Minggu, 20 September 2020

Sultan Thaha dan Pangeran Ratu Raden Mattaher


Rabu, 03 April 2019 | 19:10:45 WIB


/

Tahun 1906 Depati Parbo di Kerinci diambil dan dipindahkan ke Ternate-Ambon. Pangeran Haji Umar Puspowijoyo dan adiknya Pangeran Seman Jayanegara tewas di Pemunyian, Bungo, tahun 1906.

Tahun 1906 di Pemunyian mengundang seorang pejuang perempuan bernama Ratumas Sina. Raden Hamzah gugur tahun 1906 di Lubuk Mengkuang, dekat Pemunyian. Tahun 1906 di kota Jambi yaitu daerah Tehok, Raden Pamuk diambil Belanda.

GJ Velds dalam tulisannya “De Onderwerving van Djambi pada tahun 1901-1907, Batavia Departement van Oorlog” yang diterjemahkan oleh S.Hertini Adiwoso dan Budi Prihatna menambahkan ada beberapa Pos Belanda. Pos Belanda itu adalah sebagai berikut.

Batang Tembesi, Batang Batanghari dan perbatasan Jambi Palembang

Muara Tembesi

Muara Sekamis

Banyu Lincir (Bayung Lincir)

Muara Tabir

Muara Tebo

Penahat Muara Merangin

Surulangun-Jambi

Surulangun-Rawas Dusun Tiga

Lidung

Tanjung Gagak

Sungai Bengkal

Merlung

Taman Rajo

Menyebut perjuangan rakyat Jambi melawan kolonial Belanda abad 19 hingga awal abad 20 takkan bisa dilepaskan dari gambar nama Sultan Taha Safiuddin. Sultan Taha menjadi simbol perlawanan masyarakat Jambi melawan imperialisme Belanda. Setelah meninggalnya Sultan Taha pun, dia tetap menginspirasi masa depan melawan kolonial yang diteruskan oleh tokoh lain seperti Raden Mattaher.

Hal yang menarik adalah perlawanan saat itu dengan suasana Islam. Apa yang menarik adalah pembatasan yang menampilkan gerakan, nasionalisme, dan perjuangan Islam. Ini adalah tiga karakteristik yang tergambar dari perjuangan kemerdekaan di Jambi saat itu. [2]

Sultan Taha naik tahta tahun 1855. Sebelum naik tahta menjadi sultan, posisinya sebagai pangeran ratu atau perdana menteri saat sultan dijabat pamannya, Sultan Abdurachman Nazaruddin (1841-1855).

Berbeda dengan sultan-sultan sebelumnya, termasuk menantang, sosok Sultan Taha Safiuddin berkarakter keras dan anti kompromi dengan Belanda. Ia enggan membuat piagam pengakuan kepada pemerintah kolonial Belanda, termasuk persetujuan yang dibuat dengan Belanda.

Tanggal 15 Desember 1834, ayah Sultan Taha bernama Sultan Muhammad Fachruddin melakukan perjanjian dengan Belanda setelah kondisinya terdesak diserang Belanda. Kesepakatan itu terkenal dengan nama Piagam Sungai Baung (Sorolangun). Isinya antara lain:

Negeri Jambi dikuasai dan dilindungi oleh Belanda.

Negeri Belanda memiliki hak untuk menyiapkan kekuatan di daerah Jambi jika diperlukan. [3]


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Herri Novealdi



comments