Selasa, 15 Oktober 2019

Kecakapan Literasi Baca Tulis dan Revolusi Industri 4.0


Senin, 24 Juni 2019 | 14:41:37 WIB


/ istimewa

Oleh : Sean Popo Hardi

Komunitas Gemulun Indonesia (Gerakan Masyarakat Pelestari Budaya Nusantara)

SEJAK
kemunculan media sosial dan menjamurnya pengguna internet belakangan ini penyebaran informasi menjadi tidak terkendali. Informasi tersebut baik dalam bentuk foto, tulisan, foto beserta tulisan diunggah oleh pengguna internet.

Dalam beberapa menit saja dunia maya (facebook, instagram, twitter, youtube) bisa menghasilkan jutaan huruf, kata, dan kalimat yang baru dari setiap unggahan dan komentar tersebut. Postingan itu dianggap dapat merepresentasikan ujaran untuk mengekspresikan sesuatu dari pengguna internet.

Pengguna media sosial beranggapan bahwa apa yang dipostingnya merupakan ungkapan yang dapat mewakili realitas. Segala informasi yang muncul dari setiap postingan tersebut tanpa melalui filter yang jelas. Informasi tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan. Para pengguna media sosial justru tanpa sadar telah terperangkap ke dalam realitas semu. Apa yang dipertunjukan di dalam media sosial justru didominasi oleh asumsi-asumsi bukan substansi dunia nyata.

Media sosial telah menggiring kesadaran masyarakat pada sebuah ilusi. Hari ini informasi untuk melaksanakan gotongroyong saja dapat diumumkan di media sosial. Bahkan undangan pernikahan pun disebar melalui media sosial atau WhatsApp. Betapa ruang dan waktu kini tidak lagi pada konteks realitas yang nyata. Bisa dibayangkan jika informasi yang beredar tersebut tidak valid. Berapa banyak pengguna internet termakan informasi tidak jelas kebenarannya yang disebar melalui media sosial dalam ponsel pintar itu.

Mayoritas orang Indonesia menggunakan perangkat ponsel pintar untuk menemani semua aktivitas mereka setiap hari. Satu orang Indonesia bisa memiliki lebih dari satu perangkat ponsel pintar. Belum lagi pengusaha online bisa memiliki beberapa perangkat ponsel pintar. Hal ini akan berdampak pada tingginya jumlah postingan (informasi) dalam media sosial baik sebagai penjual maupun pembeli. Belum lagi postingan dari pengguna internet lainnya yang menggunakan media sosial untuk mempertunjukan gaya hidup mereka.

Minimnya kesadaran membaca cermat teks-teks yang bergentayangan di internet membawa manusia hari ini beralih dari nilai guna dan nilai tukar ke nilai tanda dan nilai simbol. Apa yang diposting oleh pengguna internet seakan menunjukan simbol kecantikan, kebenaran, kebaikan menurut versi mereka tanpa mempedulikan realitas yang sebenarnya. Akibatnya sejumlah wacana baru dapat dengan mudah terbentuk dalam hitungan menit saja. Hal ini karena masyarakat Indonesia belum memiliki kebiasaan membaca dan mencari informasi.

Masyarakat Indonesia berada dalam keadaan kemampuan mengolah, mengidentifikasi dan menggunakan informasi yang relatif rendah. Pesan-pesan berantai yang dikirim melalui pesan di media sosial dengan mudahnya disebarluaskan. Tak jarang pesan tersebut menimbulkan efek negatif yang dapat memecah-belah pihak-pihak tertentu. Hal itu seharusnya dapat dihindari jika kebiasaan membaca menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari.
Hingga hari ini Indonesia masih tercatat sebagai negara paling buruk dalam hal budaya literasi baca-tulis di dunia. Bahkan tertinggal jauh dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam. Angka buta huruf orang dewasa pun masih terbilang tinggi. Padahal, upaya untuk mengentaskan buta huruf sudah jauh hari digalakkan oleh pemerintah sejak pasca kemerdekaan hingga hari ini dengan berbagai program-program yang dilakukan.

Pada tahun 2016 Kemendikbud mulai menggiatkan gerakan literasi nasional (GLN). Gerakan ini menyasar pada literasi sekolah, literasi keluarga, dan literasi masyarakat yang di dalamnya mencakupi kemampuan baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, budaya dan kewargaan. Literasi sekolah berarti kegiatan literasi yang dilakukan di lingkungan sekolah. Sedangkan literasi keluarga dan masyarakat berarti gerakan literasi yang dilakukan di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Gerakan literasi menjawab fenomena rendahnya minat dan daya baca-tulis masyarakat Indonesia terhadap informasi aktual dan valid. Kevalidan informasi tersebut dapat dicapai jika kemampuan membaca masyarakat tinggi. Dengan begitu dapat mengurangi peredaran berita-berita bohong di tengah masyarakat. Sehingga opini publik tidak dengan mudah dipengaruhi oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan tertentu pula. Dengan membaca akan membentuk pikiran kritis yang mampu menyaring setiap informasi yang diterima.

Literasi menurut UU No. 3 tahun 2017 pasal 1 ayat 4 adalah kemampuan untuk memaknai informasi secara kritis sehingga setiap orang dapat mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai upaya dalam meningkatkan kualitas hidup. Dengan begitu masyarakat dapat menjadi media penyaring informasi mandiri. Apalagi hal ini didukung dengan sarana dan prasarana yang telah tersedia serta mudah diakses. Keinginan menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang gemar membaca dan berpikir aras tinggi dapat benar-benar tercapai.

Tuntutan ilmu pengetahuan abad ke- 21 diraih dengan kemampuan literasi yang baik. Kemampuan literasi yang rendah akan menyulitkan kita untuk memilah dan memilih informasi sebagai sumber ilmu pengetahuan. Sebaliknya, mereka yang terbiasa membaca dan menulis akan mampu beradaptasi dengan tuntutan jaman dan berpeluang untuk mengubah status sosial dan kesejahteraannya menjadi lebih baik. Dengan kemampuan literasi yang baik maka akan membentuk masyarakat yang berpikir dan masyarakat pembelajar untuk menghadapi revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan berkembangnya internet.

Adapun prinsip belajar abad 21 menurut UNESCO (1996) yakni learning to know (belajar mengetahui), learning to do (belajar melakukan sesuatu), learning to be (belajar menjadi sesuatu), dan learning to live together (belajar hidup bersama). Prinsip belajar ini ditumpukan pada kemampuan literasi seseorang dalam membaca, menulis dan berkomunikasi. Kemampuan itulah yang akan menjadi bekal manusia Indonesia dalam menghadapi persaingan global menuju negara maju. Menjadi manusia Indonesia yang mampu berpikir kritis, komunikatif, berkolaborasi, kreatif serta inovatif.


Penulis: Sean Popo Hardi
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments