Minggu, 20 September 2020

Jejak Karya Leluhur di Negeri Seribu Menhir Pasemah


Sabtu, 23 Maret 2019 | 10:45:54 WIB


/ istimewa


Menurut para peneliti terdahulu seperti A. N. J. Th. A. Th Van der Hoop (1930 – 1931), dikatakan bahwa di bumi Pasemah ini ditemukan 22 (dua puluh dua) buah lingkungan situs megalitik dari masa prasejarah. Demikian pula pada kegiatan survei situs-situs Megalitik di Kabupaten Lahat – Provinsi Sumatra Selatan, yang dilakukan oleh tim peneliti dari Proyek Balai Arkeologi 134 Erwan Suryanegara, et al. 

Palembang di tahun 1996, dilaporkan bahwa telah berhasil disuvei sebanyak 19 (sembilan belas) lingkungan situs. Berdasarkan studi literatur ternyata tidak seluruh situs yang ada tersebut memiliki artifak yang berupa patung megalitik, dan disebutkan pula bahwa di beberapa situs yang memang memiliki artifak patung megalitik, sebagian kondisi patungnya sudah tidak lengkap dan rusak berat, sehingga sangat sulit untuk dikenali wujudnya.

Baik di wilayah kabupaten Lahat maupun di kota Pagaralam, seperti situs Belumai, Geramat, Karang Dalam, Muara Danau, Pagaralam Pagun, Tanjung Ara, Tanjung Sirih (oleh beberapa peneliti sebelumnya sering disebut juga sebagai situs Pulaupanjang), Tanjung Telang, Tebat Sibentur, Tebing Tinggi, Tegur Wangi, dan Tinggi Hari. Di antara beberapa situs tersebut ada yang kondisi patungnya rusak parah, bahkan sebagian besar kepalanya sudah hilang, sehingga akan menyulitkan ketika melakukan identifikasi secara men-detail. Ada juga yang patungnya sebagian besar masih terkubur di dalam tanah atau belum diangkat ke
permukaan, serta dijumpai pula beberapa situs yang memang tidak memiliki artifak patung megalitik.

Menurut Van der Hoop, umumnya material batuan yang ada di bumi Pasemah tergolong batuan beku dari jenis batuan “andesit”, yang secara visual ciri-cirinya dapat dikenali melalui warna batu-batuan tersebut. Batuan jenis andesit ini cenderung berwarna putih keabu-abuan menuju kehitam-hitaman, biru gelap, kuning, dan atau coklat kemerah-merahan. Berdasarkan analisis kimiawi yang dilakukan oleh Colonial Institute, Amsterdam yang bekerja sama dengan Mineralogical and Geological Institute of The State – University, Utrecht, terhadap batuan yang contohnya berasal dari situs Tegur Wangi, dapat diketahui bahwa jenis batuan andesit di Pasemah ini terbentuk atas senyawa beberapa unsur kimia seperti: SiO2, Pb, Ca, Na, Fe, Al, dan K. Batuan beku jenis batuan andesit ini memang tergolong jenis batu yang baik untuk dijadikan bahan pembuatan patung .

Bila memperhatikan secara keseluruhan wilayah sebaran situs-situs megalitik di bumi Pasemah, akan tampak adanya kepekaan tertentu pada masyarakat prasejarah Pasemah dalam memilih lokasi. Di lingkungan situs pilihan manusia prasejarah tersebut sudah tersedia secara alami bahan berupa bongkahan batu-batu besar yang mempermudah mereka dalam pembuatan artifak batu monumental, bahkan secara umum lokasinya tidak jauh dari sungai atau sumber air lainnya.

Manusia pendukung budaya megalitik sudah mengenal dan bahkan sudah memanfaatkan alat kerja yang terbuat dari bahan logam. Mereka sudah memiliki kemampuan sangat baik dalam memahat batu-batu besar dengan sudut-sudut yang tajam atau runcing, dan secara bentuk patung-patung itu tampak sudah memiliki garis-garis kontur yang begitu dinamis. Untuk dapat menghasilkan artifak-artifak patung seperti itu tentunya membutuhkan mata pahat yang bukan sekedar terbuat dari batu api saja, namun menggunakan pahat bermata logam yang sangat memungkinkan untuk itu. Namun bila dilihat dari sifat, bentuk, dan termasuk perkiraan fungsinya, artifak-artifak megalitik itu memperlihatkan adanya kelanjutan dari budaya sebelumnya yakni zaman Batu Baru.


Penulis: Oleh : M. Ali Surakhman *)
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments