Rabu, 22 Mei 2019

Seberapa Penting Sektor Pariwisata dalam Perekonomian?


Selasa, 14 Mei 2019 | 14:09:31 WIB


Glady Fiona
Glady Fiona / istimewa

Oleh : Glady Fiona *)

INDONESIA adalah negara yang kaya akan keindahan alam dan potensi pariwisata, mulai dari keunikan budaya sampai dengan warisan sejarah. Sektor pariwisata dalam pembangunan ekonomi Indonesia sudah layak mendapatkan perhatian yang cukup, terlebih belakangan ini peningkatannya cukup melesat. Pasalnya, hasrat untuk travelling bukan hanya menjadi kebutuhan kaum borjuis saja. Terlebih kepada generasi milenial yang menganggap kebutuhan akan aktualisasi diri di media sosial pun semakin marak.

Hal ini sebenarnya menjadi tantangan tersendiri kepada pemerintah, karena dengan antusias yang luar biasa harusnya didukung dengan fasilitas yang cukup. Seperti kemudahan untuk mencapai destinasi-destinasi wisata. Infrastruktur yang kurang yang memadai di Indonesia merupakan masalah yang berkelanjutan, bukan hanya akan meningkatkan biaya-biaya variabel sehingga membuat iklim investasi dinilai kurang menarik namun dapat mengurangi kelancaran dalam perjalanan wisata.

Sebagai perbandingan infrastruktur di Pulau Jawa dan Bali cukup layak. Namun ada beberapa wilayah Indonesia masih memerlukan perhatian, seperti di wilayah timur karena beberapa hal seperti kurangnya bandara, pelabuhan, jalan, dan hotel menjadikan mereka kurang begitu dilirik oleh wisatawan domestik maupun manca negara.

Permasalahan ini sebenarnya cukup menarik mengingat Presiden Joko Widodo pun meminta agar desain rancangan APBN 2020 disesuaikan dengan tantangan perekonomian, mengingat bahwa kondisi ekonomi global pada tahun 2020 masih berada pada ketidakpastian. Sehingga postur APBN tahun depan pun harus dirancang dengan sedemikian rupa sehingga dapat mengantisipasi dinamika perekonomian dunia yang terus berubah secara dinamis. Tak lupa beliau juga mengungkapkan bahwa investasi dan eskpor yang perlu diperkuat dalam menghadapi tantangan ini.

Menanggapi hal tersebut Menteri Keuangan pun telah memaparkan beberapa asumsi ekonomi makro untuk tahun pertama pemerintahan baru, diantaranya pertumbuhan ekonomi antara 5,3 persen hingga 5,6 persen untuk tahun 2020. Oleh karena itu, sektor konsumsi dan investasi diharapkan menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi dengan kisaran pertumbuhan antara 5,2 persen mendekati 7,5 persen.

Multiplier Effect

Komponen utama pada industri pariwisata adalah daya tarik wisata berupa destinasi, atraksi wisata dan kuliner daerah. Sementara komponen pendukungnya, mencakup industri-industri dalam bidang transportasi, penginapan, perbankan, dan lain sebagainya. Semuanya dapat dipacu dari industri pariwisata. Terlebih dengan fasilitas yang ditawarkan di era modern seperti ini justru pariwisata menjadi lahan yang sangat menjanjikan karena sektor ini memberikan multiplier effect yang tinggi. Apabila kita jabarkan beberapa masalah social ekonomi dapat berkurang dengan perbaikan dalam sektor pariwisata.

Pertama, dapat meningkatkan lapangan usaha. Sektor pariwisata menawarkan beberapa jenis pekerjaan yang memungkinkan warga lokal untuk memanfaatkan kesempatan ini. Lapangan usaha yang tumbuh pesat untuk memenuhi kebutuhan wisatawan cukup luas diantaranya, penginapan, transportasi, pemandu pariwisata (tour guide), cinderamata, pusat pembelanjaan, penukaran uang asing (money changer) dan atraksi kesenian lokal. Meningkatkan lapangan usaha dapat dimanfaatkan maka semakin luas lapangan kerja sehingga keuntungan ke dua yang kita dapatkan berupa berkurangnya angka pengangguran.

Ketiga, meningkatkan pendapatan daerah dan pemerintah, berupa belanja wisatawan domestik maupun manca negara. Pendapatan yang dibelanjakan akan meningkatkan penerimaan negara pada sektor pajak baik itu pajak pertambahan nilai yang diterima oleh pemerintah atau pajak yang nantinya diterima oleh pemerintah daerah seperti pajak hotel, pajak restoran dan pajak hiburan.

Berdasarkan data yang diperoleh dari BPS, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia Februari 2019 naik 6,12 persen dibanding jumlah kunjungan pada Februari 2018, yaitu dari 1,20 juta kunjungan menjadi 1,27 juta kunjungan. Kondisi ini merupakan potensi dalam meningkatkan penerimaan negara. Bukan tidak mungkin apabila sektor pariwisata nantinya juga mampu memperkuat ketahanan ekonomi. Hal ini bermula dari tourism (pariwisata) lalu akan terjadi trade (perdagangan) dan lahirlah investasi. Sehingga kedepannya diharapkan iklim investasi di Indonesia semakin baik.

*) Mahasiswi Politeknik Keuangan Negara STAN


Penulis: Glady Fiona
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments