Senin, 21 Oktober 2019

Penurunan Kemiskinan di Tengah Upaya Mengurangi Kesenjangan


Senin, 15 Juli 2019 | 13:16:18 WIB


/ istimewa

Oleh : Syaeful Muslih *)

 

PADA hari senin tanggal 15 Juli 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi merilis data terbaru kemiskinan hasil survei sosial ekonomi nasional (Susenas) pada bulan Maret 2019. BPS mencatat bahwa persentase penduduk miskin Provinsi Jambi pada Maret 2019 mengalami penurunan sebesar 0,26 persen poin dari yang sebelumnya sebesar 7,85 persen pada september 2018.

 

Hasil rilis data tersebut juga memberi kabar baik tambahan, dimana untuk pertama kalinya persentase penduduk miskin perkotaan menyentuh angka 1 digit, dimana sebelumnya selalu berada diatas 10 persen. pada Maret 2019, persentase penduduk miskin perkotaan sudah mencapai 9,81 persen.

 

Penurunan persentase penduduk miskin disebabkan oleh berkurangnya jumlah penduduk miskin sebanyak 7,2 ribu orang. Hal ini terjadi baik di daerah perkotaan maupun perdesaan, dimana masing-masing berkurang sebanyak 1,4 ribu orang dan 5,7 ribu orang.

 

Naik-turunnya angka kemiskinan tidak terlepas dari perubahan Garis Kemiskinan (GK) yang dijadikan tolak ukur dalam penentuan apakah penduduk tersebut masuk sebagai penduduk miskin atau bukan. Garis kemiskinan pada Maret 2019 sebesar Rp. 448.509 per kapita per bulan atau naik 4,2 persen dari periode September 2018.

 

Indikator yang dijadikan pembanding dengan garis kemiskinan adalah pengeluaran perkapita sebulan dari penduduk. Pengeluaran ini memang berubah sesuai dengan kondisi ekonomi masyarakat, besar-kecilnya pengeluaran ini tentunya dipengaruhi juga oleh harga-harga komoditi kebutuhan sehari-hari yang dikonsumsi oleh masyarakat.

 

Kesenjangan Penduduk Miskin

 

Selain persentase dan jumlah penduduk miskin, ada beberapa indikator lainnya yang bisa diambil dari data rilis tersebut dalam memahami kondisi kemiskinan. Dua diantaranya adalah indeks kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan.

 

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1), merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran pesuduk dari garis kemiskinan.

 

Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin.

 

Pada Maret 2019, indeks kedalaman kemiskinan mengalami penurunan dari 1,256 pada september 2018 menjadi 1,228 pada maret 2019. Hal yang sama juga terjadi di perkotaan, namun tidak untuk di perdesaan. Indeks kedalaman kemiskinan perdesaan mengalami kenaikan 0,06 poin dari sebelumnya 0,919 (September 2018) menjadi 0,981.

 

Hal ini memberikan gambaran bahwa meskipun terjadi penurunan baik dari jumlah maupun persentase penduduk miskin di perdesaan, namun ternyata penduduk miskin perdesaan yang ada sekarang mempunyai pengeluaran rata-rata per kapita yang menjauh dari nilai garis kemiskinan.

 

Dengan kata lain, penduduk miskin di perdesaan yang pada periode Maret 2019, kondisinya lebih buruk daripada kondisi pada periode sebelumnya.

 

Sama halnya dengan indeks kedalaman, indeks keparahan pun mengalami penurunan, namun penurunan ini juga hanya terjadi di daerah perkotaan. Sebaliknya untuk di daerah perdesaan mengalami kenaikan.

 

Kondisi ini mengindikasikan bahwa kesenjangan pengeluaran sesama penduduk miskin perdesaan pada Maret 2019 menjadi semakin tinggi dibandingkan dengan periode September 2018.

 

Dana Desa

 

Fokus pembangunan tidak hanya bertujuan untuk mengurangi jumlah dan persentase penduduk miskin, kedalaman dan keparahan kemiskinan pun harus mulai menjadi tujuan pembangunan.

 

Dana Desa menjadi salah satu program pemerintah yang bisa mengatasi kondisi kemiskinan di perdesaan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Bisa saja ada klaim yang menyatakan bahwa dana desa bisa menurunkan kemiskinan perdesaan namun sebetulnya dana desa juga seyogyanya bisa menurunkan tingkat kesenjangan antar penduduk miskin perdesaan.

Kesenjangan antar penduduk miskin di perdesaan bisa saja terjadi akibat peran penduduk miskin yang berbeda dalam kegiatan ekonomi dan pembangunan di desa. Artinya bisa jadi pembangunan dari dana desa yang selama ini terjadi baru bisa mengangkat sebagian penduduk miskin, namun belum bisa mengurangi kesenjangan antar penduduk miskin tersebut.

 

Keterlibatan semua penduduk miskin dalam kegiatan yang bersumber dari dana desa bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi kesenjangan, setidaknya dari kegiatan tersebut mampu menambah sumber pendapatan yang pada akhirnya akan meningkatkan pengeluaran rumah tangga.

 

Selama ini hanya indeks gini yang banyak digunakan oleh pemangku kebijakan untuk mengukur kesenjangan, namun demikian indeks gini hanya mengukur kesenjangan penduduk secara umum.

 

Bagaimana kesenjangan antar sesama penduduk miskin jarang diperhatikan, padahal dari sini kita akan tau seperti apa kondisi penduduk miskin dan kebijakan apa yang tepat.

 

Kedepan, setiap proses pembangunan diharapkan bisa mengurangi kesenjangan kemiskinan baik antar penduduk maupun sesama penduduk miskin itu sendiri.

 

 

 

 *) Penulis adalah statistisi BPS Provinsi Jambi 


Penulis: Syaeful Muslih
Editor: Herri Novealdi



comments