Sabtu, 24 Agustus 2019

Pendekar Terakhir Silat Langkah Tiga Pematang Galangang Kerinci


Sabtu, 03 Agustus 2019 | 16:47:37 WIB


/ Istimewa

M. Ali Surakhman

SEBELAH Utara Kota Sungai Penuh, terdapat sebuah bukit, yang termasuk jejeran bukit barisan, di bukit bertanah merah, yang ditumbuhi padang ilalang, tidak terlalu subur, juga tidak terlalu gersang, permukaannya bertebebaran pasir silika, yang oleh masyarakat setempat di sebut “batu gahang” atau batu garam, silikat (silicate) adalah garam asam silisik (salt of silicic acid, H2SiO3), sangat banyak terdapat secara alamiah dalam bentuk senyawa kimiawi silika dengan metal atau logam, terutama dalam karang yang mengandung silikat kalsium (calcium, Ca), silikat alumunium (Al), silikat magnesium (Mg), dan silikat lain metal.

Asam silisik adalah bahan seperti gelatin yang bisa diperoleh dari reaksi silikat dengan asam, diantaranya seperti asam meta-silisik (meta-silicic acid, H2SiO3 = H2O.SiO2) dan asam orto-silisik (ortho-silicic acid, H4SiO4 = 2H2O.SiO2). ini membuktikan bahwa sebelum adanya dataran tinggi Kerinci, pada saat zaman es terakhir daerah ini masih terendam laut, 20.000 tahun yang lalu dan berakhir kira-kira 10.000 tahun lalu atau pada awal kala Holocene (akhir Pleistocene). Proses pelelehan es pada zaman ini berlangsung relatif lama dan beberapa ahli membuktikan proses ini berakhir sekitar 6.000 tahun yang lalu.

Dalam pantun tua Kerinci juga menyebutkan dahulu alam Kerinci adalah laut:

“Alam Kerinci di kandung laut

pucuk rotan lintang melintang

Langkah rezeki bertemu maut

"Benjak serak adalah kehendak tuhan”

Dan dalam pengankatan sumpah tua para tetua adat, Depati, Datuk, Rio dan Ngapi bait bait menceritakan terbentuknya alam Kerinci dimana sebelum banjir besar dan laut saat air belum susut,

Baru sehelai rumput rantai Serumpun sinanggiri

Sekepal tanah makam sedidih laut sedebur ombak

Ninik kita Sri Maharaja Zulkarnaini yang bertanduk sakti cundik keramat,

Dengan bidadari dari sorga, membawa suri langit tiru teladan,

Membawa turak dengan turai,

Ambak teladan lantit anyam teladan tenun sekarang teladan dahulu.

Dalam ombak bersintak naik pasang bersintak turun,

Sri Maharaja membawa redap dengan kecapi, adat dengan lembago,

Tanduk sakti, cundik keramat dikerat tujuh:

-Nan jadi Jata-Jati amat indah  laksana mahkota

-Nan jadi cermin terus teraja kebayang kilat dewa Bukit Tursina

-Nan jadi Lembing Tamara bersarung kulit kerbau putih

-Nan jadi pedang Jinawi Pamutus Rantai penetak ular Saktimuna pelingkar pulau Perca tetak saratus cencang seribu

-Nan jadi keris Sumpungdrajat yang merenggut-renggut

-Nan jadi genta kuda Simaharani yang bergenta-genta berderu-deru

-Nan jadi canang Sibujang Manja bunyinya di awang-awang mendayu-dayu bariba hati, dilihat ke atas bunyi di belakakang dilihat ke kanan bunyi di kiri, dipandang tidak nampak ditilik tidak jelas bunyi penyeru memanggil anak dagang supaya balik, bagaikan bunyi orang memohon sembah bahwa hidup akan mati akhirat akan kekal

Dan di sekitar daerah yang bernama “Sungai Akar” ini bertebaran pecahan tembikar, manik manik, giring giring perunggu dan menhir yang tidak banyak di ketauhi oleh masyarakat, pada tahun 1994 saat ahli pertanian dan ilmu tanah dari Canada, melakukan uji tanah untuk pertanian, tanpa sengaja di lapisan 50 cm menemukan manik manik kaca, yang menurut Jet Bakels dari Central Non western Studies, Rijks Uneversiteit Leiden, ini tinggalan periode perunggu, masa Dongson-Hobinh.

Di puncak bukit Sungai Akar, dinamakan Pematang Galangang, terdapat sebuat gua dan mata air, yang menurut tetua setempat gua ini dinamakan “Pahoh”, pahoh adalah sarang harimau, dan anehnya di puncak yang notabene lebih tinggi dari dataran terdapat mata air yang tak kering. Sekilas gambaran Batang Galanggang, Sungai Akar, namun kita disini tidak akan menceritakan secara dalam temuan temuan di daerah ini, mungkin lain waktu.

Lalu ada apa di Batang Galanggang, Sungai Akar?, dari tambo dan cerita turun temurun di sini, dahulunya tempat gelangang para pendekar pendekar tua Kerinci, mengadu keahlian, setelah menyabung ayam, dan di sini lahir langkah tiga dan langkah dua, silat tua Kerinci, yang sekarang sulit dijumpai dan hamper punah, langkah tiga dan langkah, dua adalah ilmu silat tua, tanpa senjata, gerakannya sederhana namun mematikan, sifatnya menunggu lawan menyerang, kemudian dengan mengunakan tenaga lawan, melakukan serangan balik, pada titik titik lemah dan mematikan, istilah budayawan Kerinci, silat langkah tiga Kerinci H. Alimin Depati, “Tidak Patah, Mati”.

Silat langkah tiga biasa disebut silat jantea atau silat jantan yang di pakai pendekar lelaki, dan silat langkah dua di sebut silat “batinoa”, atau silat perempuan, yang gerakan kakinya tergambar dalam ritual Asyeik Kerinci, dan tari tarian traditional Kerinci, seperti tari “Iyo Iyo”, dimana hentakan kakinya merupakan warisan zaman neolitichum, gerakan tarian minta hujan saat itu, gerakan ini hampir sama di suku suku afrika, Indian Inca dan Aztec.

Silat langkah Tiga dan Dua, diajarkan secara tersembunyi, dan pada malam hari, ini sepeertinya menjadi factor yang menyebabkan tradisi ini punah, dan pengaruh transformasi budaya saat ini, semakin membuat tradisi ini hilang.

Penulis terakhir melihat gerakan silat ini, pada tahun 1996, saat melakukan kajian silat tradisional Kerinci, saat itu maestro silat langkah tiga masih hidup, Nantan Ibrahim yang menghabiskan sisa umurnya di Pematang Gelanggang, dan bersemanyam di bukit penuh legenda ini, beliau dari Dusun Empih, dusun yang di sebutkan dalam tambo tambo Incung di Sungai Penuh, Datuk Singapai, waris darah penyebar Islam di Kerinci Syech Samillulah.

3 tahun menggulang Nantan Ibrahim, menguak tradisi silat langkah tiga dan langkah dua, ternyata ada persamaan dengan silat tuo di Minangkabau, dan juga banyak perbedaannya, salah satu yang membedakannya gerakan “sambut dan serang”, dimana silat langkah tiga Kerinci lebih sederhana dan mematikan, silat langkah dua penulis kaji dengan Nenek Gandoriah, almarhum, yang juga istri Nantan Ibrahim, mereka hidup berdua di kesunyian Pematang Gelanggang saat itu, dan di semanyamkan juga di sana bersebelahan, hidup jauh dari keramaian, menyatu dengan semesta, sampai akhir hayat.

Menggalahkan Samurai dengan tangan kosong, suatu waktu saat Jepang masuk ke Kerinci, para pemuda di rekrut untuk menjadi tentara Heiho, mereka di kumpulkan di lapangan di pusat kota Sungai Penuh, sekarang di namakan Lapangan Merdeka, salah satu pemuda yang di kumpulkan Jepang, adalah pemuda Ibrahim, saat itu salah seorang komandan Jepang memerintahkan menyanyikan lagu Kimigayo, lagu kebangsaan Jepang, namun karena pemuda pemuda ini tidak mengerti perintah tentara Jepang tadi, mereka hanya diam, dan bengong, sikap ini membuat marah tentara Jepang, komandan tentara Jepang memerintahkan salah satu anak buahnya untuk menghukum para pemuda, mereka di tampar, di tending dan disuruh jongkok, tiba giliran pemuda Ibrahim, saat di tending beliau mengelak, ini membuat pitam tentara Jepang, dan terus menendang, namun setiap di tending selalu di tangkis dan di elak oleh pemuda Ibrahim, yang akhirnya membuat komandan Jepang memangil mereka berdua, dan di tengah lapangan mereka di adu duel, saat duel dan menyerang dengan tangan kosong tentara Jepang selalu dijatuhkan oleh pemuda Ibrahim, yang akhirnya membuat ia lepas konrol dan mengeluarkan pedang samurai, saat menebas samurai pemuda Ibrahim bukan mundur, malahan masuk, sambil tangannya kiri menepis siku tentara Jepang, dan tangan kanan mencekik leher, dan kaki mengunting kaki tentara Jepang yang membuat tentara Jepang tersungkur Jatuh, dan samurai terlepas, namun bagaimanapun kejam tentara Jepang mereka menjunjung tinggi sportifitas, duel ini di hentikan sang komandan, sambil memberi hormat kepada pemuda Ibrahim, demikianlah sekilas cerita tentang Nantan Ibrahim dan silat langkah tiga Kerinci, kalau taka da halang melingtang, dan semesta masih memberi nafas dan waktu, kita akan tulis lagi di masa yang datang tentang sejarah silat langkah tiga Kerinci ini, dan kita selalu mengadahkan tangan kepada pemilik jagat raya, agar tradisi dan budaya leluhur selalu hidup dan tak punah dimakan zaman, akhir kalimat pepapatah tua selalu diingat “Kayu Tahan Takik, Bungkah Tahan Asah, Besi Tahan Sepuh, Ilmu Tahan Uji”.

*) Penulis adalah sejarahwan Jambi. Tinggal di Jambi


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments