Kamis, 27 Juni 2019

Dampak THR Terhadap Perekonomian Indonesia


Sabtu, 11 Mei 2019 | 11:47:29 WIB


/

BULAN Ramadhan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim di dunia tak terkecuali di Indonesia. Setiap bulan Ramadhan setiap orang berbondong-bondong untuk melipatgandakan pahalanya. Pada momen ini juga ada perihal yang selalu dinanti oleh pegawai negeri sipil (PNS) maupun pegawai swasta yaitu Tunjangan Hari Raya (THR). Hal tersebut pasti tidak luput dari perhatian dan menjadi sorotan pada momen Ramadhan kali ini. 

Pada Ramadhan tahun 2019 Tunjangan Hari Raya (THR) untuk pegawai negeri sipil (PNS) telah dipastikan akan cair tanggal 24 Mei 2019. Hal ini telah dipastikan dengan ditandatanganinya payung hukum yang menjadi dasar pelaksanaan kebijakan THR PNS oleh Presiden Joko Widodo. THR PNS yang diberikan tahun ini akan mengikuti peraturan gaji pokok PNS yang berlaku saat ini.

Pemerintah pada tahun 2019 telah menyediakan anggaran sebesar Rp 20 triliun untuk tunjangan hari raya (THR) dan Rp 20 triliun untuk gaji ke-13. Jumlah tersebut meningkat 4,24 triliun dari tahun 2018 di mana besaran tunjangan hari raya (THR) dan gaji ke-13 sebesar Rp 35,76 triliun.

Kenaikan anggaran ini disebabkan peningkatan gaji pegawai negeri sipil (PNS) sebesar 5 persen. Tunjangan Hari Raya (THR) untuk pegawai swasta menurut keterangan dari Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri dikutip dari detikFinance Rabu (8/5/2019) meminta perusahaan membayar tunjangan hari raya (THR) paling lambat tujuh hari (H-7) sebelum Hari Raya Idul Fitri/Lebaran. Hal ini sesuai dengan Peraturan Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016. Lantas apa pengaruh pemberian tunjangan hari raya (THR) ini kepada perekonomian Indonesia?

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah optimistis peningkatan THR akan langsung berdampak pada konsumsi masyarakat.
Bahkan, menurut dia, dampaknya sudah terasa meskipun THR belum direalisasikan.

Sebab, ekspektasi masyarakat yang akan menerima pemasukan tambahan mendorong rencana belanja. "Coba kalau tidak dijanjikan THR, masyarakat tidak ada rencana untuk belanja dulu. Kalaupun ada rencana belanja anggarannya terbatas," ujarnya dikutip dari CNNIndonesia.com, Kamis (9/5/2019).

Tidak seperti alokasi bantuan sosial (bansos) yang menyasar masyarakat tidak mampu, alokasi tunjangan hari raya (THR) justru diberikan kepada seluruh golongan. Sementara, secara kontribusi, masyarakat tidak mampu penerima bansos hanya menyumbang 20 persen terhadap konsumsi rumah tangga secara keseluruhan. Dengan diberikannya tunjangan hari raya (THR) akan berdampak pada ekonomi dengan meningkatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga.

Pada kuartal I pertumbuhan konsumsi rumah tangga tercatat sebesar 2,76 persen. Diharapkan dengan pemberian tunjangan hari raya (THR) akan mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2019 dikarenakan sebagian besar PDB disusun oleh konsumsi rumah tangga. Sebagai catatan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi tumbuh 5,27 persen pada kuartal II 2018, di mana konsumsi berkontribusi sebesar 53,69 persen dengan pertumbuhan 5,14 persen. Terdapat juga kenaikan pertumbuhan peredaran uang di daerah dikarenakan libur lebaran yang cukup panjang. Tunjangan hari raya (THR) yang diterima oleh pegawai negeri sipil (PNS) maupun swasta dapat menggerakan penjualan di sektor ritel, termasuk di daerah karena pegawai negeri sipil (PNS) maupun swasta tersebut membelanjakan uangnya. Peningkatan konsumsi akibat adanya tunjangan hari raya (THR) pada periode lebaran dan bulan Ramadhan juga dapat mengimbangi kegiatan investasi korporasi yang cenderung melambat dikarenakan banyaknya hari libur. Terdapat juga kelemahan dari pemberian tunjangan hari raya (THR) di mana dampak tunjangan hari raya (THR) pada peningkatan konsumsi dapat mengecil jika tunjangan tersebut disimpan untuk dijadikan tabungan.

Tunjangan hari raya (THR) yang diberikan kepada pegawai negeri sipil (PNS) dan swasta pada tahun 2019 diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Dengan meningkatnya daya beli masayarakat maka, konsumsi masyarakat akan naik dan memberikan angin segar terhadap sektor ritel pakaian, makanan minuman, bahkan transportasi.

Penulis adalah Mahasiswa PKN STAN


Penulis: Adi Mulyo Wicaksono
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments