Sabtu, 25 Mei 2019

Kultum Ramadhan: Ketika Setan Menjadi Teman


Senin, 13 Mei 2019 | 11:49:21 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

SALWA al-Udlaidan menyebutkan kisah dalam bukunya "Hakadza hazamu al-Yasa" bahwa ada seorang salaf yang rontok semua rambut kepalanya, belang kulitnya, buta kedua matanya, dan lumpuh kedua tangan dan kakinya. Meskipun begitu keadaannya, dia berucap, “Alhamdulillah yang telah menyelamatkan aku dari penyakit yang menimpa kebanyakan dari makhluk-Nya, dan melebihkan keadaanku dari keadaan mereka.”

Mendengar ucapan ini, seseorang keheranan dan bertanya, “Dari penyakit apa Allah menyelamatkan Anda, sedangkan Anda dalam keadaan buta, belang, rontok rambut kepala dan lumpuh? Nikmat manakah yang Allah lebihkan Anda dari orang lain?” Iapun menjawab, “Wahai kisanak, Allah telah menjadikan lisanku sehat untuk berdzikir, hati yang bisa bersyukur dan badan yang sabar menanggung cobaan.” Lalu ia membaca firman Allah Taala,

"Barangsiapa yang berpaling dari mengingat ar-Rahman, Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya." (QS az-Zukhruf 36)

Begitulah orang yang telah merasakan kecintaan kepada Allah dan manisnya ketaatan kepada-Nya. Yang menjadikan keridhaan Allah sebagai barometer keberuntungan dan kebahagiaan. Apapun derita fisik dan cobaan duniawi terasa ringan selagi ia dekat dengan Allah. Ini mengingatkan kita akan ‘curhat Nabi shallallahu alaihi wasallam saat dakwahnya ditampik oleh penduduk Thaif, bahkan dibalas dengan perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Beliau berdoa,

"Ya Allah, kepada-Mu kuadukan lemahnya kekuatanku, kekurangan siasatku dan kehinaanku di hadapan manusia wahai Yang paling pengasih di antara para pengasih. Ya Arhamar Raahimin, kepada siapa hendak Kau serahkan diriku, apakah orang jauh yang membenciku atau kepada musuh yang menguasaiku, selagi Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli. Karena teramat luas afiat yang Engkau limpahkan kepadaku." (HR Thabrani)

Segala musibah itu kecil, selagi Allah ridha terhadapnya. Karena dampak dari keridhaan Allah adalah kebahagiaan hakiki yang lebih nyata, sempurna dan lestari selamanya. Begitu pula sebaliknya, tidaklah berarti segala kenikmatan dunia dimiliki sementara Allah murka terhadapnya. Hatinya akan gelisah tak jelas pangkal dan ujungnya. Hati akan diliputi kegelisahan, dan cepat atau lambat Allah akan mencabut nikmatnya dan menggantikannya dengan niqmah (bencana).

Maka tak ada musibah yang lebih besar bagi manusia, melebihi musibah berupa jauhnya ia dari Allah. Ketika ia tidak mau mendekat kepada Allah, tidak mau mengingat dan mengindahkan titah dan larangan-Nya, maka Allah menguasakan mereka kepada setan. Inilah sunnatullah yang berlaku sebagai balasan yang setimpal bagai orang yang tak mau diuntung.

Pernah suatu kali Sufyan bin Uyainah berkata, “Tidaklah ada kata-kata bijak yang masyhur di kalangan Arab, melainkan saya bisa menyebutkan firman Allah yang lebih bagus tentangnya.” Lalu seseorang berkata, “Bagaimana dengan kata-kata, “Athi akhaka tamratan, fainlam yaqbal fathihi jamratan”, berilah saudaramu tamrah (kurma), jika tidak mau menerima, beri saja jamrah (bara api), ayat mana yang semisal dengan ini?”

Maka beliau membacakan firman Allah Taala,

Barangsiapa yang berpaling dari mengingat ar-Rahman, Kami adakan baginya seitan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. az-Zukhruf: 36)

Ketika seseorang tidak mau diuntung dengan cara mendekat dan taat kepada Allah, maka ia akan menjadi buntung, tersesat dalam tawanan setan. Nabi shallallahu alaihi wasallam juga menyebutkan, ketika segolongan manusia enggan menegakkan shalat jamaah yang merupakan bentuk taqarrub kepada Allah yang paling nyata, maka Allah biarkan setan akan menguasai mereka,

“Tiada tiga orang dalam satu desa, atau pegunungan, lalu tidak ditegakkan shalat jamaah di tengah mereka, melainkan setan akan menguasai mereka. Maka hendaklah kalian berjamaah, karena sesungguhnya serigala akan memangsa kambing yang sendirian.” (HR Abu Dawud)

Musibah mana yang lebih besar dari musibah manusia yang telah ditawan oleh setan, hingga setanlah yang menjadi pemimpinnya, yang mengarahkan langkah dan memandu jalannya. Telah nyata bahwa setan adalah musuh sejati manusia, sama sekali tak berpihak kepada manusia, dan tak sedikitpun bermaksud baik kepadanya. Setiap intruksi dan order dari setan terhadap pengikut dan tawanannya adalah uapaya menggiring mereka menuju jurang binasa. Allah berfirman,

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni naar yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)

Wallahu alam bishshawab.


Penulis: Ust. Abu Umar Abdillah
Editor: Ikbal Ferdiyal
Sumber: https://www.arrisalah.net/kultum-ramadhan-ketika-setan-menjadi-teman/


comments