Rabu, 19 Juni 2019

(K) rinok


Sabtu, 10 November 2018 | 11:29:12 WIB


/

PADA zaman millennial ini, manusia cenderung memilih hal-hal yang praktis untuk memenuhi kebutuhan. Kegiatan perniagaan contohnya, proses transaksi dipermudah dengan kecanggihan teknologi. Teknologi ini seperti dua sisi mata uang, bisa berdampak positif atau negatif bagi masyarakat. Positifnya sangat membantu masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan, sedangkan negatifnya dapat menimbulkan penyakit-penyakit sosial baru, salah satunya hoax. 

Tak hanya itu kecanggihan teknologi pada era modern saat ini juga mengancam kontinuitas seni-seni tradisi. Sudah menjadi fenomena umum bahwa banyak anak muda yang sudah tidak tertarik oleh seni-seni tradisi, karena dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Salah satu cara agar anak muda mau mengapresiasi seni tradisi adalah dengan membuat seni dalam bentuk-bentuk yang baru.

Rinok, merupakan komposisi musik eksperimental karya Defni Aulia, yang dipertunjukan di Teater Arena Taman Budaya Jambi 01 September 2018, syarat akan nilai-nilai kemodernan dan tradisi. Pada saat itu saya menjadi saksi dari pertunjukan tersebut. Pertunjukan diawali dengan pembawa acara membacakan sinopsis karya, dan lampu di ruang pertunjukan semakin redup. Rinok dalam bahasa Jawa lama berarti kacau. 

Perasaan yang diungkapkan ketika kekacauan yang dialami antara lain emosional, marah, linglung, dan kesal, dimana perasaan yang diutarakan bersifat ambigu, dan samar-samar. Begitulah sinopsis yang dibacakan.

Pertunjukanpun dimulai.  Penerangan berwarna biru dan kuning menyinari panggung. Pengkarya berpenampilan rapi berdiri di atas panggung kecil berbaluti kain hitam. Canang (kelintang perunggu) terletak di samping kanannya. Standbook terpapar di sebelah kanan depan. 

Komposisi musik Rinok ini digarap menggunakan gaya ekspresionisme yang merupakan jenis seni yang sangat egosentris dan subyektif. Maka yang dimaksudkan dengan istilah ekspresionisme yakni bukan materi (bentuk, warna dan cahaya, dan realitas atau simbol), melainkan manusia sendiri yang dapat menggunakan materi ini untuk mengekspresikan diri (Mack, 1995). 

Dalam komposisi ini bukan musiknya yang disebut ekspresionisme, melainkan musik digunakan pengkarya untuk mengungkapkan perasaan dalam diri. Jadi, pengkarya mengekspresikan kekacauan dihati melalui media suara manusia yaitu, jeritan, rintihan, gumaman, hentakan, dan didukung efek dentuman, lengkingan, pantulan, dan distorsi dari synthesizer (instrument musik digital yang hampir dapat menghadirkan semua suara alat musik). 

Perubahan ekspresi dan tempo dalam Rinok sangat ekstrem. Pengkarya menghadirkan suara-suara  berekspresi forte (keras) dan dengan tiba-tiba berekspresi piano (lembut). Dinamika bunyi juga kadang-kadang terdengar dari lembut menuju semakin keras (crescendo) dan sebaliknya dari kuat menjadi semakin lemah (decrescendo). Pola ritme dalam Rinok terasa berjalan dengan tempo lambat, namun seketika bergerak cepat. Accelerando (tempo semakin cepat) juga dihadirkan dalam komposisi musik ini.    

Pengkarya mengadopsi karakter nyanyian tradisi Krinok ke dalam musiknya. Pengkarya menghadirkan beberapa motif melodi Krinok dan pola ritmis dari kesan pukulan Krinok dengan menghentakan kaki, menepukan tangan ke paha, dan memukul canang. Dari segi konsep terdapat kemiripan antara Rinok dan Krinok, sama-sama mengungkapkan perasaan dan menggunakan musik sebagai media ekspresi.  Namun, karakter Krinok dalam komposisi ini terasa samar.

Dalam ranah musik Jambi, beberapa pengkarya telah menginovasi nyanyian Krinok menjadi komposisi musik baru. Beberapa arranger (penata musik) menggarap Krinok bergaya popular ,salah satunya Masykur Syafei yang mengaransemen Krinok menjadi lagu pop daerah. Melodi Krinok juga diadopsi kedalam musik tari, salah satunya iringan tari Tapak Khadam garapan Uswan Hasan yang ditampilkan pada Pameran dan Pergelaran Seni XIX se - Sumatera di Taman Budaya Jambi. 

Krinok juga diangkat dalam komposisi musik berjudul Krinok Rockerstra karya Donny Kurniawan, ditata untuk memenuhi tugas akhir minat penciptaan musik Strata Satu (S1) di Institut Seni Indonesia Padang Panjang. Berjudul Krinok Rockerstra karena karya ini bergaya rock dan dimainkan oleh orkestra. 

Hadirnya karya Rinok dalam hal ini memberikan warna baru untuk ranah kesenian khususnya musik di Jambi. Dalam karya Rinok terlihat bagaimana unsur-unsur modern dan tradisi dapat berdampingan menjadi satu kesatuan.

Dengan demikian untuk membuat karya musik tersedia banyak bahan dan medium (media) sehingga sangat mungkin untuk menghasilkan karya-karya baru dan inovatif. Karena karya seni (musik) merupakan gambaran pengetahuan, pikiran, dan perasaan pengkarya yang dihasilkan melalui metode tertentu. Perwujudannya dapat dimulai dari pengamatan terhadap objek, dilanjutkan dengan pemaknaan pengkarya terhadap pengalaman yang diperoleh untuk menemukan ide. Lalu, gagasan hadir dalam angan-angan pengkarya sebagai rancangan bangunan artistik yang akan diwujudkan dalam bentuk karya musik (Baca Sunarto, 2013).

*) Mahasiswa Program Studi Seni Drama Tari dan Musik Universitas Jambi


Penulis: Muhammad Al Fath
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments