Minggu, 21 Juli 2019

Negeri Pemuja Youtuber


Senin, 03 Juni 2019 | 15:04:24 WIB


/

Oleh : Ilham Akbar

SUATU   negeri  akan  menjadi   makmur,   apabila   pendidikan   di   dalam   negeritersebut mempunyai semangat untuk menyebarkan ide-ide yang revolusioner.

Padasaat ini pendidikan merupakan suatu hal yang paling menentukan dalam membawanegeri tersebut, menjadi negeri yang kokoh untuk berdiri di atas kakinya sendiri.Apabila pendidikan  di  dalam negeri tersebut sudah  berjalan  dengan baik, makatentu   saja   negeri   tersebut,   akan   dipenuhi   dengan   orang-orang   yang   mempunyaisemangat untuk membangun sebuah peradaban. Memang membangun pendidikanyang   mendorong   agar   rakyatnya   mempunyai   intelektual   yang   baik,   merupakansesuatu   yang   tidak   mudah.   Tetapi   bukan   karena   kesulitan   tersebut,   kita   harusmembiarkan kebodohan tersebut berkeliaran di mana-mana. Sebagai warga negarayang baik, maka sudah seharusnya kita membuat negeri ini menjadi negeri yangmengedepankan pendidikan yang bermutu.

Pendidikan yang bermutu akan terlihat dari bagaimana pendidikan di dalamnegeri tersebut bisa melahirkan cendikiawan-cendikiawan yang tidak hanya berpikirsecara normatif, tetapi juga harus mampu menenatang status quo dan diskriminasiyang sering kali menyiksa orang-orang yang tidak berdosa. Jika kita dapat melihatke belakang, ada beberapa bukti bahwa pendidikan yang bermutu bisa melahirkanseorang cendikiawan yang mempunyai kemampuan untuk menentang ketidakadilanyang ada di dalam negeri tersebut. Misalnya mengenai keruntuhan rezim komunisdi Uni Soviet dan beberapa negara di Eropa Timur pada tahun 1989, tidak terlepasdari suatu kontribusi cerdas para kaum cendikiawan yang ada di negeri tersebut. Misalnya   Alexander   Solzhenitysn   (pemegang   hadiah   Nobel   yang   sarjanamerangkap  pengarang),   termasuk  cendikiawan  yang  memperjuangkan  kebebasanberpikir   sebagai   sesuatu   yang   perlu   untuk   setiap   masyarakat   yang   ingin   maju.

 

Begitu   pun   dengan   Leslie   Holmes,   dalam   bukunya,   ia   mencoba   merangkum beragam   pendekatan   dengan   berbagai   kelebihan   dan   kekurangannya   yangberkembang  untuk  menjelaskan  kejatuhan   rezim   komunisme   di  berbagai   negara(terutama   di   Uni   Soviet  dan   negara-negara  Eropa  Timur)   sejak   1989.   Beragampendekatan itu menjelaskan  kejatuhan rezim  komunis,  karena faktor Gorbachev,kegagalan ekonomi, peran kekuatan oposisi, kompetisi dengan negara-negara Barat,koreksi dan reinterpretasi pada ajaran Marxisme (Budiardjo, 2008: 165).Berbeda   dengan   para   cendikiawan   tersebut,   di   negeri   kita   sendiri   justrupendidikan masih belum bisa melahirkan para cendikiawan yang berani menentangketidakadilan yang  selama  ini masih  sering kali  menghampiri  orang-orang yangtidak berdosa. Alih-alih menciptakan pendidikan yang baik, tetapi justru di negerikita   ini,   pendidikan   seolah-olah   menjadi   tidak   jelas,   dan   tidak   bisa   membuatgenerasi muda untuk mempunyai ide-ide yang revolusioner. Misalnya  saja yangterjadi   kemarin   ini,   di   mana   publik   sempat   dihebohkan   dengan   soal   ulangankenaikan   kelas   (UKK)   Sekolah   Dasar,   yang   berada   di   Kota   Serang.   Pada   soaltersebut,   terdapat   beberapa   pertanyaaan   pilihan   ganda   perihal   Youtuber   yangbernama Atta Halilintar. Selain itu juga,  di dalam soal tersebut dinyatakan bahwaAtta Halilintar adalah Youtuber dengan penghasilan sekitar 579 juta rupiah, hingga9 miliar rupiah per bulan.Tentu saja dengan adanya hal tersebut, sudah menunjukkan bahwa negeri initidak mempunyai keseriusan dalam membangun pendidikan yang berfungsi, untukmendorong   agar   para   generasi   muda   mempunyai   ide-ide   yang   revolusioner.Nampaknya juga, negeri ini lebih bersemangat untuk membangun generasi muda,agar  menjadi  seseorang yang  menghasilkan  uang  yang cukup  banyak.  Sehinggadengan adanya peristiwa mengenai Atta Halilintar tersebut, dapat menggambarkanbahwa ada suatu pegeseran paradigma mengenai pendidikan. Dimana yang awalnya

 

pendidikan itu selalu dipandang sebagai sesuatu yang dapat mengubah orang yang

 

awalnya bodoh, kemudian ia menjadi orang yang pandai. Tetapi karena adanya

 

peristiwa tersebut, pendidikan seolah-olah menciptakan paradigma baru, yaitu

 

pendidikan kini dipandang sebagai sebuah cara untuk menjadikan seseorang untuk

 

menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. 

 

Nampaknya negeri ini telah menjadikan pendidikan sebagai sarang kebodohan,

 

sehingga di dalam sarang tersebut, para siswa-siswi tidak pernah mendapatkan

 

suntikan intelektual yang dapat membuat dirinya menjadi seseorang yang

 

mengutamakan akal sehatnya. Bahkan kebodohan tersebut terus-menerus dipelihara

 

sampai mereka menganggap bahwa kebodohan tersebut, adalah hal yang dapat

 

membuat mereka menjadi seseorang yang sukses di masa depannya. Pada saat ini,

 

negeri kita tidak akan peduli, dengan sebarapa lama para siswa-siswinya

 

menghabiskan waktu untuk membaca buku, tetapi dengan adanya peristiwa tersebut

 

menunjukkan bahwa negeri kita akan peduli dengan para siswa-siswi yang

 

menghabiskan waktunya untuk menonton Youtube. 

 

Pada akhirnya, karena pendidikan kini sudah dialihfungsikan sebagai tempat

 

untuk mendidik siswa-siswinya agar menjadi Youtuber, maka yang menjadi

 

panutan bagi para siswa-siswi, bukan hanya para pahlawan yang telah gugur dalam

 

memperjuangkan kemerdekaan, tetapi juga para Youtuber yang mempunyai

 

penghasilan sampai miliaran rupiah. Sehingga pantas saja jika negeri ini, mendapat

 

julukan sebagai negeri pemuja Youtuber. Memang peristiwa tersebut, merupakan

 

sesuatu yang sangat tidak pantas untuk tetap dianggap sebagai hal yang biasa.

 

Karena apabila pendidikan yang ada di negeri ini, telah bergeser untuk berkiblat

 

terhadap para Youtuber, maka tentu saja hal ini akan membuat para generasi muda

 

tidak mempunyai kemampuan untuk berpikir kritis. Lalu bagaimana Indonesia akan

 

menjadi sebagai negara maju, jika para calon pemimpin di masa depannya saja

 

telah diracuni oleh sesuatu yang membuat mereka menjadi tekurung di dalam

 

sensasi yang tidak penting? 

 

Maka dari itu, sudah seharusnya pendidikan yang ada di negeri ini dapat

 

mendorong agar para siswa-siswi mempunyai kemampuan untuk berpikir kritis.

 

Sekolah harus mempunyai inisiatif untuk memberikan wadah diskusi yang bermutu

 

bagi para guru dan siswa-siswinya. Dan yang paling terpenting, sekolah harus

 

menciptakan akal sehat kepada para siswa-siswinya, agar mereka mempunyai ide-

 

ide yang revolusioner untuk menjadikan negeri ini sebagai negeri yang bermutu.

 

*) Penulis adalah mahasiswa Universitas Serang Raya


Penulis: Ilham Akbar
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments