Sabtu, 20 Juli 2019

Mahasiswa Prodi Arkeologi Unja Gelar Diskusi Bahas Candi Muara Jambi


Jumat, 17 Mei 2019 | 23:45:24 WIB


/ Istimewa

JAMBI - Mahasiswa Prodi Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universita Jambi (Jambi), Jumat (17/5/2019), menyelenggarakan acara buka puasa bersama dengan cara yang berbeda, yaitu dengan diawali forum diskusi publik membahas nasib Candi Muara Jambi yang menjadi icon pariwisata Provinsi Jambi.

Untuk diketahui, sudah 10 tahun Candi Muaro Jambi masuk dalam Tentative List Situs Warisan Dunia UNESCO, sejak diajukan pada 6 Oktober 2009 lalu. Namun sampai saat ini “mangkrak”.

Diskusi dihadiri 50 orang mahasiswa dan dilaksanakan di salah satu rumah makan di daerah Telanai dimulai pukul 16.00 sd 18.00 WIB.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dosen hukum internasional Fakultas Hukum Unja Mochammad Farisi, LL.M yang membahas perlindungan internasional World Heritage Site, Ketua Prodi Arkeologi FIB Unja Asyhadi Mufsi Sadzali, MA menjelaskan Justification of Outstanding Universal Value (OUV) Candi Muara Jambi, dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi Drs. Ujang Hariadi menyampaikan materi manajemen pengelolaan Candi Muara Jambi.

Vista Astrilianda, mahasiswa arkeologi angkatan 2017 sebagai ketua panitia acara menjelaskan bahwa acara ini bertujuan meningkatkan tali silaturahmi antara mahasiswa arkeologi sekaligus diisi majelis ilmu bersama narasumber yang ahli dibidangnya.

"Kegiatan ini juga bentuk kepedulian kami terhadap situs Candi Muara Jambi yang masuk dalam janji politik “Jambi Tuntas”, bahwa akan mengembangkan candi ke level internasional namun saat ini belum juga terwujud," ujarnya.

Sementara itu, Mochammad Farisi menjelaskan bahwa situs ini sangat berpotensi menjadi warisan dunia UNESCO. Untuk itu, persiapan menuju kesana harus memenuhi semua persyaratan yang ada didalam World Heritage Convention 1972 dan Operational Guidelines for the Implementation of the World Heritage Convention.

Dikatakan Farisi, 4 syarat Outstanding Universal Valuen, pertama memenuhi 10 kriteria, kedua integritas dan keaslian, ketiga perlindungan dan manajemen pengelolaan serta keempat analisis perbandingan. Keempat syarat ini harus dipenuhi dan di update terus menerus apabila pemerintah daerah mau serius menjadikan situs ini menjadi warisan dunia.

Sedangkan Ketua Prodi Arkeologi Unna menjelaskan tentang OUV Candi Muara Jambi, dimana berdasarkan dossier yang telah didaftarkan ke World Heritage Centre. Situs ini memenuhi criteria (ii), (iii), dan (iv).

Pertama, memiliki peran global dimasa lalu menjadi universitas terbesar atau pusat pendidikan se Asia Tenggara yang mejadi tempat belajar cendekiawan dari seluruh dunia salah satunya It Sing Biksu dari China.

Kedua, nilai penting dari segi arsitektur bangunan candinya yang unik dan memiliki makna filosofisyang mendalam baik secara harmony alam dan yang maha kuasa.

Ketiga, nilai yang luar biasa dari segi pengembangan pengetahuan hidrologi dan tata kelola air dengan membuat kanal-kanal buatan untuk mengendalikan banjir sekaligus sebagai arus transportasi.

Adapum Ujang Hariadi menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jambi hanya berwenang membantu proses menuju warisan dunia, kami sudah melakukan promosi dan seminar serta kajian-kajian ilmiah tentang candi ini.

"Baru-baru ini saya beserta pemda muara jambi telah bertemu dengan Direktorat Pelestarian Kemendikbud untuk membentuk Badan Pengelola Candi Muara Jambi yang berisi para ahli, pemda dan juga perwakilan masyarakat, Insyallah tahun depan bisa terwujud sehingga pengelolaannya bisa lebih profesional," ujarnya.

"Saya juga sangat bersyukur bahwa masyarakat sekitar sangat peduli dengan menjaga dan melestarikan cerita-cerita rakyat atau fokhlor," katanya menambahkan.

Selai ketiga narsumber tersebut,  diskusi juga dihadiri oleh Agus Sudaryadi dari BPCB Jambi, Kabid Destinasi Sundari dan Kasi Purbakala Yatim. Setelah pemaparan acara dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab dari mahasiswa. (*)


Penulis:
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments