Minggu, 25 Agustus 2019

Sebagian Besar Anggota SMB Bukan Warga Jambi, Jadikan SAD Sebagai Tameng


Jumat, 19 Juli 2019 | 20:16:11 WIB


Kapolda Jambi Irjen Pol Muchlis AS bersama Gubernur Jambi Fachrori Umar dan Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI Irwan saat menunjukkan barang bukti senjata api rakitan yang diamankan dari penangkapan kelompok SMB
Kapolda Jambi Irjen Pol Muchlis AS bersama Gubernur Jambi Fachrori Umar dan Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI Irwan saat menunjukkan barang bukti senjata api rakitan yang diamankan dari penangkapan kelompok SMB / Metrojambi.com

JAMBI - Personel gabungan dari Polda Jambi dan Korem 042/Gapu akhirnya memgambil tindakan tegas terhadap kelompok Serikat Mandiri Batanghari (SMB), yang beberapa hari lalu melakukan aksi anarkis dengan menganiaya anggota Satgas Karhuta dan merusak sejumlah fasilitas milik PT. Wirakarya Sakti (WKS).

Kamis (18/7/2019) kemarin, 45 orang anggota SMB termasuk pimpinannya yang bernama Muslim, ditangkap di Desa Bikit Bakar, Kecamatan Renah Mendaluh, Kecamatan Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar). Mereka kemudian dibawa ke Mako Brimob Polda Jambi untuk dilakukan pemeriksaan.

Hasil pemeriksaan, 20 orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Selain menetapkan tersangka, pihak kepolisian juga mengamankan sejumlah barang bukti, diantaranya 11 senjata api rakitan dan 25 bilah senjata tajam berbagai jenis.

Dari data yang berhasil dirangkum, kelompok SMB ini muncul pertama kali pada awal 2018 lalu. Pemimpinnya diketahui bernama Muslim, kelahiran Lampung.

Dia diduga mengumpulkan dan memprovokasi masyarakat hingga bergabung dengan SMB untuk kemudian menduduki lahan di areal distrik IV, Desa Sengkati Baru, Kecamatan Mersam, Kabupaten Batanghari.

Namun berdasarkan data dari tim terpadu penanganan konflik Provinsi Jambi, sebagian besar anggota SMB bukan merupakan warga Jambi, melainkan pendatang yang diduga telah dijanjikan Muslim untuk mendapatkan lahan.

"Mereka ada yang dari Lampung, Bengkulu, dan daerah lainnya," ujar Sigit Eko Yuwono dari tim terpadu penanganan konflik Provinsi Jambi, Jumat (19/7/2019).

Ditambahkan Sigit, Muslim juga mengajak kelompok Suku Anak Dalam (SAD) untuk bergabung dengan SMB. Sigit menegaskan jika SMB bukanlah SAD, melainkan hanya menjadikan SAD sebagai tameng jika terjadi konflik.

"Muslim Cs mengajak SAD untuk bergabung. Namun bila terjadi apa-apa, SAD yang diletakkan paling depan," beber Sigit, saat dikonfirmasi wartawan di Mapolda Jambi.

Lebih lanjut Sigit mengatakan, Muslim dan kelompoknya tidak pernah kooperatif saat diundang untuk menyelesaikan konflik. Bahkan Sigit menyebut sebelum dilakukan penangkapan pihaknya juga sempat menyurati Muslim Cs.

"Dari 26 kali undangan rapat terbuka yang kami adakan, Muslin Cs hanya hadir sekali. Bahkan sebelum penagkapan kami telah mengirimkan surat. Namun surat tersebut pun tidak dibaca," pungkasnya.

Sebelumnya, Kapolda Jambi Irjen Pol Muchlis AS mengatakan kelompok SMB pimpinan Muslim sudah sering berulah. Dikatakan Muchlis, sejak tahun 2018 lalu ada 14 laporan aksi kriminalitas yang melibatkan kelompok SMB.

"Laporannya ada yang di Polres Tabo, Polres Batanghari, Polres Tanjung Jabung Barat, dan juga Polda Jambi," beber Muchlis.

Ditambahkan Muchlis, kelompok SMB pimpinan Muslim ini melakukan aksinya secara masif dan terorganisir. Muchlis juga mengatakan jika kelompok SMB tidak hanya melakukan teror dan penganiayaan terhadap karyawan PT. WKS, namun juga masyarakat.

"Terakhir salah seorang Kades (Kepala Desa) dianiaya. Juga anggota TNI/Polri," ungkap Muchlis.


Penulis: Ikbal Ferdiyal
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments