Selasa, 17 September 2019

Disbudpar Provinsi Jambi Usulkan Lebih Banyak Warisan Budaya Tak Benda Untuk Diakui Nasional


Kamis, 11 April 2019 | 11:09:35 WIB


Kepala Disbudpar Provinsi Jambi, Ujang Hariyadi
Kepala Disbudpar Provinsi Jambi, Ujang Hariyadi / Instagram

JAMBI - Ditargetkan lebih dari 10 sertifikat budaya tak benda yang akan diraih oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jambi pada tahun ini, ditambah dengan lebih banyak warisan budaya (Intangible) tak benda yang telah diusulkan kepusat. 

Setelah pada 2018 ada sembilan unsur Intangible dari Jambi diakui nasional.

Kepala Disbudpar Provinsi Jambi Ujang Hariyadi menyampaikan jika berkaca dari tahun lalu, pihaknya optimis lebih sukses tahun ini. "Kita sudah usulkan melalui Kabid saya, sudah kita dapatkan data dari Kabupaten," tuturnya.

Ujang menyebut bahwa warisan budaya Jambi nantinya selain mendapatkan pengakuan juga bisa mendapatkan bantuan pembinaan kebudayaan. "Kita harapkan sinergi Pemerintah Provinsi jambi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota semakin meningkat, dalam rangka pelestarian budaya dan pengajuan budaya," harapnya.

Namun Ujang mengakui untuk tahun ini, bantuan pembinaan dari sembilan sertifikat terbaru tersebut belum diterima pihaknya. Menurutnya, yang baru akan diterima pihaknya adalah DAK kebudayaan untuk Museum dan Taman budaya saja. "Tapi kita yakini nanti pasti ada reward dari pusat, kalau besarannya saya belum bisa taksir," katanya.

"Yang jelas nanti bantuan pembinaan itu dapat berupa pelatihan sanggar seni ataupun budaya lainnya. Ini untuk menambah pelatihan yang kita dapatkan sebelumnya," sambungnya.

Untuk diketahui tahun lalu telah ditetapkan sembilan karya budaya dan diakui menjadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Provinsi Jambi tersebut yakni Kenduri Sko dari Kota Sungai Penuh,Tari Rangguk Kumun dari Sungai Penuh. Lalu adapula tari Iyo-iyo dari Sungai Penuh.

Kemudian Lapaik Koto Dian Rawang dari Sungai Penuh. Selanjutnya ada Ntok Awo dari Sungai Penuh, kemudian Tauh Lempur dari Kabupaten Kerinci, Ngangoah Imo Pulau Tengah dari Kabupaten Kerinci, Ompek Gonjie Limo Gonop (sastra lisan) dari Kabupaten Merangin, dan terakhir perkampungan Rumah Tuo Rantau Panjang dari Merangin.

Ujang mengatakan, guna mendapatkan status ini tidaklah mudah. setidaknya ada beberapa tahapan yang dilalui. "Seperti tahapan administrasi, proses pendataan, dokumen, kajian akademis, verifikasi dari tim ahli, dan persidangan dihadapan 17 orang Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, yang terdiri dari para pakar dan profesor kebudayaan," tandasnya.


Penulis: Rina
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments