Selasa, 25 Juni 2019

Dari Membaca ke "Membaca"


Selasa, 28 Mei 2019 | 14:31:53 WIB


Syafbrani
Syafbrani / istimewa

Oleh: SYAFBRANI

UMAT Islam baru saja merayakan hari Nuzulul Quran. Hari yang jatuh pada 17 Ramadhan kemarin ini menjadi salah satu hari yang bersejarah. Ianya merupakan waktu terjadinya peristiwa turunnya Al Quran pertama kali. Banyak anjuran dan muhasabah yang hadir saat peringatan hari penting ini. Diantaranya adalah untuk selalu mengajak kita agar selalu menjadikan Al-Quran sebagai rujukan prinsipil dalam kehidupan.

Selain itu, ada satu hal penting lainnya yang dapat dipetik dari peristiwa yang memunculkan redaksi iqra ini. Iqra, ayat pertama yang merupakan perintah membaca "bacalah ini tentu mempunyai pesan dan makna bagi kehidupan sehari-hari.

Merujuk salah satu tafsir Isyari, Prof. Dr. Nasaruddin Umar pernah menyampaikan bahwa terdapat empat makna pada konteks iqra tersebut. Makna yang pertama adalah how to read, selanjutnya adalah how to learn, how to understand dan yang terakhir adalah how to elevate. Menurut Imam Besar Mesjid Istiqlal ini kita diperingatkan agar tidak hanya mampu membaca dalam pengertian how to read and learn. Tetapi juga lebih melibatkan lagi tingkatan kesadaran berikutnya..

Paradoks
Secara sederhana, apa yang disampaikan oleh guru besar ini dapat dijelaskan dengan orang yang membaca tulisan "Peringatan: Merokok Membunuhmu. Namun pertanyaannya, mengapa masih banyak orang yang tetap merokok? Bahkan sekarang bungkus rokok juga menyertai gambar menyeramkan akibat efek rokok yang membahayakan.

Begitu juga dengan kasus lainnya seperti penyebaran berita hoaks yang semakin marak. Kominfo (2019) menyatakan selama bulan April ini saja terdapat 486 hoaks yang berhasil diidentifikasikan. Hoaks telah diyakini bersama sebagai berita palsu atau bohong. Namun pertanyaanya, mengapa masih banyak orang yang dengan sengaja menyebarkannya? Bahkan tidak sedikit dari para pelakunya adalah mereka yang cerdas secara intelektual.

Ada juga peristiwa sederhana lainnya yang bisa kita jadikan pelajaran terkait Iqra ini. Misalnya adalah tabiat orang yang suka membuang sampah persis di bawah tulisan "Dilarang Membuang Sampah Di Sini. Akhirnya kejadian yang bertolak belakang dengan redaksional ini sampai juga pada para pelaku koruptor. Mengapa mereka bisa mencuri uang rakyat? Padahal mereka tahu aturannya dan sering menyaksikan tertangkapnya para pelaku korupsi itu.

Kembali ke penjelasan yang pernah disampaikan Prof. Dr. Nasaruddin Umar. Ternyata jawabannya bahwa Iqra juga tidak hanya melibatkan sisi intelektual semata. Namun juga harus disertakan dalam landasan emosionalitas – spiritualitas. Jika tidak, jangan heran ketika selalu disuguhi dengan penampilan orang-orang yang semakin pintar tapi sekaligus semakin kurang ajar.

Dari membaca ke "membaca"
Momentum Nuzulul Quran ini dapat juga dijadikan gerakan dari membaca ke ‘membaca. Artinya dengan indeks literasi bangsa yang masih rendah. Fokus penguatan pada minat baca secara tekstual juga perlu digerakan. Jika meminjam istilah tadi adalah how to read harus tetap digiatkan.

Balitbang Kemendikbud beberapa hari lalu (18/5) menyampaikan aktivitas membaca siswa kita sangat kurang. Mereka kedodoran jika membaca teks yang agak panjang. Akibatnya dalam pelaksanaan Ujian Nasional, peserta didik itu rata-rata mampu menjawab soal bahasa Indonesia hanya 60 persen.

Bahkan untuk meningkatkan aktifitas literasi, sejak tahun 2016 pemerintah telah meluncurkan Gerakan Literasi Nasional (GLN). Gerakan ini kemudian dibagi dalam beberapa segmentasi, diantaranya sekolah dan keluarga. Belakangan muncul perdebatan terkait kondisi minat baca anak bangsa. Beberapa aktivis literasi protes dengan ultimatum minat baca bangsa yang rendah. Diantara alasannya bukan pada minat atau semangat. Asbabnya lebih kepada sarana dan akses yang kurang mendukung.

Namun, apapun langkah yang akan ditempuh oleh pemerintah. Seharusnya bertujuan akhir bukan pada tataran untuk meningkatkan indeks membaca semata. Tetapi harus berpikir bagaimana "indeks kepribadian mereka juga mumpuni. Setidaknya indikator kepribadian itu terlihat dari tumbuhnya sikap terpuji seperti rasa empati, tanggungjawab serta integritas diri.

Ketika pemerintah hanya membaca angka pencapaian hasil ujian saja. Kita akan terus menyaksikan "pesta perayaan kelulusan siswa yang selalu bablas. Ketika angka yang diperdebatkan hanya terkait indeks-indeks publikasi saja. Kita akan terus menyaksikan berbagai contoh perilaku paradoks tadi terus berkeliaran.

Bisa jadi –semoga penulis salah- reaktifnya respon pemerintah sehingga dengan mudah melahirkan berbagai kebijakan baru. Agenda baru, gerakan ini – itu. Maka bisa jadi tahap iqra-nya selama ini baru sampai pada tataran how to read saja. Nah, apa yang lantas kita harapkan dari hasilnya? Apakah ini yang menyebabkan tema diskusi tetang literasi tidak pernah jauh dari indeks minat baca? Bertahun – tahun. Minat baca tetap stagnan. Sementara gejala demoralisasi terus meningkat.

Andai tidak bisa berharap pada kondisi saat ini. Maka masih ada harapaan perbaikan kepada generasi dini. Generasi yang akan mengisi kehidupan masa depan bangsa. Untuk itu, gerakan penguatan literasi haruslah menyentuh secara integratif kepada mereka. Bukan hanya pada batasan membaca. Pun ketika membaca, jangan diarahkan melulu pada textbook.

Mereka harus terus dipupuk. Selain agar semangat membacanya semakin membuncah. Kekuatan emosial dan spritualnya juga harus semakin tumbuh. Semoga!

Penulis adalah Pemerhati pendidikan dan pegiat literasi, Bermastautin di Jakarta.


Penulis: Syafbrani
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments