Kamis, 18 Juli 2019

Situasi Ketenagakerjaan Provinsi Jambi Terkini


Selasa, 07 Mei 2019 | 11:37:52 WIB


/ istimewa

Oleh : Syaeful Muslih *)

HARI Senin, 6 Mei 2019, Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi merilis data ketenagakerjaan terbaru. Dalam keterangan persnya, BPS Provinsi Jambi mencatat bahwa dalam setahun terakhir, jumlah orang yang menganggur mengalami penurunan sebanyak 2,79 ribu orang.

Begitu juga dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami penurunan sebesar 0,03 persen poin, dari sebelumnya 3,65 persen pada Februari 2018 menjadi 3,62 persen pada Februari 2019.

Tentu saja berita tersebut merupakan kabar gembira dari suatu capaian pemerintah baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat terkait dengan kebijakan program ketenagakerjaan khususnya di tengah situasi politik pada tahun 2019.

Seperti diketahui konsep pengangguran yang digunakan oleh BPS mengacu pada konsep internasional yang dikeluarkan oleh Internastional Labour Organisation (ILO) agar bisa diperbandingkan antar negara.

Berdasarkan metode tersebut maka yang dimaksud pengangguran adalah mereka yang tak punya pekerjaan dan mencari pekerjaan.; Mereka yang tak punya pekerjaan dan mempersiapkan usaha; Mereka yang tak punya pekerjaan dan tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan. Serta mereka yang sudah punya pekerjaan, tetapi belum mulai bekerja.

Jadi dari definisi tersebut apabila seseorang tidak mempunyai pekerjaan, namun juga tidak aktif mencari pekerjaan, orang tersebut tidak bisa dikatakan sebagai seorang pengangguran.

Penduduk bekerja

Ada situasi menarik dari data ketenagakerjaan terbaru tersebut, dimana jumlah penduduk bekerja pada Februari 2019 menurun sebanyak 58,3 ribu orang, sama halnya jumlah pengangguran juga menurun 2,79 ribu orang. Sehingga jumlah angkatan kerja yang merupakan penjumlahan penduduk yang bekerja dan pengangguran juga mengalami penurunan.

Kondisi tersebutlah yang membuat penurunan tingkat pengangguran begitu lambat yang hanya 0,03 persen poin, kalau misalnya saja jumlah penduduk bekerja tidak mengalami penurunan sebesar itu maka kemungkinan besar tingkat pengangguran terbuka akan menurun lebih cepat.

Besarnya penurunan penduduk bekerja bisa dipahami karena struktur tenaga kerja di Provinsi Jambi yang masih sangat dipengaruhi oleh besarnya proporsi penduduk yang berusaha dibantu buruh tidak tetap, dan pekerja keluarga/tidak dibayar, dimana kedua status pekerjaan tersebut banyak bekerja di sektor pertanian.

Pekerja keluarga akan sangat dipengaruhi oleh kondisi dari usaha pekerja utamanya, ketika penduduk yang berusaha dibantu buruh tidak tetap mengalami penurunan yang begitu besar, maka pekerja keluarga juga akan mengalami penurunan.

Data periode Februari 2019 menunjukan hal ini, dimana penduduk yang berusaha dibantu buruh tidak tetap menurun sebanyak 42,65 ribu orang, diikuti juga dengan penurunan pekerja keluarga sebanyak 27,38 ribu orang. Serta penurunan jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian yang turun sebanyak 57,12 ribu orang.

Pentingnya Partisipasi Angkatan Kerja

Menurunnya penduduk bekerja dan pengangguran yang ternyata menurunkan jumlah angkatan kerja berimbas pada menurunnya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Pada periode Februari 2019, TPAK Provinsi Jambi sebesar 67,64 persen, atau menurun 3,62 persen poin dibandingkan dengan Februari 2018 yang sebesar 71,26 persen.

Indikator TPAK ini sebetulnya mengindikasikan besarnya persentase penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi disuatu wilayah. Dimana semakin tinggi TPAK menunjukkan bahwa semakin tinggi pula pasokan tenaga kerja (labour supply) yang tersedia untuk memproduksi barang dan jasa dalam suatu perekonomian.

Biasanya TPAK ini ada ketimpangan antara laki-laki dan perempuan, data terakhir menunjukan bahwa TPAK laki-laki sebesar 82,26 persen, sedangkan TPAK perempuan sebesar 52,37 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa keaktifan perempuan dalam kegiatan ekonomi masih rendah.

Kondisi ini menjadi tantangan kedepan bagi pemerintah, bagaimana merumuskan kebijakan yang mendukung perempuan untuk aktif secara ekonomi di pasar kerja, karena potensi perempuan di provinsi jambi ini sangat besar.

Dari data periode agustus 2018, ada sebanyak 31,6 ribu perempuan berpendidikan tinggi tidak aktif di pasar kerja, hal ini juga yang membuat TPAK perempuan berpendidikan tinggi juga hanya berkisar sebesar 55,70 persen. Bandingkan dengan TPAK laki-laki yang berpendidikan tinggi sudah mencapai 87,90 persen, jelas terdapat gap yang sangat besar.

Tantangan Ketenagakerjaan Kedapan

Rendahnya TPAK perempuan bisa menjadi potensi yang masih bisa diungkit, Apabila potensi perempuan tersebut lebih dioptimalkan, terutama membentuk suatu usaha bukan sebagai pekerja keluarga, akan menghasilkan dampak yang besar pada kesejahteraan keluarga dan perekonomian Provinsi Jambi secara makro.

Sektor lapangan pekerjaan yang menyerap tenaga kerja yang banyak seperti manufaktur yang biasanya mengggunakan sistem jam kerja shift (pergantian antar waktu) bisa menjadi daya penarik untuk perempuan aktif di pasar kerja, karena peran perempuan sebagai ibu rumah tangga yang tidak bisa memenuhi jam kerja yang penuh.

Sistem kerja rumahan (home worker) juga bisa jadi alternatif, dimana perempuan diberikan pekerjaan untuk dikerjaan di rumah pekerja. Sistem seperti ini banyak dijumpai pada industri konveksi, hal ini lah bisa jadi yang seyogyanya dikembangkan di Provinsi Jambi.

Namun memang, apabila hanya mengejar capaian indikator makro ketenagakerjaan seperti Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang sudah sebesar 3,62 persen, bisa jadi pemerintah akan merasa sudah puas. Sekali lagi, tergantung dari indikator mana yang ingin dikejar atau dicapai di masa yang akan datang.

Penulis adalah statistisi BPS Provinsi Jambi


Penulis: Syaeful Muslih
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments