Kamis, 20 Juni 2019

Kehebatan Unicorn Dongkrak Ekonomi Nasional


Jumat, 29 Maret 2019 | 14:35:02 WIB


/ istimewa

Oleh Muhamad Taufan Ali 

ISTILAH unicorn menjadi viral setelah istilah tersebut disampaikan dalam segmen tanya jawab acara debat pilpres 2019 ke-2, antara Jokowi dan Prabowo, terdapat suatu istilah yang mungkin jarang terdengar di telinga masyarakat awam. Dalam kesempatan tersebut salah satu peserta debat bertanya tentang bagaimana strategi untuk perkembangan unicorn di Indonesia.

Terlihat salah satu peserta yang di tanyakan hal tersebut sedikit kebingungan dalam menanggapinya. Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan unicorn? Apakah unicorn yang dimaksud adalah kuda mitologi yang memiliki tanduk tunggal di kepala seperti yang digambarkan di dalam film film fantasi?

Unicorn adalah status untuk perusahaan startup yang mempunyai nilai valuasi atau nilai pasar sebesar $ 1 milliar dollar Amerika. Jika di rupiahkan berdasarkan kurs saat ini maka berdasarkan curency converter dari Google nilainya adalah Rp 14,268,000,000,000,- atau 14 trilliun 268 milliar rupiah. Istilah ini awalnya diciptakan pada tahun 2013 oleh Aileen Lee, pendiri Cowboy Ventures.

Terdapat istilah lainnya selain unicorn sesuai berdasarkan nilai valuasi pasarnya seperti Decacorn adalah istilah yang digunakan untuk perusahaan-perusahaan di atas $ 10 miliar, sementara hektocorn adalah istilah untuk perusahaan sejenis yang bernilai lebih dari $ 100 miliar.

Saat ini di Indonesia sendiri sudah terdapat empat startup yang menyandang gelar Unicorn yaitu Traveloka, Gojek, Bukalapak dan Tokopedia ke-empat startup ini mempunyai valuasi diatas 1 milliar dollar AS.

Dengan demikian setidaknya Indonesia bisa dikatakan mampu bersaing dalam lingkup ekonomi digital nasional maupun internasional, Lalu apakah dampak yang ditimbulkan dengan adanya unicorn? Dampak positif bagi perekonomian nasional pun sudah bisa dirasakan. Hasil riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) yang dilakukan pada akhir tahun 2017 memaparkan besaran kontribusi ekonomi yang dilakukan oleh Go-Jek. Yakni hasil survei menyebutkan, Go-Jek berkontribusi Rp8.2 Triliun per tahun ke dalam perekonomian nasional, melalui penghasilan mitra driver yang terdaftar.

Bahkan, diperkirakan negara mendapat dana tambahan sebesar Rp682 miliar per bulan, terhitung semenjak mitra pengemudi tergabung dalam aplikasi Go-Jek tersebut. Sehingga terlihat cukup positif memang dampak dari perkembangan teknologi saat ini, maka bukan hal yang aneh masyarakat pun mulai akrab dengan basis teknologi online. Hasil data riset pun menunjukan, bahwa 89 persen konsumen mengatakan Go-Jek telah memberikan dampak indikator "Agak Baik" sampai dengan "Sangat Baik" bagi seluruh masyarakat secara umum.

Terlebih menurut responden jika aplikasi ojek daring ini terhenti, 78 persen responden mengatakan bisa berdampak agak buruk sampai dengan sangat buruk bagi masyarakat. Selain itu manfaat unicorn di Indonesia juga dirasakan oleh para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Teknologi yang dimiliki Tokopedia dan Bukalapak, misalnya, menjembatani produk UMKM dengan para konsumen.

Melalui e-commerce, konsumen bisa membeli produk UMKM yang diinginkan di mana pun berada. Unicorn asal Indonesia juga sudah melakukan ekspansi ke sejumlah negara di Asia Tenggara. Seperti Go-Jek sudah melakukan ekspansi ke tiga negara di Asia Tenggara yaitu Vietnam, Thailand, dan Singapura. kehadiran perusahaan startup berstatus unicorn juga telah membuka lapangan pekerjaan yang besar di Indonesia. Seiring membesarnya perusahaan startup unicorn, semakin banyak juga lapangan pekerjaan yang diserap. Di acara DBS Asian Insight Conference, CEO Tokopedia William Tanuwijaya mengungkapkan bahwa setidaknya Tokopedia telah memberikan lapangan pekerjaan untuk 5 juta orang. "Dalam sembilan tahun terakhir, ada 5 juta orang yang bergabung dengan Tokopedia, membangun dan mengembangkan bisnis mereka,". 

Tetapi terdapat juga sisi lain dari dampak yang ditimbulkan perusahaan unicorn ini, para pengusaha konvensional, salah satunya ialah usaha yang bergerak di bidang agent travel. Masyarakat lebih memilih beralih dari system konvensional ke Online Travel Agent (OTA) lantaran lebih efisien dan dapat memotong biaya jasa yang cukup besar, sehinggal hal tersebut dapat memotong harga produk atau jasa jauh lebh murah, pengusaha travel konvensional juga harus gigit jari lantaran usaha yang digelutinya tergerus akibat ekspansi startup yang kian kuat dari segi modal maupun market yang mereka miliki. Regulasi perusahaan startup juga masih belum jelas seperti Go-Jek contohnya belum ada kepastian hukum bagi keberadaan ojek online. Hal ini sering menimbulkan konflik horisontal antara pengemudi transportasi konvensional dan transportasi berbasis aplikasi. Para pelaku usaha di bidang transportasi konvensional merasa dirugikan dengan kehadiran trasnportasi online ini.

Kita sepatutnya bangga Indonesia merupakan salah satu negara di Asia tenggara yang memiliki jumlah unicorn terbanyak untuk saat ini. Dengan seiring berkembangnya tren positif pertumbuhan dan semakin membaiknya ekosistem di dunia digital, ekonomi Indonesia akan dapat di andalkan di waktu yang akan datang. Salah satunya dengan cara mendukung dan menggunakan produk produk karya anak bangsa.

Penulis adalah Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN


Penulis: Muhamad Taufan Ali
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments