Jumat, 22 November 2019

Ramadhan dan Inflasi


Senin, 03 Juni 2019 | 14:45:14 WIB


/

Oleh Imam Sidiq Zaelani *)

DIPIMPIN oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin sidang isbat yang digelar di auditorium KH M Rasjidi Kemenag, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (5/5/2019) menetapkan 1 Ramadhan 1440 Hijriah disepakati jatuh pada Senin, 6 Mei 2019. Ramadhan telah datang, kegembiraan bulan suci ini dengan agenda buka bersama, sholat tarawih keliling hingga sahur bersama menjadi kegiatan rutin pada setiap kaum muslim yang menjalankannya. Jajanan khas berbuka puasa seperti kolak pisang, kurma dan aneka gorengan mulai muncul di pasar hingga di pinggir jalan. Bagai pisau bermata dua, di balik kegembiraan bulan Ramadhan terdapat sebuah efek ekonomi yang mengancam nilai mata uang, yakni inflasi.

Inflasi adalah penurunan nilai uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum. Berdasarkan penyebabnya inflasi dapat didolongkan menjadi dua jenis, yaitu Inflasi Permintaan (demand pull inflation) dan Inflasi Desakan Biaya (cost push inflation). Secara sederhana Inflasi Permintaan disebabkan karena melonjaknya permintaan atas barang dan jasa di pasar sehingga mengakibatkan harga barang dan jasa meningkat, sementara itu Inflasi Desakan Biaya disebabkan karena adanya kelangkaan barang dan jasa di pasar meskipun tingkat permintaan tidak ada perubahan secara signifikan.

Seharusnya bulan suci Ramadhan dijadikan sebagai momen untuk instropeksi diri, mengendalikan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah. Namun, banyak umat muslim di Indonesia menjadikan bulan Ramadhan selain untuk beribadah juga menjadikan momen untuk bergaya hidup hedonisme. Masyarakat yang umumnya merasa cukup dengan makan sederhana, menjadikan waktu berbuka puasa sebagai ajang balas dendam setelah seharian berpuasa. Lebih jauh lagi pada saat momen Lebaran, dimana terdapat tradisi semuanya harus “mewah”. Seakan di bulan Ramadhan masyarakat wajib untuk mengonsumsi lebih banyak produk. Gaya hidup boros ini menimbulkan permintaan barang dan jasa di pasar meningkat, sehingga mengakibatkan uang yang beredar lebih banyak dan cepat, nilai riil uang turun, harga mayoritas barang dan jasa di pasar naik, hingga berujung terjadinya inflasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik empat tahun terakhir (2015-2018) menegaskan fakta tersebut. Pada 2015, inflasi pada bulan Ramadhan (Juni-Juli) tercatat 0,54% meningkat menjadi 0,93% dibandingkan dengan tingkat inflasi tahunan 2015 yaitu sebesar 3,35%, bulan Ramadhan menyumbang hampir setengah inflasi pada tahun 2015, dengan penyumbang inflasi terbesar merupakan kelompok bahan makanan (1,6% dan 2.02%) dan kelompok makanan jadi (0,55% dan 0,51%) dan terjadi peningkatan inflasi sangat signifikan pada kelompok transportasi yang pada bulan Juni hanya tercatat sebesar 0,11%, pada bulan Juli melonjak naik menjadi 1,74% yaitu hampir 16 kali lipat peningkatannya. 

Pada tahun 2016 Ramadhan (Juni-Juli) tercatat 0,66% dan 0,69%, dilihat sekilas mungkin tidak terjadi peningkatan signifikan, akan tetapi perlu diingat kembali Ramadhan tahun 2016 terjadi di awal bulan Juni, menjadi tidak relevan jika hanya membandingkan data bulan Juni dan Juni, sementara itu inflasi pada bulan Mei tercatat hanya sebesar 0,24% serta dibandingkan dengan tingkat inflasi tahunan 2016 sebesar 3,02%, bulan Ramadhan kembali menyumbang hampir setengah inflasi pada tahun 2016, dengan penyumbang inflasi terbesar merupakan kelompok bahan makanan (1,62% dan 1,12%) dan kelompok makanan jadi (0,58% dan 0,54%) dan yang mengalami peningkatan sangat signifikan dari kelompok transportasi yang pada bulan Juni hanya tercatat sebesar 0,63%, pada bulan Juli menjadi 1,22% yaitu hampir 2 kali lipat peningkatannya.

Pada tahun 2017 Ramadhan (Mei-Juni) tercatat 0,39% meningkat menjadi 0,69%, perlu diketahui bahwa pada bulan April terjadi inflasi tercatat hanya sebesar 0,09%, dengan penyumbang inflasi terbesar merupakan kelompok bahan makanan (0,86% dan 0,69%) dan kelompok makanan jadi (0,38% dan 0,39%) dan yang mengalami peningkatan sangat signifikan dari kelompok transportasi yang pada bulan Juni hanya tercatat sebesar 0,63%, pada bulan Juli menjadi 1,22% yaitu hampir 2 kali lipat peningkatannya.

