Senin, 27 Mei 2019

Menjadi Kartini di Era Milenial


Senin, 22 April 2019 | 16:48:45 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

Oleh Eldaniel Siallagan *)

LAHIRNYA Negara Indonesia, tentu tidak lepas dari perjuangan-perjuangan para aktor kemerdekaan yang disebut sebagai pahlawan. Perlawanan tersebut muncul dari beberapa golongan, dan salah satunya adalah perlawanan dari kaum perempuan seperti Cut Nyak Dhien, Christina Marta Tiahahu, Dewi Sartika dan lain sebagainya.

Perjuangan Kartini di Masa Kolonial

Jika kita berpotret ke zaman kolonial, Indonesia memiliki tokoh perempuan pejuang sosial yang bernama R.A Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 dan meninggal pada 17 September 1904. Walaupun beliau wafat dalam usia muda, akan tetapi namanya sangat dikenal karena sudah menuliskan sejarah perjuangan khususnya bagi kaum perempuan.

Salah satu bukti penghormatan Negara Indonesia kepada beliau adalah dengan memperingati hari lahir Kartini tanggal 21 April. Dahulu perempuan Indonesia di perkenalkan dengan tiga domain yaitu dapur, sumur, kasur. Tidak memandang latar belakang dari kaum bangsawan maupun terhormat, perempuan memiliki keterbatasan dalam niat memajukan bangsa yang pada saat itu tidak mendapatkan pendidikan yang baik, sehingga menghambat sistem kemajuan perempuan pribumi di zamannya. Dengan hadirnya R.A Kartini dan bukunya yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” pada tahun 1922 kebiasaan perempuan tersebut mulai hilang, dan buah yang dapat kita nikmati dari perjuangannya sampai saat ini yaitu kesejajaran antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik khususnya dalam pendidikan. Dengan begitu, para generasi bangsa mampu bekerjasama dengan baik tanpa ada kelas sosial yang membatasi. Seperti ucapan Bung Karno yang mengatakan “Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika sama sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya. Jika patah satu daripada sayap itu, maka tak dapatlah burung itu terbang sama sekali.” (Sarinah, hlm 17/18)

Perjuangan Kartini di Era Milenial

Di era milenial ini, kartini muda memiliki kesempatan untuk terus maju dan berkarya yang mungkin saja tidak dimiliki kartini-kartini sebelumnya. Kartini masa kini seperi Merry Riana, Najwa Shihab dan masih banyak lagi yang sudah bergelar doktor maupun professor yang mengharumkan nama bangsa Indonesia. Tetapi, tidak ada keberhasilan yang datang dengan sendirinya.

Di balik keberhasilan mereka, banyak perjuangan-perjuangan yang sudah mereka lakukan khususnya dalam domain pendidikan. Seharusnya, kehadiran mereka mampu menjadi inspirasi bagi kartini-kartini muda yang lain. Dengan hati yang bertanya kenapa mereka bisa saya tidak? Namun di era milenial ini, penulis melihat masih banyak kartini muda yang apatis dan mengurung niatnya untuk memperbaiki diri sendiri.

Bagaimana ingin memperbaiki Negara ini? jika kebiasaannya terjebak dalam arus globalisasi dan hidup diambang kemalasan. Menurut survei Heryudarini Harahap dari South East Asia Nutrition Survey (SEANUTS) “52,3 persen anak perempuan di Indonesia tidak aktif dan hampir seluruh waktunya dihabiskan di depan layar gawai, komputer, dan perangkat elektronik yang menyebabkan berkurangnya aktivitas fisik atau yang sering disebut screen times.”

Kebablasan dalam mencintai budaya luar seperti negara Korea, Amerika dan meninggalkan budaya lokal. Tentu hal ini akan membenamkan nilai-nilai moral yang sudah diperkenalkan kartini sebelumnya. Padahal dengan adanya kebebasan berekspresi dan berkarya di era milenial, para kaum perempuan diharapkan untuk mampu mengembangangkan potensi baik di bidang sosial, ekonomi, maupun politik. Sehingga, euphoria kelas sosial yang ada pada zaman kolonial, tidak terjadi lagi di era milenial yang selalu mendiskreditkan kaum perempuan sesuai dengan “Teori Feminisme” yang menentang penindasan perempuan. Peluang-peluang tersebut sudah ada seperti dalam bidang politik adalah keterlibatan perempuan dalam parpol sebesar 30 persen. Bidang sosial dan ekonomi adalah kebebasan untuk berentreprenuership dan mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan tanpa membatasi lingkungan kerja laki-laki dan perempuan. Menurut penulis, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menggugah semangat kartini muda di era milenial untuk menjadi lebih baik. Antara lain: meningkatkan nilai Agama, rasa nasionalisme, wawasan nusantara, literasi pendidikan, dan skill digitalisasi yang akan menjadi tantangan globalisasi. Dan hal terpenting adalah mampu memanejemen waktu. Soe Hok Gie juga pernah mengatakan bahwa: “perempuan akan selalu dibawah laki-laki jika yang di urus hanya baju dan kecantikan.”

Maka dari itu, perempuan Indonesia diharapkan mampu menciptakan kreatifitas untuk diri sendiri, bangsa dan negara dalam bonus kebebasan di era milenial. Karena perempuan Indonesia adalah perempuan yang tangguh, mampu, dan berpotensi untuk maju seperti yang dilakukan kartini sebelumnya. Sebab tidak akan ada keberhasilan tanpa adanya perjuangan. Hidup perempuan Indonesia.

*) Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas Jambi sekaligus, kader GMNI Jambi.


Penulis: Eldaniel Siallagan
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments