Selasa, 25 Juni 2019

Kultum Ramadhan: Indahnya Adzan Di Mata Generasi Pilihan


Selasa, 28 Mei 2019 | 10:45:24 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

ADZAN adalah syiar yang agung, tiada yang membencinya selain setan dan orang-orang rendahan yang mengikuti jejak setan yang anti terhadap adzan. Allah menyebut kurang akal siapapun yang memperolok adzan, sebagaimana firman-Nya.

"Dan apabila kalian menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) salat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal." (QS. al-Maidah: 58)

Dan beberapa waktu ini makin banyak orang yang berani meremehkan adzan; tidak menyambutnya, ada yang mengaku muslim tapi merasa terusik dengan mendengarnya bahkan ada yang secara ugal-ugalan memperolok-olok adzan.

Adapun orang-orang shalih di kalangan generasi terbaik sangat mengistimewakan panggilan adzan. Karena mereka memahami makna adzan dan menghayatinya, hingga sangat tampak sekali respek mereka terhadap adzan.

Di zaman sahabat misalnya, Ibnu Katsier rahimahullah dalam tafsirnya menyebutkan, bahwa suatu kali sahabat Ibnu Masud radiyallahu anhu melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang sewaktu di pasar. Di mana tatkala adzan untuk shalat dikumandangkan, serta merta mereka tinggalkan perniagaan mereka, dan mereka berbondong-bondong mendatangi undangan shalat. Melihat pemandangan ini, Abdullah bin Masud bergumam, “Mereka inilah yang dimaksud oleh Allah Taala dalam firman-Nya,

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat.Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. an-Nuur: 37).

Abu Hurairah radhiallahuanhu meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki buta datang dan bertanya kepada Rasulullah Shallallahuaalaihi Wasallam, “Wahai Rasulullah, tidak ada seorang yang menuntunku ke masjid (untuk shalat berjamaah).” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam untuk diijinkan shalat di rumah. Maka (di awalnya) Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam membolehkannya, kemudian ketika orang itu akan pulang, Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam memanggilnya dan bertanya kepadanya: “Apakah kamu mendengar seruan adzan untuk shalat (berjamaah)?”. Orang itu menjawab: Iya. Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda: “Kalau begitu datanglah ke masjid.” (HR Muslim

Demikian pula para Shahabat lainnya radhiallahuanhum, memberikan teladan yang sempurna dalam masalah ini, seperti ucapan Adi bin Hatim ath-Thai radhiallahuanhu: “Tidaklah dikumandangkan shalat sejak aku masuk Islam, kecuali aku dalam keadaan sudah berwudhu”.(Siyaru alam)

Kemudian generasi tabiin yang datang setelah para Shahabat Shallallahuaalaihi Wasallam, mereka juga menampilkan sebaik-baik teladan dalam menyambut seruan adzan. Bagi mereka, adzan adalah panggilan mulia yang mengetuk hati dan menggugah nurani. Ada kebahagiaan tersendiri bagi orang yang beriman ketika dimudahkan untuk menyahut dan menyambut panggilan adzan. Seperti yang dialami oleh Fudhail bin Iyadh rahimahullah yang sering menangis haru di masjid ketika mendengar adzan hingga lantai di hadapannya basah oleh air matanya. Betapa tidak, hakikatnya adzan adalah undangan dari Sang Pencipta, Maha Pemberi Karunia. Adapun muadzin hanyalah penyampai undangan dan bukan Pemilik undangan. Bukankah suatu kehormatan ketika seseorang bisa hadir mendatangi undangan dari Yang Maha mulia? Undangan yang jauh lebih bergengsi dari undangan resepsi para pejabat maupun raja.

Said bin Musayyib rahimahullah, imam ternama dari generasi tabiin sangat menghargai undangan ini, memprioritaskannya dari sekian banyak undangan, hingga beliau hadir lebih awal. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hibban rahimahullah daam ats-Tsiqaat, “Beliau termasuk pemuka para tabiin dalam pemahaman agama, sifat wara, ilmu, ibadah dan kemuliaan. Selama empat puluh tahun, tidaklah dikumandangkan adzan shalat kecuali Said bin al-Musayyab telah berada di masjid menanti shalat berjamaah.”

Hilal bin Isaf bercerita saat dia bersama Mundzir Ats-Tsauri menjenguk Rabi bin Khutsaim radiyallahu ‘anhu yang sedang sakit, “Setelah lama berbincang-bincang, terdengar lantunan adzan Dzuhur. Bersamaan dengan itu puteranya datang, lalu Syeikh berkata kepadanya, “Mari kita sambut panggilan Allah.” Puteranya berkata kepada kami, “Tolong bantu saya untuk memapah beliau ke masjid. Semoga Allah Taala membalas kebaikan kepada kalian.” Kemudian kami memapahnya bersama-sama sehingga beliau bisa bergantung di antara aku dan puteranya pada saat berjalan. Mundzir berkata,”Wahai Abu Yazid, bukankah Allah Taala memberi rukhshah (keringanan) bagi Anda untuk shalat di rumah?” Beliau menjawab, “Memang benar apa yang Anda katakan, akan tetapi aku mendengar seruan, “Marilah menuju keberuntungan!” Barangsiapa mendengar seruan itu hendaknya mendatanginya walaupun harus dengan merangkak.”

Benar apa yang beliau katakan, selain panggilan shalat, adzan juga merupakan ajakan untuk menjadi orang yang sukses, bahagia, menang dan beruntung. Seluruh pengertian ini terkandung dalam kata “al-falah ketika diserukan ”hayya alal falah”, marilah menuju keberuntungan. Alangkah agung ajakan ini. Tak ada orang berakal yang layak meremehkan ajakan ini. Seruan keberuntungan inilah yang mendorong seorang ulama tabiin untuk tetap menyambut seruan adzan, meskipun harus dipapah puteranya karena sakit. Bahkan meskipun harus datang dengan merangkak.

Berlanjut ke generasi tabiut tabiin. Mereka juga menyambung estafet kemuliaan dalam menyambut seruan adzan. Sebut saja Ibrahim bin Maimun Ash-Shaigh, seorang shalih dari generasi tabiut tabiin selalu menghentikan aktivitasnya begitu mendengar adzan. Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani mengisahkan biografi beliau dalam Tahdzib at-Tahdzib, bahwa pekerjaan beliau adalah tukang menempa logam. Setiap kali beliau telah mendengar seruan adzan untuk shalat, maka meskipun beliau telah mengangkat palu, beliau tak lagi mengayunkannya. Beliau segera meninggalkan pekerjaannya untuk melaksanakan shalat. Karena bagi beliau, adzan adalah panggilan dari Dzat yang memiliki kuasa segalanya atas dirinya. Bagaimana mungkin ia berani menundanya?


Penulis: Ust. Abu Umar Abdillah
Editor: Ikbal Ferdiyal
Sumber: https://www.arrisalah.net/indahnya-adzan-di-mata-generasi-pilihan/


comments