Pada tahun 2017 Ramadhan (Mei-Juni) tercatat 0,39% meningkat menjadi 0,69%, perlu diketahui bahwa pada bulan April terjadi inflasi tercatat hanya sebesar 0,09%, dengan penyumbang inflasi terbesar merupakan kelompok bahan makanan (0,86% dan 0,69%) dan kelompok makanan jadi (0,38% dan 0,39%) dan yang mengalami peningkatan sangat signifikan dari kelompok transportasi yang pada bulan Juni hanya tercatat sebesar 0,23%, pada bulan Juli menjadi 1,27% yaitu hampir 2 kali lipat peningkatannya.

Pada tahun 2018 Ramadhan (Mei-Juni) tercatat 0,21% meningkat hampir tiga kali lipat menjadi 0,59%, dengan penyumbang inflasi terbesar merupakan kelompok bahan makanan (0,04% dan 0,19%) dan kelompok makanan jadi (0,05% dan 0,08%) dan yang mengalami peningkatan sangat signifikan dari kelompok transportasi yang pada bulan Mei hanya tercatat sebesar 0,03%, pada bulan Juli menjadi 0,26% yaitu 8 kali lipat peningkatannya.

Berdasarkan data tersebut dapat ditarik lima kesimpulan. Pertama, pasar cenderung memasok dan menimbun lebih banyak persediaan menjelang Ramadhan untuk menekan biaya serta meningkatkan keuntungan. Kedua, kelompok bahan makanan merupakan variabel paling berpengaruh pada tingkat inflasi di bulan Ramadhan, hal ini dapat terlihat jelas dari masyarakat yang berbondong-bondong menjadi pedagang dadakan takjil Ramadhan. Ketiga, peningkatan inflasi kelompok transportasi terjadi sangat tinggi umumnya disebabkan karena adanya budaya mudik serta arus balik pada saat lebaran. Keempat, besaran inflasi di bulan Ramadhan cenderung menurun selama empat tahun terakhir. Kelima, pemerintah belum menemukan cara yang efektif untuk menekan lonjakan inflasi pada variabel kelompok transportasi.

Disamping peran pemerintah untuk mengendalikan tingkat inflasi, terdapat peranan pemerintah yang memperburuk tingkat inflasi di bulan Ramadhan yaitu adanya peraturan yang mewajibkan institusi dan perusahaan membayar Tunjangan Hari Raya (THR) kepada aparatur sipil negara serta karyawan. Hal ini menyebabkan persediaan uang yang beredar di pasar meningkat. Semakin banyak uang beredar akibatnya semakin turun nilai riil uang. Pemerintah sebenarnya dapat mengatasi hal ini dengan menaikan suku bunga Bank agar menarik masyarakat untuk menyimpan uang, akan tetapi budaya tahunan Ramadhan dipadukan Lebaran lebih menarik minat masyarakat untuk mengeluarkan uang.

Lantas bagaimanakah cara pemerintah mengatasi inflasi di bulan Ramadhan?. Mengingat inflasi Ramadhan cenderung tergolong Inflasi Permintaan (demand pull inflation), pemerintah tidak akan pernah bisa mengatur tingkat permintaan masyarakat, sehingga mengatasi inflasi di bulan Ramadhan merupakan keniscayaan bagi pemerintah. Pemerintah hanya dapat mengendalikan tingkat inflasi Ramadhan agar tidak sampai terjadi hiperinflasi yaitu dengan mencegah terjadinya Inflasi Desakan Biaya (cost push inflation) di bulan Ramadhan. Langkah nyata yang diterapkan pemerintah adalah menjaga agar tidak terjadi kelangkaan barang dan jasa dengan memperbanyak bahan baku baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, menjaga kelancaran distribusi barang dan jasa serta desentralisasi pemerintahan sehingga masing-masing daerah aktif menjaga perekonomian masing-masing daerah dari ancaman inflasi. Fungsi ini dijalankan oleh Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang kemudian bersinergi antardaerah untuk mengefektifkan sistem deteksi harga dan memperlancar jalur pasokan.

Apakah inflasi selalu menjadi masalah untuk perekonomian di Indonesia?. Secara teoritis terdapat hubungan tarik-ulur (trade-off) jangka pendek antara tingkat inflasi dengan tingkat pengangguran, dimana ketika terjadi kenaikan tingkat inflasi maka akan terjadi penurunan tingkat pengangguran, begitu juga sebaliknya. Hal dapat dilihat ketika permintaan di pasar meningkat maka akan terjadi kenaikan harga, kenaikan harga merupakan insentif bagi perusahaan

untuk memproduksi lebih banyak barang dan jasa, sehingga perusahaan akan menyewa lebih banyak karyawan.

Ramadhan menjadi momen di mana terjadinya kenaikan tingkat inflasi serta menurunnya tingkat pengangguran. Momen ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bijak dalam menggunakan uang karena nilai riil uang yang turun selama Ramadhan. Selain itu momen ini juga dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan atau menciptakan lapangan pekerjaan baru.

*) Mahasiswa Program Studi Diploma III Akuntansi Alih Program Politeknik Keuangan Negara STAN


Penulis: Imam Sidiq Jaelani
Editor: Herri Novealdi



comments