Jumat, 6 Desember 2019

Rahasia-rahasia Puasa (I)


Rabu, 08 Mei 2019 | 10:39:27 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

RINGKASAN KITAB ASRARUS SHAUM

Dari Kitab Ihya Ulumuddin Al Imam Al Ghozali

Allah Subhanahu wa ta ala menjadikan puasa sebagai benteng dan perisai untuk para kekasihNya. Rosululloh sholollohu alaihi wa salam bersabda: "Puasa adalah separuh kesabaran". Sedangkan Allah Subhanahu wa ta ala berfirman : "Orang-orang yang sabar dipenuhi pahalanya tanpa hitungan" (azzumar:10). Maka jelaslah bahwa pahala puasa itu melewati batas-batas ukuran dan hitungan. Cukuplah bagimu sebagai pengetahuan tentang kemuliaan puasa sabda Nabi Sholollohu alaihi wa sallam " Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau tak sedap dari mulut orang yang puasa itu lebih harum disisi Allah Subhanahu wa ta ala dibanding wanginya kesturi.

Allah Subhanahu wa ta ala berfirman: (Orang yang puasa) Ia meninggalkan syahwatnya, makanannya, minumannya hanya karena AKU, maka puasa itu untukKU, dan AKU yang akan membalasnya". Orang yang berpuasa dijanjikan berjumpa dengan Allah Subhanahu wa ta ala dalam sabda NabiNYA : " Orang yang berpuasa memperoleh dua kebahagian, kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu Robbnya"

Semua ibadah adalah untuk Alloh Subhanahu wa ta alanamun secara khusus Alloh menisbatkan puasa kepadaNYA, hal ini karena dua makna:

Pertama, puasa adalah menahan dan meninggalkan, karena itu puasa adalah rahasia. Puasa bukanlah amal yang bisa dipertontonkan. Puasa tidak terlihat seperti ibadah-ibadah yang lain. Puasa hanya bisa diketahui oleh dirinya sendiri dan Allah Subhanahu wa ta ala ia adalah amal rahasia yang dijalankan dengan kesabaran yang murni.

Kedua, puasa adalah bentuk perlawanan terhadap musuh Allah Subhanahu wa ta ala. Setan menggoda manusia melalui syahwatnya, ketika seseorang berpuasa ia telah meninggalkan syahwatnya. Dengan begitu berarti ia menutup jalan bagi setan. Dalam memerangi setan berarti ia telah membela Allah ï·» dan siapapun yang membela Allah maka Allah pun akan memberikan pertolonganNYa. Allah Subhanahu wa ta ala berfirman: "Jika kalian menolong Allah maka Allah akan menolong kalian dan meneguhkan telapak kaki kalian"(Muhammad:7).

Kewajiban-Kewajiban Dan Sunnah-Sunnah Dhohiroh

Serta Kewajiban Sebab Rusaknya Puasa

Kewajiban-Kewajiban Dhohir

1. Meneliti awal bulan Ramadlan. Awal bulan dimulai dengan adanya ruyatul hilal (melihat bulan tanggal satu) apabila tertutup mendung maka dengan menyempurnakan syaban tiga puluh hari. Yang kami maksud dengan ruyah adalah mengetahui. Hal itu bisa didapat dengan ucapan seseorang yang adil. Hilal syawal tidak bisa ditetapkan kecuali dengan ucapan dua orang yang adil karena prinsip kehati-hatian dalam ibadah. Barang siapa yang mendengar seorang yang adil dan ia percaya dengannya dan menimbulkan dugaan kuat maka wajib baginya berpuasa sekalipun qadli belum menetapkan.

2. Niat disetiap malam dengan mentayin yakni berniat dengan mantap untuk melakukan kewajiban puasa ramadlan karena Allah Subhanahu wa ta ala

3. Menahan diri dari memasukkan sesuatu kedalam lubang tubuh secara sengaja serta dalam keadaan ingat jika ia sedang berpuasa.
Maka puasa batal sebab makan, minum, memasukkan obat melalui hidung, dan juga memasukkan obat melalui dubur.

Puasa tidak batal sebab cantuk atau bekam, bercelak, memasukkan curek kedalam telinga dan lubang dzakar. Benda yang masuk tanpa kesengajaan seperti debu jalanan atau lalat yang terlanjur masuk kedalam lubang tubuh serta air kumur yang tanpa sengaja masuk itu tidak membatalkan puasa selagi tidak berlebihan dalam berkumur, jika berlebihan maka membatalkan karena keteledoran dan hal itu masuk dalam perkataan kami "secara sengaja". Sedangkan perkataan kami "mengingat puasa" maka yang kami maksud adalah mengeluarkan hukumnya orang yang lupa. Sesungguhnya orang yang lupa itu tidak batal puasanya.

4. Menahan diri dari jima. Jika ia jima dalam keadaan lupa maka tidak batal. Apabila seseorang jima di malam hari atau mimpi basah lalu masuk subuh dalam keadaan junub maka tidak batal.

5. Menahan diri dari istimna yaitu mengeluarkan mani secara sengaja dengan jima atau tidak, sesungguhnya hal itu membatalkan puasa. Puasa tidak batal sebab mencium atau memeluk istri selagi tidak keluar mani, akan tetapi hal itu dimakruhkan kecuali bagi orang lanjut usia atau orang yang dapat menguasai hasratnya, maka tidak masalah baginya mencium atau memeluk istri namun lebih utama ditinggalkan.

6. Menahan diri dari mengeluarkan muntahan. Sengaja muntah itu merusak puasa. Bila tanpa sengaja muntah maka tidak batal puasanya. Apabila seseorang menelan dahak yang berada di tenggorokan atau dadanya maka tidak membatalkan karena itu adalah keringanan sebab umumnya hal itu. Kecuali bila dahak tersebut sudah berada dimulut (keluar tenggorokan) lalu ditelan kembali maka membatalkan.


Penulis: Ust. Nidhom Subh
Editor: Ikbal Ferdiyal
Sumber: Tafaqquh.com


comments