Minggu, 20 September 2020

Sultan Thaha dan Pangeran Ratu Raden Mattaher


Rabu, 03 April 2019 | 19:10:45 WIB


/

Jambi di abad 17 itu adalah negeri yang sebetulnya sangat mudah diserang para tetangganya. Tidak seperti Aceh dan Mataram, untuk sebab yang berbeda muncul sebagai kerajaan yang kuat, Jambi harus selalu percaya diri dari tetangga-tetangganya yang agresif.

Supaya dapat berhadapan dengan ancaman yang tidak pernah reda itu, menyerahkan kerajaan-kerajaan yang lemah, Jambi harus selalu mengikat diri dengan sekutu — yang selalu berubah-ubah — yaitu kerajaan-kerajaan di sekitar kawasan itu. Dan jika perlu, ia harus menyetujui kemaharajaan negeri lain yang lebih kuat.

Karena kelemahan-kelemahan itu, maka persetujuan ganda telah ditandatangani pada fase pertama hubungan Jambi-Belanda, mulai awal sampai pada 1724 kompilasi VOC memutuskan mengosongkan kantor dagangnya di Jambi dan fokus ke Palembang dengan harapan dapat membantu Sumatera dari sana.

Dua persetujuan itu disetujui pada 1630 untuk disetujui diterima Portugis dan pada 1643 yang dikeluarkan orang Cina yang melakukan perdagangan di Jambi. Sementara pada fase kedua, perjanjian disetujui dimulai pada 1833 dan 1834. Pada masa itu VOC telah dibubarkan. Perjanjian-perjanjian pada fase kedua oleh Elsbeth Locher-Scholten sebagai pintu masuk imperialisme atau upaya menciptakan negara kolonial.

Menjelang akhir abad 19 Belanda menambah kekuatannya. Dari Palembang, Jawa dan Aceh mulai berdatangan ke Jambi, maka Sultan Taha Syaifuddin menyusun strategi baru sebagai berikut:

Raden Mattaher ditentukan sebagai panglima perang ditentukan wilayah pertahanan Jambi Kecil, Muaro Jambi, Air Hitam Darat, Ulu Pijoan, Pematang Lumut, Bulian Dalam, Ulu Pauh, Payo Siamang, Jelatang dan Pijoan Dalam.

Bagian Batang Tembesi hingga Kerinci berada di bawah komando Pangeran Haji Umar Bin Yasir, gelar Pangeran Puspojoyo.

Bagian Batanghari dan Tebo langsung di bawah pimpinan Sultan Thaha Syaifuddin dan saudaranya Hamzah gelar Diponegara, yang terkenal sebagai Pangeran Dipo.

Di awal abad ke-20 perjuangan rakyat melawan Belanda menghadapi banyak tantangan, satu persatu pejuang Jambi gagal dan gagal lalu dibuang ( internir ) oleh Belanda.

Sultan Thaha Syaifuddin gugur di Betung Bedara pada tanggal 26 malam 27 April 1904. Pangeran Ratu Kartaningrat diambil dan dipindahkan ke Parigi, Sulawesi Utara.


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Herri Novealdi



comments