Senin, 16 September 2019

Tren Cashless Society, Sebuah Pedang Bermata Dua


Selasa, 14 Mei 2019 | 14:31:39 WIB


ilustrasi
ilustrasi /

Oleh : Stefanus Ghawarangga *)

SEKARANG ini sudah bukan lagi menjadi hal yang asing lagi bagi kita mengenai tren Cashless Society. Sebuah tren dimana menggunakan transaksi non tunai dalam setiap transaksi pembayaran. Transaksi non tunai saat ini sedang menjamur di Indonesia, hal ini juga didukung dengan bukti bahwa Indonesia merupakan negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia. Hal tersebut merupakan pasar yang bagus bagi penyedia keuangan digital (financial technology/fintech).

Banyak perusahaan fintech yang ada di Indonesia. Sebut saja OVO dan Gopay yang merupakan 2 fintech besar di Indonesia yang gencar dengan promo cashbacknya, selain itu ada Dana, Doku, Kredivo dan lain sebagainya. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga memiliki perusahaan patungan di bidang ini yaitu LinkAja.

Prinsip transaksi pada layanan yang diberikan perusahaan fintech sama seperti dompet digital, namun lebih efisien karena pengguna bisa bertranksaksi lewat aplikasi. Pengguna diberikan kemudahan dalam bertransaksi dan juga lebih efisien karena tidak lagi harus bingung dalam menyimpan uang. Akan tetapi, tren Cashless Society ini dapat menjadi pedang bermata dua bagi penggunanya. Jika pengguna tidak memiliki tata kelola yang baik dalam hal keuangan maka tren Cashless ini akan menyebabkan pengeluaran yang membengkak.

Tren Cashless Society ini mendorong penggunanya menjadi lebih konsumtif dengan adanya promo promo yang diberikan. Salah satunya adalah OVO yang memberikan promo cashback hingga 60 persen. Tak berbeda dengan OVO, Gopay juga menawarkan program Pay Day yang memberikan cashback hingga 50 persen pada saat akhir bulan.

Kelebihan

Transaksi non tunai sebenarnya juga memiliki kelebihan. Pertama,transaksi non tunai lebih aman dikarenakan memerlukan pin atau kode khusus dalam transaksi. Andai kata handphone kita hilang, uang pada dompet digital kita juga tidak otomatis hilang. Kedua, dari segi kepraktisan. Transaksi non tunai menjadi lebih efisien karena kita tidak harus menyiapkan ruang yang banyak untuk membawa uang kita. Ketiga, penggunaan transaksi dapat mengurangi adanya uang palsu karena transaksi dilakukan menggunakan dompet digital dan juga ini berarti anggaran Bank Indonesia untuk mencetak uang dapat dikurangi. Namun, dibalik dengan kelebihan yang ditawarkan oleh tren Cashless Society ini ternyata terdapat kekurangan yang tidak dapat kita abaikan begitu saja.

Kekurangan

Pertama, tanpa adanya pengelolaan keuangan yang baik maka tren Cashless Society akan membuat masyarakat semakin konsumtif dikarenakan adanya promo cashback yang diberikan. Hal ini tentunya membuat masyarakat akan semakin susah untuk berinvestasi. Kedua, karena transaksi ini mengandalkan teknologi maka jika terdapat gangguan tentunya masyarakat akan merasa kesulitan dalam melakukan transaksi.

Hal ini tentunya harus menjadi perhatian bagi kita semua bahwa pada dasarnya penggunaan dompet digital sama seperti uang tunai pada umunya. Selalu tertib untuk melakukan investasi dan tabungan terlebih dahulu pada saat menerima gaji. Sebaiknya kita membedakan rekening utama dan rekening untuk mengisi kebutuhan dompet digital. Karena sejatinya, teknologi memiliki hal positif dan negatif, tergantung bagaimana kita menyikapinya.

*) Penulis adalah Mahasiswa PKN STAN


Penulis: Stefanus Ghawarangga
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments