Rabu, 13 November 2019

Inflasi Jelang Hari Raya Fitri


Senin, 20 Mei 2019 | 14:11:50 WIB


Nadia Nisa Firmanda
Nadia Nisa Firmanda / istimewa

Oleh Nadia Nisa Firmanda

RAMADAN merupakan bulan yang paling ditunggu khususnya bagi umat muslim karena dipercaya sebagai bulan yang penuh berkah dimana seluruh umat muslim berlomba-lomba mencari pahala dengan meningkatkan kualitas ibadahnya. Umat muslim diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa selama Ramadhan, yaitu menahan lapar, haus dan hawa nafsu.

Ibadah puasa seharusnya membuat konsumsi pangan masyarakat berkurang karena jam makan yang biasanya tiga kali sehari, yaitu sarapan, makan siang dan makan malam berubah menjadi dua kali sehari, yaitu hanya pada saat sahur (sebelum subuh) dan berbuka (sore menjelang malam). Namun fakta menunjukan hal sebaliknya, konsumsi pangan masyarakat pada bulan Ramadhan justru meningkat dari bulan-bulan sebelumnya. Hal tersebut lumrah terjadi setiap tahunnya. Lantas bagaimana hal itu dapat terjadi?

Salah satu faktor utama adalah perilaku konsumtif masyarakat yang menjadi “lapar mata” ketika tengah berpuasa dan menginginkan beraneka ragam makanan untuk disantap saat berbuka puasa. Selain itu, berbagai kegiatan “khas Ramadhan” menyebabkan konsumsi kolektif di masyarakat, seperti buka puasa bersama, bebagi takjil buka puasa, kegiatan berbagi seperti “sahur on the road” dan lain sebagainya. Dengan adanya peningkatan konsumsi tersebut maka terjadi pula peningkatan kebutuhan akan bahan pangan di masyarakat.

Disamping itu, di penghujung Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, sebagian besar masyarakat Indonesia merayakannya dengan menjalankan tradisi mudik ke kampung halaman. Yang tak jarang sebagian masyarakat hanya mudik ke kampung halamannya setahun sekali, yaitu pada saat Hari Raya Idul Fitri. Selain karena jarak yang jauh dan hari libur yang lebih panjang, tetapi juga dikarenakan biaya transportasi khususnya pesawat udara yang cukup mahal. Terlebih lagi harga tiket pesawat mengalami kenaikan pada awal tahun 2019.

Kenaikan harga tiket pesawat tersebut sangat berdampak bagi masyarakat khususnya bagi mereka para perantau yang bekerja jauh dari kampung halamannya. Bahkan untuk sebagian orang, harga tiket pesawat dirasa sangat “mencekik leher” karena harga tiket pesawat untuk pulang pergi ke kampung halamannya saat Hari Raya Idul Fitri hampir senilai dengan penghasilan mereka sebulan. Kendati demikian, tetap saja permintaan akan tiket pesawat di penghujung Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri mengalami peningkatan.

Kenaikan permintaan bahan pangan dan tiket pesawat menjadi salah satu penyumbang terbesar kenaikan inflasi selama Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri atau sekitar bulan April, Mei dan Juni 2019. Ketika permintaan meningkat dan penawaran masih tetap pada keadaan semula maka akan mengakibatkan terjadinya inflasi.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada tahun 2019 sebesar 0,32% pada bulan Januari, -0,08% pada bulan Februari, 0,11% pada bulan Maret dan 0,44% pada bulan April. Bank Indonesia (BI) juga menilai kenaikan inflasi pada bulan April tersebut dikarenakan faktor musiman pengeluaran masyarakat pada bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri seperti bahan pangan dan tarif tiket pesawat. Bila dibandingkan dengan data BPS dua tahun lalu, inflasi untuk Ramadhan di bulan Mei 2018 sebesar 0,21% dan pada bulan Juni sebesar 0,59%. Sedangkan inflasi untuk Ramadhan di bulan Mei 2017 sebesar 0,39% dan pada bulan Juni sebesar 0,69%. Melihat data tersebut dapat kita perkirakan akan adanya potensi peningkatan inflasi pada bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri pada tahun 2019 ini.

Selama ini kita hanya bisa mengeluh atau berkoar-koar di media sosial saat harga bahan pangan dan tiket pesawat melambung tinggi dan menyebabkan inflasi tanpa pernah memikirkan apakah ada dampak lain dari inflasi tersebut. Lantas apa saja sih dampak inflasi itu?

Inflasi dapat berdampak positif dan negatif. Dampak positif inflasi bagi perekonomian, yaitu para stakeholder akan menambah kapasitas produksinya dikarenakan permintaan yang melebihi penawaran sehingga dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja. Di sisi lain, inflasi memiliki dampak negatif, yaitu kenaikan harga yang secara langsung dapat dirasakan oleh masyarakat, khususnya bagi masyarakat dengan penghasilan yang tetap dimana penghasilan yang biasanya cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya kini akan terasa kurang. Namun bagi sebagian besar masyarakat, sisi negatif dari inflasi lebih terasa dampaknya dibandingkan sisi positifnya.

Oleh karena itu, ada baiknya masyarakat menyikapi inflasi dengan lebih bijak khususnya inflasi yang kita hadapi pada bulan Ramadhan ini. Salah satunya dengan menahan diri dari perilaku konsumtif, membeli bahan pangan secukupnya yang dibutuhkan selama Ramadhan dan dapat melakukan pembelian tiket pesawat mudik dari jauh hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Lebih lanjut diharapkan kepada pemerintah untuk dapat mengeluarkan kebijakan yang mampu menekan laju inflasi selama Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri seperti operasi pasar, pengawasan distribusi bahan pangan, stock opname bahan pangan, evaluasi harga tiket pesawat, audiensi dengan stakeholder dan lain sebagainya.

Mahasiswi Politeknik Keuangan Negara STAN


Penulis: Nadia Nisa Firmanda
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments