Minggu, 22 September 2019

Melihat "Kini" Dalam Fighting Space


Sabtu, 29 Desember 2018 | 16:22:06 WIB


/

Oleh: Amor Seta Gilang Pratama*)

 

TIDAK seperti biasanya, pada malam tanggal 26 Desember kemarin teater arena Taman Budaya Jambi sepi penonton. Padahal pukul 20.00 WIB akan disajikan pertunjukan musik dari Komunitas Muarodvipa dalam rangka menyambut HUT Provinsi jambi. Hanya tribun depan panggung yang terisi penonton, itupun masih menyisakan kursi kosong.

Di dalam gedung pertunjukan, sayup-sayup terdengar suara penonton yang mengomentari setting panggung. Penampakan yang tidak umum bagi mereka. Bagaimana tidak, di atas panggung terlihat belasan smartphone digantung menggunakan tali berwarna putih pada gawang-gawangan yang tingginya kurang lebih170cm. Selain itu juga tampak alat musik trombon dan trompet diletakkan di lantai panggung disertai oleh stand partiture. 

Pukul 19.55 WIB pembaca sinopsis memulai acara. Setelah itu, pertunjukan dimulai dengan bunyi-bunyi dari smartphone-smartphone yang digantung. Dua musisi muncul dari belakang panggung memasuki panggung. Musisi pertama duduk menghadap gawang-gawangan sembari memainkan smartphone, dan musisi kedua mengambil trombon lalu meniupnya dengan nada-nada yang terkesan tak berpola.

Musisi yang duduk menghadap gawang tadi sesekali berdiri memainkan belasan smartphone secara bergantian. Lalu berpindah duduk disamping gawangan dan bermain Mobile Legend dimana suara dari aplikasi game tersebut telah terhubung ke speaker.

Musisi yang memainkan trombon tetap dengan nada-nada yang terkesan tak berpola. Setelah beberapa waktu trombon diletakkan lalu ganti memainkan trompet, dan beberapa saat memudian sang musisi kembali memainkan trombon.

Cuplikan pertunjukan tersebut merupakan bagian dari karya musik Fighting Space. Karya musik yang dimainkan oleh dua orang dosen Sendratasik Unja ini cukup menarik. Mereka mencoba memunculkan fenomena “ruang” dalam kehidupan kini, dimana perkembangan teknologi menjadi kebutuhan yang penting dalam hidup. Teknologi memunculkan ruang-ruang baru yang bersifat virtual dan mendistorsi realitas.

Efek dari teknologi khususnya smartphone adalah menciptakan ruang virtual dan menghilangkan ruang konvensional. Hal yang paling sering terjadi ketika kita sedang berkumpul, alih-alih mengobrol justru asyik memainkan smartphone masing-masing. Tiap-tiap individu menciptakan ruang-ruang tertentu (game, chating, stalking, browsing, dan lain-lain) dan “ruang” obrolan hilang.

Pada akhirnya smartphone menyebabkan ketergantungan atau candu. Hal ini terlihat pada segmen ketika musisi berdiri dan memainkan belasan smartphone secara bergantian. Tindakan tersebut menyiratkan bahwa teknologi menjadikan candu, manusia tidak dapat lepas dari gawai akibat pesona ruang-ruang yang ditawarkan.

Manusia diberi "sensasi" dan akhirnya terlena. Dalam candu tersebut muncul ruang-ruang tertentu. Ruang media sosial contohnya (Instagram, youtube, twitter, facebook, whatsapp, dan lain-lain), mengkonstruksi kesadaran untuk menunjukan eksistensi diri. Efeknya, hal-hal yang bersifat pribadi sudah mati, yang dulunya ruang privasi berubah menjadi konsumsi.

Di sisi lain dengan banyaknya ruang yang diciptakan untuk dinikmati, namun manusia juga terus diawasi, dipantau, ditandai, dan dikontrol. Ketika di area parker diawasi cctv, sirkulasi email dipantau google, data-data pribadi sudah ditandai, mengeluarkan pendapat juga dikontrol. Kondisi seperti ini memunculkan ruang lain yang menimbulkan kecemasan, kehati-hatian, ketak-bebasan dan kontras dengan ruang-ruang yang menawarkan kebebasan diri, argumentasi, dan eksistensi.

Dalam musik sendiri pun terdapat ruang. Musik hadir pada ruang-ruang tertentu. Ketika ke mall kita diperdengarkan musik, masuk ke toko buku disuguhkan musik, menggunakan mesin ATM diperdengarkan musik, bahkan hingga jajan di kaki lima masih juga bertemu musik.

Musik di tempat-tempat tersebut memiliki tujuan untuk membangun ruang-ruang yang diharapkan, seperti rasa nyaman, santai, menghibur, dan lain-lain. Ini pertanda bahwa keadaan ruang mempengaruhi pemilihan musik, dan musik dapat membangun ruang.

Dalam pertunjukan Fighting Space, terlihat kedua musisi mencoba mengeksplorasi dan menciptakan ruang yang berbeda. Masing-masing musisi mengkesplorasi instrumen yang dimainkannya. Musisi pertama mengkonstruksi ruang dengan mengeksplorasi smartphone.

Menariknya, smarphone tidak lepas dari bunyi. Tiap-tiap aplikasi, seperti whatsApp, Instagram, email, game, alarm, telepon, sms, dan sejenisnya tidak lepas dari bunyi notifikasi (pemberitahuan). Bunyi-bunyi tersebut memiliki sensasi, contohnya bunyi-bunyi pada game. Hal inilah yang menjadi ranah untuk dieksplorasi oleh musisi pertama.

Musisi kedua mengekplorasi nada, ritme, timbre, dari instrumen trombon dan trompet. Sesekali sang musisi memainkan nada dalam ritme-ritme pendek, atau memainkan nada-nada yang panjang. Mengkontraskan nada rendah dengan nada tinggi secara tiba-tiba, serta hanya meniup-niup mouth piece (bagian pangkal pada alat musik tiup) untuk mencari timbre.

Dua ruang yang dihasilkan oleh masing-masing musisi pada nyatanya juga terbingkai dalam satu ruang pertunjukan di tempat dan waktu yang sama. Ruang yang mereka bangun menawarkan imajinasi dan sensasi yang berbeda. Hal ini tentunya akan dirasakan berbeda oleh masing-masing penonton.

Di lain sisi, secara visual kostum yang mereka kenakan juga kontras dan menyiratkan perbedaan ruang. Musisi pertama mengenakan pakaian yang terkesan santai dengan memakai kemeja santai, celana levis panjang, sepatu keds, dan topi. Sedangkan musisi kedua mengenakan pakaian formal, yaitu kemeja panjang hitam, celana panjang hitam, disertai dasi dan sepatu kulit hitam, laiknya seorang musisi musik klasik barat.

Sadar atau tidak sadar, pakaian yang kita kenakan pasti menyesuaikan dengan ruang bukan? Pakaian pesta akan berbeda dengan pakaian untuk mendaki gunung.

Dalam karya Fighting Space komunitas Muarodvipa mencoba "bermain-main" dengan ruang pada konteks sekarang ini. Penonton disuguhkan bunyi-bunyi dari ruang yang berbeda, ruang virtual dan ruang nyata. Karya Fighting Space menggambarkan realitas ke-ruang-an pada penonton, sehingga penonton disadarkan tentang ke-tak-kuasaan manusia mengontrol ruang-ruang teknologi.

Manusia bukan lagi menjadi subjek, seolah-olah telah menjadi objek. Kehidupan manusia kini terbagi antara yang nyata dan yang virtual. Manusia mengalami alienasi dan krisis identitas.

Namun tampaknya karya Finghting Space ini belum selesai. Ibarat kalimat, karya ini belum mencapai titik. Terlihat pada bagian akhir karya yang berdurasi kurang lebih 30 menit ini terkesan kurang maksimal. Mungkin akan ada lagi karya lanjutan dari komunitas Muarodvipa, dengan isu yang sama dan lebih berkembang, serta ekplorasi bunyi yang lebih maksimal. Patut dinantikan!

*) Dosen Prodi Sendratasik FIB Universitas Jambi


Penulis: Amor Seta Gilang Pratama
Editor: Herry Novealdi


TAGS:


comments