Rabu, 26 Juni 2019

Memperingati Hari Lahir Pancasila : Bukan Hanya Bicara


Senin, 03 Juni 2019 | 14:57:58 WIB


/

Oleh : Ihsan Santana *)

 

 

 

PADA 1 juni 2019, diperingati kembali sebagai hari lahir Pancasila yang merupakan dasar negara Indonesia, ideologi bangsa ini, pedoman dalam hidup bermasyarakat. Hari lahirnya Pancasila diperingati dimana-mana dengan banyak cara. Upacara, suatu forum, sosialisasi dan lain sebagainya.

 

Lantas kita bertanya, apa bedanya kita yang berpancasila dengan tidak berpancasila itu? Apakah penilaian tersebut perlu diutarakan melalui tulisan “Saya Indonesia, Saya Pancasila?” Sebagai wujud kita menjadi individu yang pancasilais? Atau kini pancasila hanya sebagai aksesoris bangsa ini?

 

Sebagian dari kita lupa, ketika terlalu banyak berbicara tentang intoleransi, pluralisme dankemanusiaan diberbagai kesempatan, lupa menyadarkan diri sendiri untuk memberikan contoh yang amplifikasi pada banyak orang. Sebagian orang malah tidak sama sekali membicarakan Pancasila. Namun, dalam suatu  kesempatan mampu mengajak orang lain untuk memahami nilai berkehidupan yang beragam seperti yang terkandung dalam nilai Pancasila itu sendiri.

 

Bila kita terlalu memaksakan mengkonsumsi Pancasila tetapi kita tidak sadar akan diri sendiri yang juga tergiur dengan tawaran duniawi hingga kita rela menyikut saudara sendiri untuk memuaskan nafsu pribadi. Bukankan kita tampak munafik berkoar-koar tentang Pancasila jika berkelakuan seperti itu? Sederhana saja memahami Pancasila, yang perlu ditunjukkan itu sikap yang benar dalam mengaktualisasikan Pancasila. Tidak hanya sekedar omongan yang ujung-ujungnya juga korupsi, menindas negeri sendiri.  

 

Kita semua sadar, hanya saja nyaman ketika diam pada kondisi saat ini. Ketika kita nyaman, kita juga menjadi ikut-ikutan mengkonsumsi apa yang dikonsumsi lingkungan kita sendiri. Pemuda kini, lebih merasa percaya diri ketika mengkonsumsi budaya luar. 

 

Tidak ada yang salah akan hal itu, karena kita juga tidak bisa menghindar dari sebab dan akibat teknologi informasi yang begitu cepat berkembang dan dapat diakses dengan mudah sekarang. Namun yang perlu kita tahu, bahwa budaya luar itu menyebabkan terjadinya proses akulturisasi. Dimana proses ini dapat melunturkan nilai budaya suatu bangsa itu sendiri. Sebagai contoh kita menjadi individualistis, konsumerisme, lebih lanjutnya kita lupa budaya lokal yang seharusnya kita bersama lestarikan. Jika pemuda hari ini tidak segera disadarkan maka sikap yang bergerak sendiri itu akan terus dibudayakan dikemudian hari. Akhirnya, pemuda kini lupa akan jati diri bangsa sendiri.

 

 

 

Untuk masuk kedalam dunia pemuda zaman sekarang, harusnya pemerintah lebih kreatif mengemas Pancasila. Sehingga untuk menanamkan nilai pancasila masuk dengan murni dalam nurani pemuda itu dapat dilakukan dengan kejujuran tanpa embel-embel kepentingan pribadi ataupun golongan. Pemuda zaman sekarang memiliki frekuensi berbeda dengan pemuda zaman dahulu, maka jangan mengklaim pemuda zaman sekarang bersalah, tapi cerdaslah untuk selaras dengan frekuensi pemuda zaman now.

 

 

 

Hal yang paling mudah dan sederhana untuk menanamkan nilai-nilai pancasila itu terletak dalam karya. Karena karya adalah suatu wujud yang murni diciptakan. Ada banyak wujud karya yang bisa dibuat. Tinggal dipikirkan saja kemasan yang menarik untuk mengemas nilai-nilai itu dalam suatu karya yang sesuai dengan zamannya. Pasalnya, target utama yang perlu dan segera kita sadarkan tentang makna Pancasila itu terletak pada pemuda zaman sekarang. Karena merekalah yang akan menjalankan tongkat estafet negara ini untuk mejadi lebih baik lagi dikemudian hari.

 

 

 

Dalam segala kegiatan pemuda. Penyadaran pemuda akan pentingnya keberagaman dalam negeri ini perlu diterapkan. Penulis ambil contoh, banyak juga pemuda yang berkarya dengan jati diri bangsa sendiri, lebih terkhusus daerahnya sendiri. Kebudayaan lokal masyarakat didaerah mereka,diangkat dalam wujud yang kreatif. Baik itu dalam wujud musik, tarian, atau oleh-oleh khas didaerah mereka sendiri. hal seperti ini perlu kiranya didukung oleh pemerintah. Dukungan ini harapnya tidak hanya sekedar omongan belaka, tapi perlu juga wujud nyata. Sederhananya, fasilitasi pada jalan yang benar.

 

 

 

Hal yang seperti ini jika terus dibimbing dan diarahkan sesuai jalurnya, bukan tidak mungkin seluruh elemen masyarakat akan tumbuh kecintaannya terhadap nilai-nilai lokal yang terkadung dalam daerahnya. Sehingga, perbedaan-perbedaan itu akan terjaga dan sudah seharusnya dibersatukan melalui suatu karya. Dalam berkarya kita malah menjadi kaya dengan keberagaman yang kita miliki. “Ini yang kita punya, dan harusnya kita bangga punya ini.”

 

 

 

Nilai pancasila itu berjalan seraya adil dalam berkehidupan. Kita tahu kita beragam, tetapi kita tetap bersatu. Kita tidak mencaci, menjelekkan apapun yang berbeda dengan kita. Melalui perbedaan kita saling memahami bahwa kita tidak bisa memaksa semuanya sama. Yang perlu kita lakukan adalah saling menghargai perbedaan itu. Bukan, malah membenci.

 

 

 

Kekayaan kita adalah keberagaman yang kita miliki. Maka, sudah seharusnya kita bersyukur karena perbedaan itu kita dikenal sebagai negara yang kaya suku, agama, ras dan budayanya. Banyak orang luar yang mulai mengadopsi bagaimana nilai pancasila dijalankan dalam berkehidupan. Kita sebagai negara yang kaya ini malah sebaliknya, mengadopsi gaya luar yang punya. Jika hal seperti ini diteruskan, bukan tidak mungkin nilai-nilai lokal yang kita miliki akan tergerus oleh zaman.

 

 

 

Sudah saatnya kita memikirkan bersama untuk meningkatkan nilai lokal yang disukai milenial. Aku, Kamu dan Kita adalah Indonesia.

 

 

 

Terima kasih.

 

Salam hangat, penuh semangat!

 

 

*) Penulis adalah mahasiswa Fakultas Kehutanan Unja, asal Kualatungkal


Penulis: Ihsan Santana
Editor: Herri Novealdi



comments