi PM sekarang," katanya.

"Namun saya berharap mendapat sebagian kursi di parlemen bagi orang-orang LGBT di negeri ini."


Penulis: Antara
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments