Minggu, 22 September 2019

Ulama di Jambi Gelar Multaqo Sikapi Situasi Pasca Pemilu, Ajak Masyarakat Jangan Terpecah Belah


Selasa, 14 Mei 2019 | 19:34:46 WIB


/ Metrojambi.com

JAMBI - Puluhan ulama, habib, pimpinan pondok pesantren, cendikiawan muslim, tokoh adat, dan tokoh masyarakat Jambi, Selasa (14/5/2019) sore, menggelar multaqo (pertemuan) di Hotel BW Luxury, Kota Jambi.

"Kita berkumpul di sini, sama-sama berdoa agar Jambi aman, damai, dan tenteram. Tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pasca Pilpres," kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jambi Hadri Hasan.

"Semoga silaturahmi ini dapat menciptakan rasa aman. Dan semoga negeri Indonesia ini mendapatakan barokah," ujarnya menambahkan.

Selaku pihak penyelenggara multaqo, Hadri Hasan menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang berkesempatan hadir. "Semoga pertemuan kita membawa manfaat," tutupnya.

Sementara itu, Ketua Nahdlatul Ulama Provinsi Jambi Aminullah Amid mengatakan, bahwa umat manusia harus tetap merajut kedamaian, jangan sampai terpecah belah.

"Kita sepakat untuk tetap menjaga kerukunan, kesejukan, dan kedamaian," ujarnya.

Ia pun mengimbau semua pihak untuk menyikapi segala permasalahan dengan kesejukan. "Jagan sampai kita terprovokasi untuk berbuat yang merusak kedamaian negeri Ini," tegasnya.

Ketua Muhammadiyah Provinsi Jambi Suhaimi Chan mengatakan, hari ini adalah hari yang istimewa bagi keluarga besar Majelis Ulama. "Karena yang hadir sore hari ini adalah kaum muslimin dan muslimat," ujarnya.

Ia pun mengajak masyarakat untuk tetap tenang dalam menyikapi hasil Pemilu 2019. Suhaimi juga bersyukur Pemilu 2019 di Jambi berjalan aman dan damai.

"Andaikata ada kekawatiran pada tanggal 22 (Mei, red) nanti, kita di Jambi tentu tidak akan terpancing dengan isu seperti ini, dengan adat yang bersendi syarat khitabullah," ungkapnya.

"Kita jadikan Jambi ini sebagai contoh tauladan bagi masyarakat luas. Andai kata ada selisih paham dalam Pemilu, tentu kita tidak akan berbuat hakim sendiri, karena kita adalah bangsa yang taat hukum dan beragama," katanya menambahkan.

Sementara itu, Ketua Lembaga Adat Provinsi Jambi Hasip Kalimuddin Syam menyampaikan, di Jambi para ulama dan tuan guru dari dulu terkenal selalu cinta damai dan ketenangan.

"Tetapi terkadang kita lupa untuk selalu mendidik anak-anak kita. Ini yang paling utama, karena mereka adalah calon penerus bangsa," ujarnya.

Ketua Forum Pimpinan Ponpes Provinsi Jambi Buya Margutin menyampaikan masalah kepemimpinan sudah jelas, itu sudah takdir Allah.

"Jadi kenapa kita harus lawan, dengan berbagai cara, untuk apa," tegasnya.

Maka dari itu, lanjutnya, kita jangan sampai ikut-ikutan untuk berbuat yang tidak diinginkan.

"Untuk itu, kami dari ponpes selalu menjaga itu. Kami prihatin melihat sesama manusia berbicara yang tidak baik hanya gara-gara Pilpres," ungkapnya.

"Mudah-mudahan kita dilindungi oleh Allah SWT, dan mudah-mudahan nanti di tanggal 22 tidak terjadi apa apa, karena semua sudah ditentukan oleh Allah SWT," ungkapnya.

Akademisi Unja Supian Ramli menyampaikan, Pemilu bukan perang suci, dan juga bukan jihat keagamaan. Pemilu ini hanyalah proses yang setiap lima tahun sekali kita temukan.

"Siapapun yang terpilih tidak mungkin mereka nantinya mengorbankan bangsa dan negara, terlalu mahal harganya jika Indonesia di bawa ke hal yang negatif," ungkapnya

"Mudah-mudahan Pemilu ini tidak menjadiman kita terpecah belah. Jadikan Pemilu ini sebagai persatuan bangsa. Siapapun yang ditetapkan, Insya Allah itu yang terbaik untuk Indonesia," pungkasnya.


Penulis: Ikbal Ferdiyal
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments