Kamis, 27 Juni 2019

Mengorbankan Semangat Api Pancasila


Senin, 03 Juni 2019 | 15:13:35 WIB


/

Oleh : Wiranto B Manalu

 

PADA tanggal 1 Juni 1945 adalah salah satu hari yang paling bersejarah untuk Indonesia

 

yang mana pada saat itu adalah hari lahirnya ideologi negara kita yaitu Pancasila. Bung Karno

 

menyampaikan gagasannya atas pertanyaan pimpinan sidang Badan Usaha-usaha Persiapan

 

Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Dr. Radjiman Wedyodiningrat. Pada saat itu satu persatu

 

poin Pancasila disampaikan oleh Bung Karno walaupun sila yang disampaikan oleh Bung Karno

 

tidak seperti seutuh Pancasila yang sekarang ini karena ada pendapat yang berbeda yang harus

 

disatu persepsikan. Selanjutnya dibentuklah panitia sembilan untuk merumuskan Undang-

 

Undang Dasar, Pancasila kemudian dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar

 

1945 yang disahkan dan dinyatakan sah sebagai dasar negara Indonesia pada tanggal 18 Agustus

 

1945.

 

Bung Karno memunculkan Pancasila sebagai dasar negara sudah secara tajam

 

menganalisis ideology dunia yang berkembang saat itu dan beliau melihat tidak satupun ideology

 

itu yang dapat di terapkan di Indonesia . Bung Karno telah merumusakan Pancasila sebagai

 

wadah atas permaslahan yang ada di Indonesia baik secara vertikal maupun horizontal. Semua

 

masalah akan selesai jika permasalahan itu dihadapkan ke Pancasila. Pancasila secara eksplisit

 

menjanjikan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali, sehingga

 

ketika keadilan dapat dirasakan semua level masyarakat maka dengan sendirinya rasa persatuan

 

itu akan muncul dan menjamur dengan sendirinya.

 

Refleksi Falsafah Pancasila

 

Tiap poin Pancasila menjamin keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dimana

 

yang seperti sila pertama; Ketuhana Yang Maha Esa, Negara Indonesia bukan negara agama

 

melainkan negara yang Beragama. Indonesia mengakui enam agama dan tiap masyarakat

 

Indonesia berhak memilih agama manapun yang menurut mereka lebih baik dan tidak ada

 

intervensi dari siapapun. Kehadiran agama disebuah negara merupakan keuntungan karena

 

menjadi control sosial buat masyarakat selain kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah

 

karena tidak ada satupun agama yang mengajarkan yang tidak baik melainkan sebaliknya.

 

Selanjutnya; Pancasila merupakan hasil pemikiran yang sedalam-dalamnya dari

 

Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan,norma-norma,nilai-

 

nilai) yang paling benar dan bijaksana yang sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia. Pancasila

 

hadir karena satu persepsi bahwa Indonesia bukan di merdekakan oleh sekelompok orang atau

 

etnis melainkan dimerdekakan seluruh masyarakat bangsa Indonesia dan tentunya apa yang kita

 

perjuangkan bersama-sama harus kita nikmati bersama-sama juga. Semua yang ada di Indonesia

 

harus dinikmati setiap level masyarakat.

 

Tanggungjawab menunaikan cita-cita dan tujuan Pancasila sudah di warisakan kepada

 

setiap warga negara Indonesia. Pendidikan pancasila dari tingkat pendidikan yang paling rendah

 

sudah di terapkan. Pancasila niscaya harus dimengerti hingga mengakar rumput bagi seluruh

 

rakyat Indonesia. Harapan yang paling urgent dari pendidikan Pancasila merupakan

 

aktualisasinya bukan hanya sekedar penyelesaian kurikulum dan agenda pembelajaran saja, dan

 

seharusnya memasyarakatkan Pancasila merupakan beban moral bagi kelompok intelektual.

 

Menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), adalah salah satunya

 

mengetahui secara mendalam dasar negara kita sendiri yaitu Pancasila.

 

Ditengah keadaan Indonesia yang sangat majemuk pancasila memang harus di ilhami

 

setiap warga supaya masyarakat tidak keliru dalam perbuatannya sebagai warga negara. Konflik

 

horizontal maupun vertikal yang memicu disintegrasi bangsa harus sama-sama kita hindari,

 

beban yang harus kita tanggung bersama adalah solusi yang soluktif dan konstruktif untuk

 

kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Untuk mampu bersaing dengan negara-negara

 

lain tentulah kita harus bersatu tanpa sekat-sekat, dulu Indonesia bersatu untuk kemerdekaan dan sekarang Indonesia harus lebih bersatu demi kemajuan.

 

Merevolusi Pancasila

Revolusi tidak selalu dikonotasikan dengan kecepatannya apalagi diiringi dengan kekerasan melainkan esensi dari revolusi adalah kebaruan. Begitu pun dengan Pancasila,

Pancasila dirumuskan bersifat dinamis artinya mampu dibawa di segala zaman dan tetap

 

fungsinya maksimal sebagai pemersatu. Saat ini diperlukan kebaruan dalam menerjemahkan

 

madsud dan tujuan pancasila yaitu keadilan dan kemakmuran. Selain ideology perekat segenap

 

bangsa Pancasila juga menjadi tuntunan yang dinamis untuk kemajuan bangsa 

 

Seperti yang dikatakan Yudi Latief dalam bukunya Revolusi Pancasila. Revolusi

 

Pancasila bukanlah revolusi ala Prancis (1789) yang berlandaskan individualisme, juga bukan

 

revolusi proletariat ala Rusia (1917)yang melahirkan kediktatoran proletariat, akan tetapi

 

revolusi kemanusiaan yang sealun seirama dengan tuntutan budi nurani kemanusiaan yang

 

bersifat universal dan melampaui batas-batas kelas dan golongan. Dengan demikian revolusi

 

Pancasila merupakan revolusi kemanusiaan yang bersifat multidimensional, dengan cakupan

 

yang multikompleks yang mengandung, dimensi revolusi nasional, politik ekonomi, sosial dan

 

budaya.

 

Revolusi pancasila menghendaki model yang dinamis-interaktif: bahwa material dan

 

mental bisa saling mempengaruhi. Karena itu revolusi material harus berjalan seiringan dengan

 

revolusi mental. Di samping itu, relasi interaktif 2 revolusi ini menghendaki adanya mediasi dari

 

kekuatan agensi (kepemimpinan moral-intelektual). Sebab revolusi material dan mental

 

memerlukan dukungan kelembagaan dan kepemimpinan politik sebagai agen perubahan.

 

Orientasi dari ketiga ranah revolusi sosial itu adalah: pertama, revolusi material

 

diarahkan untuk menciptakan perekonomian merdeka yang berkeadilan dan berkemakmuran

 

yang berlandaskan gotong-royong; kedua, revolusi mental-kultural diarahkan menciptakan

 

masyarakat religius yang berprikemanusiaan, egaliter, mandiri dan bebas dari berhala

 

materialisme-hedonisme; dan ketiga, revolusi agensi diarahkan untuk menciptakan agen

 

perubahan dalam bentuk konsentrasi kekuatan nasional. Ketiga ranah revolusi tersebut diarahkan

 

untuk mencapai revolusi pancasila, yaitu mewujudkan prikehidupan bangsa dan kewargaan yang

 

merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.

 

Adapun tahapan-tahapan revolusi pancasila ditempuh melalui program-program prioritas,

 

yaitu; pertama, mengukuhkan pancasila sebagai ideologi negara dan pandangan hidup

 



 

bangsa; kedua, mengukuhkan negara hukum pancasila; ketiga, memperjuangkan kedaulatan

 

dalam politik; keempat, memperjuangkan kemandirian dalam perekonomian; kelima,

 

memperjuangkan kepribadian dalam kebudayaan; keenam, menguatkan kohesi sosial;

 

dan ketujuh, menguatkan sistem pertahanan-keamanan. Dengan demikian, tahapan-tahapan ini

 

hendak menegaskan bahwa Pancasila yang menjadi pelita kehidupan bersama tak hanya

 

sebatas common platform (kalimatun sawa’), tetapi juga menjadi praksis-ideologis dalam

 

menuntun perubahan sosial di Indonesia.

 

Dalam semangat Pancasila melalui pengikatan komitmen bersama dari seluruh

 

elemen revolusioner lintas agama, etnis, ideology dan kelas sosial. Keberhasilan revolusi sosial

 

tidak cukup dengan cara “memPancasilakan revolusi” malah yang lebih mendesak adalah cara

 

“merevolusikan pancasila” Artinya, Pancasila tidak cukup sebagai alat persatuan, tetapi juga

 

harus menjadi praksis-ideologis yang memiliki kekuatan rill dalam melakukan perombakan

 

mendasar pada ranah material dan mental sebagai katalis bagi perwujudan keadilan dan

 

kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Dalam mengejawantahkan Pancasila dibutuhkan ke insyafan semua lapisan masyarakat

 

karena tanggungjawab itu sudah diwariskan untuk para penerus generasi bangsa. Bung Karno

 

pernah mengatakan andai kalian tahu pancasila kami bentuk dengan darah dan air semua itu

 

semata-mata agar kami tidak berkelahi. Secara gamblang pernyataan ini menyiratkan tidak

 

mengharapkan konflik antar sesama warga mmasyarakat Indonesia apalagi pe rang saudara. Mari

 

kita sama sama merajut persatuan karena lawan kita bukanlah mereka yang berbeda agama

 

berbeda suku berbeda etnis. Lawan kita adalah mereka kapitalis yang sewenang-wenang

 

menindasmasyarakat kecil.

 

Penulis adalah mahasiswa fakultas ilmu sosial dan ilmu politik

 

Universitas Jambi


Penulis: Wiranto B Manalu
Editor: Herri Novealdi



comments