Rabu, 13 November 2019

Marak Uang Elektronik, Bagaimana Pengaruhnya?


Selasa, 14 Mei 2019 | 14:37:21 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

Oleh: Hafizh Yusma Pratama *)

PERKEMBANGAN pesat teknologi informasi di era digital telah memberikan dampak yang besar bagi masyarakat, salah satunya uang elektronik atau e-money. Uang elektronik tentu sudah bukan barang asing bagi masyarakat Indonesia. Hampir semua orang setidaknya pernah menggunakan layanan uang elektronik, apalagi semenjak maraknya penggunaan smartphone di tanah air. Transaksi elektronik semakin mempermudah kebutuhan transaksi masyarakat di era ekonomi digital, mulai dari kebutuhan transfer hingga jual beli, sehingga masyarakat tidak perlu lagi repot-repot mengantongi uang fisik dalam jumlah banyak.

Uang elektronik dibagi menjadi dua jenis. Pertama, uang elektronik berbasis Kartu fisik (chip), contohnya kartu e-Money, Flazz, Brizzi, dll. Kedua, uang elektronik berbasis server (e-wallet), contohnya Paypal, Gopay, Grabpay, Ovo, dll. Keduanya tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kartu fisik (chip) memiliki waktu penggunaan yang relatif cepat, cukup tap dan transaksi selesai dalam berberapa detik, tanpa mermerlukan pin atau password. Kartu fisik dapat dengan mudah dipindah tangankan, namun saldo yang ada pada kartu tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), sehingga apabila kehilangan kartu uang elektronik, maka hilang sudah saldo yang telah di top-up. Sedangkan uang elektronik berbasis software memerlukan software khusus yang dijalankan pada gadget personal seperti smartphone atau komputer tablet, agar dapat melakukan pembayaran diperlukan koneksi internet, sehingga gadget senantiasa terhubung dengan server yang mengendalikan seluruh kegiatan transaksi pembayaran. Tidak perlu memiliki banyak kartu, cukup dengan satu gadget, kita dapat memasang berbagai macam software uang elektronik. Apabila gadget hilang, saldo uang elektronik tidak akan seketika lenyap, namun apabila sinyal jelek, kudu siap untuk menunggu lebih lama.

Cikal bakal uang elektronik dimulai pada tahun 1860 dimana Western Union memperkenalkan electronic funds transfer (EFT) yang mana menandai dimulainya era uang elektronik. Di Indonesia penggunaan uang elektronik mulai populer pada tahun 2007 yang pada saat itu diterapkan oleh salah satu bank swasta di Indonesia. Peraturan mengenai penggunaan uang elektronik di Indonesia sendiri tertuang pada Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009 tanggal 13 April 2009 tentang Uang Elektronik (Electronic Money). Makin maraknya penggunaan uang elektronik di Indonesia membuat jumlah penyedia jasa pembayaran secara elektronik melesat, beragam korporasi baik BUMN maupun swasta berlomba lomba mengembangkan uang elektronik. Masyarakat pun dimanjakan dengan berbagai promo menarik, hal ini mendorong gaya hidup proaktif tanpa uang tunai atau cashless society di tengah-tengah masyarakat Indonesia, khususnya generasi milenial. Budaya transaksi non tunai telah merambah ke berbagai sektor ekonomi di Indonesia, mulai dari berbelanja, pembayaran tagihan, pariwisata, transportasi, restoran hingga warung kecil di pinggir jalan. Mengutip dari laman Bank Indonesia, hingga Maret 2019 tercatat lebih dari 199 juta jumlah uang elektronik yang beredar.

Saat masyarakat telah terbiasa dengan pembayaran elektronik maka hal itu tidak saja merubah satu budaya pembayaran namun juga akan merubah banyak sekali perilaku. Sebagai contoh adalah hilangnya profesi petugas pintu tol. Sejak pemberlakuan sistem pembayaran elektronik, transaksi pembayaran dan membuka portal tol kini telah di otomatisasi. Tidak hanya itu, berbepa profesi seperti petugas penjual dan pemeriksa tiket, petugas loket pembayaran, kasir minimarket, bahkan teller bank, mungkin saja fungsinya akan tergantikan seperti petugas pintu tol. Hal lain yang akan terpengaruh oleh perkembangan uang elektronik adalah ATM (Automatic Teller Machine), jika dulu masyarakat harus mengantri berlama-lama hanya sekedar untuk menyimpan maupun mengirimkan uangnya yang berada di bank, maka sekarang sudah tidak perlu repot lagi dengan banyaknya gerai ATM. Namun fenomena menjamurnya gerai ATM juga diyakini tidak akan bertahan lama, seiring dengan berkembangnya sistem mobile banking, lagi-lagi hanya dengan bermodalkan gadget yang dimiliki, melakukan transfer uang atau melakukan pembayaran semudah membalikan telapak tangan.

Melihat pesatnya perkembangan penggunaan uang elektronik yang terjadi serta kebijakan pemerintah yang mendukung bukan tidak mungkin bahwa belasan tahun kedepan, uang fisik sudah berkurang drastis keberadaanya, bahkan tidak digunakan sama sekali.

Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN


Penulis: Hafizh Yusma Pratama *)
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments