Senin, 16 September 2019

Jambi Darurat Literasi


Senin, 20 Mei 2019 | 14:45:25 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

Oleh: Lukman Hakim Dalimunthe
"Demokrasi hanya akan berkembang di suatu Masyarakat yang para warganya adalah pembaca, adalah individu-individu yang merasa perlu untuk membaca, bukan sekedar pendengar dan gemar berbicara” (Daoed Joesoef, dakam Bukuku Kakiku, 2004)

Kutipan kalimat di atas terpampang di halaman awal laporan hasil riset Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Penelitian ini berjudul Indeks Aktivitas Literasi Membaca 34 Provinsi yang dilaksanakan pada tahun 2018 dan diterbitkan pada bulan april 2019.

Tepat pada tanggal 17 april yang lalu, kita telah merayakan pesta demokrasi yaitu pemilihan legislatif dan presiden RI. Yang mana, kita melihat banyak nya hal-hal memalukan yang terjadi di sosial media. Diantaranya: hoax, caci-maki dan lain-lain.

Kemudian pada tanggal 17 mei kemarin, kita merayakan Hari Buku Nasional. Sebagai bangsa yang berlandaskan UUD 1945 dan memiliki Ideologi Pancasila, kita dapat melihat bahwa salah satu peran Negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa (masyarakat). Lalu bagaimana perkembangan amanat UUD tersebut?
Buta aksara turun dari 39,1 persen pada 1971 menjadi 28,8 persen pada 1980, kemudian menjadi 15,9 persen pada 1990. Keberhasilan ini berlanjut di era reformasi sehingga tersisa 4,4 persen pada 2014. (Statistik 70 tahun Indonesia Merdeka, 2015)

Keberhasilan itu sayangnya belum diikuti dengan keberhasilan menumbuhkan budaya baca. Sehingga tingkat literasi masyarakat tergolong rendah. Berbagai survei menunjukkan hal tersebut (lihat misalnya hasil survei PISA, AKSI, dan Central Connecticut State University).

Dengan kondisi di atas, pemerintah dibawah naungan Pak Jokowi telah melakukan program Gerakan Literasi Naional (GLN) yang terdiri dari Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Literasi Keluarga, dan Gerakan Literasi Masyarakat.

Dalam laporan ini, ada beberapa dimensi yang mereka nilai di 34 provinsi, yaitu: 1. Profiency merupakan syarat awal agar seseorang dapat mengakses bahan literasi; 2. Access ialah sumber daya pendukung di mana masyarakat mendapatkan bahan literasi; 3. Alternative yaitu beragam pilihan perangkat teknologi informasi dan hiburan untuk mengakses bahan literasi; dan 4. Culture ialah kebiasaan yang turut membentuk habitus literasi.

Indeks Aktivitas Literasi di atas diadopsi dari konsep Miller dan McKenna (2016) dalam buku World literacy: How countries rank and why it matters mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas literasi.

Profiency/kecakapan ada dua faktor, yaitu: rata-rata lama sekolah dan melek huruf latin. Access/akses ada 5 faktor, yaitu: perpustakaan sekolah, perpustakaan umum, perpustakaan komunitas, tenaga pengelola perpus sekolah, dan membeli surat kabar/koran, majalah/tabloid. Alternative/alternatif ada 3 faktor, yaitu: sekolah dengan jaringan internet, mengakses internet, dan menggunakan komputer. Dan yang terakhir culture/budaya ada 5 faktor, yaitu: membaca artikel di media elektronik/imternet, membaca buku, membaca surat kabar, mengunjungi perpustakaan, memanfaatkan taman bacaan.

Indeks aktivitas literasi baca ini disusun berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari: row data dari Badan Pusat Statistika, Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Kemendikbud, Perpustakaan Nasional, serta forum Taman Bacaan Masyarakat dan Pustaka Bergerak.

Hasil penghitungan Indeks Aktivitas Literasi Baca secara Naional masuk dalam kategori di angka 37,32. Nilai itu tersusun dari 4 dimensi penelitian, antara lain Dimensi Kecakapan sebesar 75,92; Dimensi Akses sebesar 23,09; Dimensi Alternatif sebesar 40,49; dan Dimensi Budaya sebesar 28,50.
Indeks tertinggi ditempati oleh provinsi DKI Jakarta, DI Yogyakarta dan Kepulauan Ria. Masing-masing: 58,16, 56,20, dan 54,76 persen. Namun 3 provinsi tersebut belum mencapai kategori altivitas literasi tinggi karena indeks ketiganya belum mencapai angka 80,01 atau dengan kata lain masih berada di level aktivitas literasi sedang. Lalu bagaimana dengan Indeks Literasi Baca masyarakat Jambi?

Dalam laporan ini, Provinsi Jambi mencapai kategori literasi rendah dengan angka secara keseluruhan 37,32. Dimensi kecakapan Jambi mendapatkan angka 76,24 dikategorikan sebagai aktivitas literasi tinggi (lihat gambar 1), kemudian Dimensi Akses Jambi mendapatkan angka 25,44 dikategorikan sebagai aktivitas literasi rendah (lihat gambar 3), pada Dimensi Alternatif Jambi mendapatkan angka 39,47 dikategorikan sebagai aktivitas literasi rendah (Lihat Gambar 2), dan Dimensi Budaya Jambi mendapatkan angka 25,35 dikategorikan sebagai aktivitas literasi rendah (Lihat Gambar 4).

Dimensi Kecakapan


Gambar 1

Keterangan: Indikator penduduk melek aksara latin diolah dari Provinsi Dalam Angka 2018, sedangkan rata-rata lama sekolah dari Indeks Pembangunan Manusia 2017.


Dimensi Alternatif

 

Gambar 2
Keterangan: Indikator jumlah sekolah yang memiliki jaringan internet diolah dari data mentah Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan (PDSPK Kemendikbud), sedangkan persentase penduduk yang mengakses internet dan menggunakan komputer dari data mentah Susenas 2017.

Dimensi Akses



Gambar 3
Keterangan: Indikator jumlah perpustakaan sekolah dalam kondisi baik, petugas pengelola perpustakaan sekolah, dan pembanding jumlah sekolah diolah dari data mentah Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan (PDSPK Kemendikbud); jumlah perpustakaan umum (di tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan desa) diolah dari data Perpustakaan Nasional sedangkan pembanding jumlah wilayah administratif f]dari situs http;//mfdonline.bps.go.id; jumlah perpustakaan komunitas diolah dari laman PT Pos Indonesia dengan pembanding jumlah penduduk 5-24 tahun dari publikasi Provinsi Dalam Angka 2018 dan Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035; persentase membeli surat kabar dan majalah/tabloid diolah dari data mentah Susenas MSBP 2015.

Dimensi Budaya



Gambar 4
Keterangan: indikator penduduk membaca surat kabar, buku cetak, berita/artikel di media eloktronik/internet, serta penduduk yang mengunjungi perpustakaan dan taman bacaan diolah dari data mentah Susenas MSBP 2015.
Pada Dimensi Kecakapan, Jambi mendapatkan hal baik, tetapi pada 3 Dimensi lain (Akses, Alternatif dan Budaya) kita perlu bekerja sama untuk memberantas hal tersebut. Pemerintah provinsi dan seluruh kabupaten/kota yang ada di Jambi melakukan kerja sama dengan para komunitas literasi, taman baca masyarakat dan pegiat literasi yang ada di Jambi.
Diharapkan melalui kerja sama tersebut, pegiat literasi dan pemerintah mampu menyelesaikan hal-hal yang telah dimulai pemerintah pusat. Kerja sama yang diharapkan tersebut berupa penguatan faktir-faktor yang mempengaruhi 3 dimensi tersebut. (Lihat paragraf 10).
Saya juga berharap, adanya penelitian lanjutan mengenai Aktivitas Literasi Baca di provinsi Jambi yang memuat data Primer di setaip kabupaten/kota di Jambi.


Penulis adalah Founder Perpus Rakyat dan Pustaka Kombur


Penulis: Lukman Hakim Dalimunthe
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments