Kamis, 24 Oktober 2019

Danrem: Bencana Karhutla Lebih Besar Dari Perang


Jumat, 12 Juli 2019 | 15:08:55 WIB


Komandan Korem (Danrem) 042/Garuda Putih (Gapu), Jambi Kolonel Arh Elphis Rudy
Komandan Korem (Danrem) 042/Garuda Putih (Gapu), Jambi Kolonel Arh Elphis Rudy / istimewa

JAMBI- Komandan Korem (Danrem) 042/Garuda Putih (Gapu), Jambi Kolonel Arh Elphis Rudy mengatakan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengakibatkan kabut asap lebih besar dari perang sebab itu perlu dilakukan pencegahannya.

Hal tersebut disampaikan Danrem Elphis Rudy pada saat pertemuan koordinasi kebakaran hutan dan lahan di Balai Prajurit Korem 042/Gapu. Dia mengatakan, bencana kebakaran hutan dan lahan lebih besar dari perang seperti kebakaran hutan dan lahan yang terjadi pada 2015 yang lalu mengakibatkan terjadinya kabut asap, sebab itu saya selaku Danrem selalu meminta kepada Dandim jajaran untuk terus memantau hotspot di daerahnya masing-masing.

Menurutnya ada hal menonjol yang harus diantisipasi yakni kesadaran masyarakat yang masih rendah dalam pembakaran hutan dan lahan. Selain itu deteksi dini juga masih kurang karena personel belum mumpuni dan terbatasnya personel pemantauan.

"Kita masih menggunakan satelit padahal yang terbakar bukan lahan tetapi terdeteksi hal Ini butuh informasi dini," ujarnya. Selain itu dalam penanggulangan karhutla di Provinsi Jambi, peralatan yang dimiliki Jambi masih kurang sehingga tidak akan mampu memadamkan api, dimana akses ke lokasi juga sulit yang hanya bisa dilakukan jalan kaki maka saat ini Korem 042 Gapu telah bisa memantau dari Posko Karhutla di Makorem 042/Gapu.

Konsep operasi agar tepat sasaran butuh sosialisasi kepada masyarakat tentang bahayanya melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar dan itu harus dilakukan secara masif ke tengah masyarakat sedangkan TBNI juga telah melakukan patroli secara rutin dan deteksi dini sehingga dapat diinventarisir.

Sementara itu Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Provinsi Jambi, Agus Sunaryo mengatakan pertemuan koordinasi karhutla itu sangat penting, dimana perkembangan perkebunan sangat banyak, di sisi lain Jambi juga rawan kebakaran hutan dan lahan bahkan terjadi setiap tahunnya.

Petani Jambi juga masih banyak yang melakukan pembakaran lahan dengan alasan kesuburan tanah namun dampaknya beberapa aspek sosial, ekonomi bahkan berpengaruh terhadap hubungan internasional.

"Inilah salah satu yang menyebabkan buruknya citra produksi kelapa sawit Indonesia," katanya. Untuk itu Pemprov Jambi kata Agus telah berupaya mengantisipasi hal tersebut sehingga secara berangsur-angsur berkurang. Hingga bulan Juni 2019 di Jambi terdapat 79 hotspot. "Saya minta kepada perusahaan perkebunan untuk dapat melakukan mobilisasi jika terjadi kebakaran kebun dan lahan," kata Agus.


Penulis: ***
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments