Sabtu, 20 Juli 2019

Kejati Bidik Proyek Auditorium UIN STS Jambi


Selasa, 02 Juli 2019 | 10:59:05 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Dok.metrojambi.com

JAMBI – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jambi kini tengah membidik mega proyek auditorium di Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Syaifuddin Jambi. Pasalnya, proyek yang bernilai Rp35 miliar itu pekerjaannya mangkrak.

Saat ini, proyek itu tengah dilakukan pengusutan oleh tim penyidik pidana khusus (Pidsus) Kejati Jambi. Menurut sumber terpercaya di Kejati, kasus tersebut sudah pernah di ingatkan oleh tim Pengawal dan Pengaman Pemerintahan dan Pembangunan (TP4) Kejati.

"Dulu sudah diingatkan. Kalau tidak salah sudah tiga kali diingatkan oleh TP4D," katanya, Senin (1/7/2019).

Menurutnya, persoalan pembangunan auditorium tersebut tidak tercapai hingga batas waktu yang ditentukan yakni sejak 7 Juni 2018 hingga 31 Desember 2018, dengan waktu 208 hari kalender.

"Kita sudah ingatkan untuk memperbaiki, tapi ngak bisa. Ya sudah kita putus dari TP4D," ungkapnya.

Masih menurut sumber, proyek auditorium UIN STS Jambi itu bernilai Rp 35 miliar. Namun, nilai tersebut tidak serta merta langsung dicarikan, melainkan dikucurkan sebanyak Rp 7 miliar atau sekitar 20 persen

"Ya segitu, tapi dana yang dicarikan itu kemudian digunakan untuk yang lain. Yakni senilai Rp 4,5 miliar, sisanya baru digunakan untuk pembangunan, sehingga hanya dapat dikerjakan sekitar 7 persen," tutup sumber itu.

Kasi Penerangan Hukum (Penkum) Kejati, Lexy Paratani, dikonfirmasi wartawan mengatakan, kasus tersebut saat ini masih dalam tahap penyelidikan (Lid) oleh Tim Pidana Khusus (Pidsus) Kejati. "Masih Lid (penyelidikan, red)," katanya.

Dia juga menyebutkan, jika kasus yang masih dalam Lid itu merupakan kasus 2018 di UIN STS Jambi. "Gedung dibangun tahun 2018 lalu," tandasnya.

Informasinya, gedung yang dibangun senilai Rp 35 miliar tersebut dikerjakan oleh PT Lambok Ulina, lewat Surat Keputusan DR. H. Hadri Hasan MA selaku Rektor UIN sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dengan Surat Perjanjian Nomor 46-Un.15/PPK-SBSN/KU.01.2/06/2018 untuk memulai pelaksanaan pekerjaan selambat-lambatnya selama 208 hari kalender, terhitung sejak 7 Juni 2018 hingga 31 Desember 2018.

Dalam kasus ini, PT Lambok Ulina telah mencairkan uang muka sebesar 20 persen atau sekitar Rp7 miliar. Namun uang muka atau (DP) tersebut tidak sepenuhnya digunakan untuk pekerjaan gedung auditorium tersebut. Hanya senilai Rp1,5 miliar saja yang dapat digunakan PT. Lambok Ulina.

Uang senilai Rp7 miliar atau 20 persen itu informasinya digunakan sebanyak Rp4,5 miliar untuk pembayaran hutang atau minus terhadap pekerjaan proyek gedung laboratorium UIN STS Jambi yang dikerjakan oleh PT. Delbiper Cahaya Gemilang.

Uang sisa dari pembayaran hutang Rp1,5 inilah yang dipergunakannya untuk memulai pekerjaan gedung auditorium. Akibatnya pembangunan mangkrak dan pekerjaannya yang terealisasi hanya tercapai 7 persen.


Penulis: Sahrial
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments