Selasa, 15 Oktober 2019

Krisis Gedung Pertunjukan


Rabu, 26 Juni 2019 | 14:44:36 WIB


Muhammad Alfath
Muhammad Alfath / istimewa

Oleh Muhammad Alfath

PADA 14 Juni 2019,Teater Arena Taman Budaya Jambi kembali menjadi tempat pergelaran karya tugas akhir Strata-1 (S-1) mahasiswa bidang penciptaan seni Program Studi Seni Drama Tari dan Musik (Prodi Sendratasik), Fakultas Ilmu budaya, Universitas Jambi. Saat itu komposisi tari berjudul Ink karya Adhe Fajar yang dipertunjukkan. Komposisi tari Ink mengungkapkan kisah perjalanan hidup pengkarya dengan lika-liku masalah dalam profesi dan hobinya, yang mana pada kesehariannya pengkaya berprofesi sebagai penata rias.

Ibarat melukis, menggores tinta dengan berbagai warna di kanvas itu terlihat menakjubkan, namun diantara semua warna yang disuguhkan ada beberapa yang terlihat gelap dan dipandang usang. Jika hal itu dijabarkan dalam kehidupan, maka dapat dipahami sebagai guratan warna atau jalan hidup yang kita pilih.
Begitulah potongan sinopsisnya. Yang mana kisah perjalanan hidup pengkarya ini diungkapkannya melalui medium gerak, dan didukung oleh ekspresi warna pada kostum, properti, dan pengolahan lighting (pencahayaan). Pengkarya menggunakan material gerak yang diolah dan dikembangkannya dari kesenian tradisi, yaitu motif gerak anggut yang berasal dari Sebrang Kota Jambi.

Selain komposisi tari Ink, sebelumnya di Teater Arena Taman Budaya Jambi juga dipertunjukkan karya-karya tugas akhir mahasiswa Prodi Sendratasik lainnya. Diantaranya komposisi musik berjudul Ngimbau Tuan karya Gen Dekti. Komposisi musik ini dipergelarkan pada 30 April 2019. Ngimbau Tuan dilatar belakangi oleh Ritual Pumbaru Jikat yang ada di Kecamatan Siulak Mukai, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Pengkarya menginterpretasi tahapan-tahapan yang ada di ritual tersebut menjadi ide non-musikal (ide bukan musik), dan mengadopsi unsur-unsur bunyi dari setiap prosesinya untuk dijadikan figur, motif, dan tema musikal. Hal ini pengkarya susun ke dalam bentuk musik tiga bagian, yang setiap bagiannya diberi sub-judul, Part I (Jikat), Part II (Asik), dan Part III (Sembah), dan dihadirkan dengan format mix ensamble (ensambel campuran).

Di lain waktu, yaitu pada 26 Januari 2019, komposisi tari berjudul Lentera Pembawa Cahayagarapan Susi Suktari juga dipertunjukkan di Teater Arena Taman Budaya Jambi. Sama halnya dengan komposisi tari Ink, dalam Lentera Pembawa Cahaya, pengkarya juga menjadikan gerak anggutsebagai dasar material, yaitu gerak seperti sholat, zikir, dan silat yang diolah dan dikembangkanya, namun nilai ekstrinsik (isi seni yang diungkapkan melalui media seni) komposisi tari ini berbeda dari Ink.

Komposisi tari Lentera Pembawa Cahaya menceritakan tentang karakter ayah yang kuat, dan sabar dalam berjuang untuk menafkahi istri, dan membesarkan anak-anaknya. Selain itu, di waktu dan tempat yang sama juga dipergelarkan karya tugas akhir mahasiswa Prodi Sendratasik lainnya, yaitu komposisi tari berjudul Terang Dalam Gelap karya Meirisa Yulandari, dan komposisi tari berjudul Perempuan di Balik Bayang ciptaan Deli Monica Asmara.

Dengan demikian, untuk mewujudkan karya seni pertunjukan (musik, tari, dan drama) ada banyak hal yang perlu dipersiapkan dengan matang, diantaranya kemampuan pengkarya dalam membaca fenomena serta kecanggihan penafsirannya, dan kepiawaian pengkarya dalam mengolah material seni. Kemudian juga dibutuhkan pendukung karya seperti pemusik, penari, atau aktor yang terampil untuk mengekspresikan maksud pengkarya, dan pengaturan manajemen pergelaran yang baik. Selain itu yang tak kalah penting adalah fasilitas pertunjukan seni yang memadai.

Fasilitas yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pertunjukan seni, dan pembelajaran seni salah satunya ialah gedung pertunjukan. Mengapa gedung pertunjukan?Karena sarana ini bisa menjadi tempat untuk mendukung perkuliahan, misalnya mata kuliah artistik, mahasiswa dapat bereksplorasi tentang tata panggung, tata cahaya, pengaturan sound system, dll. Gedung pertunjukan juga menjadi tempat pementasan karya tugas akhir mahasiswa, ataupun pergelaran lain baik yang bersifat formal ataupun hiburan. Dalam seni pertunjukan sebenarnya membutuhkan banyak gedung dengan berbagai spesifikasi, misalnya gedung yang berbentuk arena, berbentuk concert hall, ataupun yang berbentuk semi outdoor. Hal ini dikarenakan dalam seni pertunjukan tiap-tiap konsentrasi (drama, tari, ataupun musik) membutuhkan spesifikasi gedung yang berbeda-beda.Dengan adanya fasilitas yang memadai, maka akan semakin memotivasi mahasiswa dalam berkesenian, memberikan rasa kepercayaan diri, dan sebagainya.

Tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan mahasiswa Sendratasik Universitas Jambi untuk sebuah pertunjukan seni, terutama dana sewa gedung pertunjukan. Seharusnya mahasiswa sendratasik tak perlu mengeluarkan budget untuk itu jika memiliki gedung pertunjukan sendiri. Bisa saja uang sewa tersebut dialihkan untuk hal lain, seperti untuk memaksimalkan properti pertunjukan, menambah artistik, dll.

Prodi Sendratasik Universitas Jambi merupakan satu-satunya program studi seni di Provinsi Jambi, yang mana lulusannya diharapkan mampu mengembangkan seni yang ada di Provinsi Jambi. Oleh sebab itu dalam proses perkuliahan dan proses berkesenian juga harus didukung oleh fasilitas yang memadai, agar para alumni lebih berkualitas atau dapat lebih mengembangkan ilmu seninya. Gedung pertunjukan merupakan salah satu fasilitas yang sangat dibutuhkan oleh para mahasiswa Sendratasik Universitas Jambi saat ini.

Mahasiswa Program Studi Seni Drama Tari dan Musik Universitas Jambi


Penulis: Muhammad Alfath
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments