Minggu, 20 September 2020

Sultan Thaha dan Pangeran Ratu Raden Mattaher


Rabu, 03 April 2019 | 19:10:45 WIB


/

Tanggal 2 September 1858, Sultan Taha menerima utusan yang memberikan ultimatum dalam 2 X 24 jam, sultan harus menyetujui kontrak dan mengirim utusan ke Batavia. Jika sultan ditolak, sultan akan diganti sultan baru dan status kerajaan Jambi diturunkan. Sultan Taha tetap menolak.

Belanda melakukan penaklukan terhadap istana Sultan Taha tanggal 6 September 1858. Terjadi pertempuran sengit yang berlangsung sekitar 50 pejuang Jambi terbunuh, dan banyak yang luka luka. Keraton Jambi dapat dikuasai, namun Sultan Taha bisa meloloskan diri.

Belanda membujuk Pangeran Ratu Martaningrat yang notabene sepupu sultan untuk naik tahta mengantikan Sultan Taha. Pangeran Ratu menolak. Belanda akhirnya memilih Panembahan Prabu, paman Sultan Taha untuk jadi sultan. Ia naik tahta dengan gelar Sultan Ahmad Nazaruddin.

Pada tahun 1866, Sultan Ahmad Nazaruddin menulis surat meminta pengampunan untuk Sultan Taha. Surat diteruskan ke Residen Palembang, namun surat ini tak pernah diterbitkan. Sultan wafat tahun 1880 dan digantikan Sultan Ratu Muhammad Mahiluddin (1881-1885).

Setelah Sultan Mahiluddin meninggal posisinya digantikan Pangeran Cakra Negara. Namun, di masa kekuasaannya, sering terjadi penyerangan terhadap orang Belanda di Jambi.

Bulan Juli 1886, Belanda dan pihak keluarga sultan berunding untuk pengangkatan sultan baru. Diangkatlah saudara tiri Sultan Taha, yaitu Pangeran Suryo sebagai sultan. Ia bergelar Sultan Ahmad Zainuddin (1886-1899). Pangeran Ratu memilih anak Sultan Taha yang baru berumur tujuh tahun, yaitu Pangeran Anom Kusumo Yudho.

Sumber :

Sovia, Sejarahwan Jambi

Raden Mattaher: Pejuang Rakyat Jambi Melawan Kolonial, Anastasia Wiwik Swastiwi P.hD dan Dedi Arman


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Herri Novealdi



comments