Sabtu, 20 Juli 2019

Mantan Ketua dan Anggota DPRD Kota Jambi Dihadirkan ke Persidangan


Rabu, 13 Maret 2019 | 23:30:52 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

JAMBI – Sidang kasus dugaan korupsi dana Bimbingan Teknis (Bintek) DPRD Kota Jambi periode 2009-2014, kembali dilanjutkan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jambi, Rabu (13/3).

Pada sidang kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jambi menghadirkan sebanyak 12 orang saksi mantan anggota DPRD Kota Jambi, termasuk mantan ketua Zainal Abidin. Kemudian Suwandi, Jefri Perdede,
Hizbullah, Sutiono, Dede Firmansyah, Kemas Alfarizi, MA Fauzi, Putra Absor, Suherman, dan Abdus Somad.

Zainal Abidin menjadi saksi bagi dua terdakwa yaitu Nur Ihwan dan Syarial, masing-masing sebagai bendahara dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) dalam Bintek DPRD Kota Jambi ketika itu.

Namun dalam keterangannya, Zainal bukannya menjelaskan persoalan. Dia malah mengaku tidak tahu terkait dengan penyelenggaraan Bintek terutama soal kerja sama antara penyelenggara dengan Sekretariat Dewan (Sekwan).

Ini diungkapkan Zainal saat menjawab pertanyaan JPU Hakim Albana. Menurut Zainal, dana Bintek tersebut langsung diserahkan ke masing-masing peserta. "Waktu itu uangnya diserahkan dari bendahara," ungkapnya.

Selaku Ketua DPRD Kota Jambi, Zainal mengaku tidak mengetahui jika kegiatan Bintek harus terlebih dahulu mengantongi rekomendasi dari Kementerian Dalam Negeri (Mendagri) baik terkait lokasi dan perjalanan dinasnya.

"Saya lupa ada atau tidaknya rekomendasi," ujarnya.

Bahkan Zainal mengaku mengetahui jika Bintek itu harus ada rekomendasi dari Kemendagri saat kasus naik ke penyidikan di Kejati Jambi. "Saya tahu setelah adanya penyidikan jika adanya rekomendasi. Saya juga tidak ada tanya ke Sekwan soal itu," sebutnya dalam persidangan.

Soal ada aliran dana yang disebut-sebut diterima dirinya, seperti terungkap dalam persidangan mantan Sekwan Rosmansyah dan Jumisar beberapa waktu lalu, Zainal membantahnya.

"Tidak ada setoran itu yang mulia," kata Zainal, yang saat ini berstatus anggota DPRD Provinsi Jambi.

Sedangkan saksi lainnya, Sutiyono mengaku mengetahui adanya kegiatan Bintek ketika pergantian Sekwan. "Setahu saya itu pas pergantian (Sekwan,red) yang di Unisba, saat itu masa Pak Jumisar," katanya.

Ketika itu kata dia, semua biaya dibayar dari uang yang diberikan dari Sekwan untuk operasional Bintek. "Waktu itu kita tidak tahu, kita langsung ke sana dan bayar semuanya lebih kurang Rp 4,5 juta," jelasnya.

Dia mengaku beberapa kali mengikuti Bintek dan mengambil uangnya melalui staf Sekwan saat itu. "Ya, saya mengambilnya melalui staf sekwan yang perempuan itu," paparnya.

Adapun Fauzi mengatakan, dirinya mengetahui jika Bintek harus melalui rekomendasi Kemendagri setelah dimintai keterangan oleh penyidik terkait kasus tersebut. "Saya tahu harus ada rekomendasi setelah dipanggil," ungkapnya.

Saksi lainnya adalah Abdus Somad, mengaku mengambil uang Bintek tersebut langsung ke Sekwan. "Saya langsung ambil ke Sekwan," katanya kepada majelis hakim.

Mendengar jawaban tersebut, hakim Adly kembali mencerca para saksi terkait dengan dana Bintek tersebut. Karena menurut hakim, uang tersebut diantar ke lokasi Bintek, bukan kepada Sekwan. Mereka menjawab mengambil uang Bintek itu ke Sewkan, termasuk Kemas Alfarizi.

"Saya mengambil di Sekwan," katanya.

Seperti diketahui, dalam persidangan dengan terdakwa Rosmansyah dan Jumisar terungkap dari keterangan saksi jika Zainal Abidin menerima aliran dana Bintek DPRD Kota yang mencapai ratusan juta. Pada tahun 2012, Zainal disebut menerima Rp 207 juta, tahun 2013 senilai Rp 359,5 juta dan tahun 2014.


Penulis: Sahrial
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments