Senin, 21 Oktober 2019

Lima Tersangka Kasus Illegal Drilling di Batanghari Dilimpahkan ke Jaksa


Rabu, 15 Mei 2019 | 11:08:17 WIB


Pelaku illegal drilling di Desa Pompa Air, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari
Pelaku illegal drilling di Desa Pompa Air, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari / dok/metrojambi

MUARABULIAN - Lima tersangka dan pemodal iLlegal drilling di Desa Pompa Air yang beberapa waktu lalu ditangkap Polres Batanghari, akhir dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat untuk proses lebih lanjut.

Kapolres Batanghari AKBP Mohamad Santoso mengatakan, kelima tersangka tersebut telah dilakukan pelimpahan tersangka dan barang bukti (tahap II), dari penyidik ke kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU).

"Ini merupakan tahap II. Untuk proses lebih lanjut akan diserahkan kepada pihak Kejaksaan," katanya, Selasa (14/5/2019).

Dijelaskan Santoso, tersangka diamankan saat anggota tengah melakukan patroli di tiga lokasi.

“Mereka diamankan berdasarkan tiga laporan, dan ditangkap saat melakukan aktivitas ilegal drilling. Ada yang ditangkap di lokasi sumur dan ada juga di tempat pengolahan minyak ilegal tersebut," jelasnya.

Dikatakannya lagi, kelima tersangka ini selain pekerja juga ada sebagai pemodal untuk melakukan kegiatan ilega drilling. Adapun kelima tersangka tersebut bernama Suroso (50) asal Lampung ditangkap di RT 09. Dusun IV Laman Teras Desa Pompa Air pada tanggal 19 Maret 2019.

Selanjutnya pada tanggal 28 Maret 2019 tersangka Asep Raidon (27) dan Edi Hermanto (45) asal Musi Banyu Asin diamankan di RT 12 desa pompa air. Ditempat berbeda yakni di RT 12 dea Pkmpa Air, dua tersangka lainnya turut diamankan atas nama Ariadi (30) dan Zamhari (45) juga berasal dari Musi Banyu Asin provinsi Sumatera Selatan.

Atas tindakannya kelima tersangka dijerat pasal 52, 53 UU No 22 Tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi dengan ancaman pidana selama 5 tahun penjara. Sementara salah satu pelaku mengakui perbuatannya tersebut. "Saya Melakukan aktivitas tersebut sejak 5 bulan," katanya.

Disinggung mengenai pemodal atau tidak, tersangka mengaku bekerja sama dengan keponakannya. "Saya berdua dengan keponakan. Awalnya saya tau dari orang bahwa ada kegiatan itu (ilegal drilling) disini. Kan banyak orang dari Palembang kesini," katanya.

Diakuinya pula, 5 bulan beroperasi tersebut belum membuahkan hasil. Bahkan modal awalnya saja belum dapat. "Belum dapat hasil. Modal kami be belum tembus. Modal kami lebih kurang 70 juta, patungan," ujarnya.

Dibeberkannya pula, dalam sekali pengolahan minyak ia bisa meraup keuntungan sekitar Rp.500 hingga Rp 1 juta, dimana tergantung dengan harga jual minyak tersebut. "Tergantung dengan harga minyak berapa. Sekali masak bisa 26 drum minyak,” katanya.

Sementara barang bukti yang diamankan berupa tangki minyak dari besi yang telah modifikasi, drum, pipa besi, mesin sedot, selang, dan jerigen berisi minyak.


Penulis: chy
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments