Sabtu, 7 Desember 2019

Tiga Saksi Kasus Auditorium UIN STS Jambi Diperiksa Hari Ini


Selasa, 06 Agustus 2019 | 08:18:13 WIB


Ilustrasi
Ilustrasi / Istimewa

JAMBI – Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jambi kembali menjadwalkan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi terkait pengusutan kasus dugaan korupsi pembangunan auditorium Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Saifuddin (STS) Jambi.

Sebelumnya, Kamis (1/8/19) lalu, tim penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejati Jambi memeriksa 8 orang saksi yakni Ketua Pokja (Kelompok Kerja) Imron Rosadi, Ketua Biro AUPKK Johanis, Bendahara UIN Yunan, Konsultan Perencana Sartijo, dan Sekretaris Pokja.

Sementara itu hari ini, Selasa (6/8/2019), tim penyidik mengagendakan pemeriksaan terhadap tiga orang saksi. Dua diantaranya adalah dari pihak vendor dan satu dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) Perwakilan Provinsi Jambi.

Hal ini diungkapkan Kasi Penerangan Hukum (Penkum) Kejati Jambi, Lexy Patarani. “Penyidik akan memeriksa tiga orang saksi kasus auditorium UIN Sutan Thaha Syaifuddin (STS) Jambi, dua dari vendor satu dari BPK,” ujar Lexy.

Namun saat ditanya identitas ketiga saksi itu, Lexy tidak menyebutkannya. Dia hanya menegaskan, bahwa ketiga saksi yang akan diperiksa itu, dua dari vendor satu dari BPK. “Cuma tiga orang itu,” katanya.

Bagaimana dengan Rektor UIN sendiri, Lexy mengatakan sejauh ini tim penyidik belum mengagendakan pemeriksaannya. “Kalau dari itu (Rektor,red) belum ada jadwalnya,” pungkasnya.

Untuk diketahui, dalam pengerjaan proyek tersebut diduga ada indikasi kejanggalan sehingga hasil dari penyelidikan ditingkatkan ke penyidikan.

Pasalnya, dari hasil penyelidikan terhadap dugaan proyek senilai Rp 35 miliar itu, penyidik Korp Adhyaksa telah menemukan bukti permulaan yang cukup yang mengarah pada perbuatan melawan hukum.

Pembangunan ini sendiri diketahui bersumber dari dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) tahun 2018. Gedung yang dibangun senilai Rp35 miliar tersebut dikerjakan oleh PT Lambok Ulina, lewat Surat Keputusan DR. H. Hadri Hasan MA selaku Rektor UIN sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dengan Surat Perjanjian Nomor 46-Un.15/PPK-SBSN/KU.01.2/06/2018 untuk memulai pelaksanaan pekerjaan selambat-lambatnya selama 208 hari kalender, terhitung sejak 7 Juni 2018 hingga 31 Desember 2018.

Dalam kasus ini, PT Lambok Ulina telah mencairkan uang muka sebesar 20 persen atau sekitar Rp7 miliar. Namun uang muka atau (DP) tersebut tidak sepenuhnya digunakan untuk pekerjaan gedung auditorium tersebut. Hanya senilai Rp1,5 miliar saja yang dapat digunakan PT. Lambok Ulina.

Uang senilai Rp7 miliar atau 20 persen itu informasinya digunakan sebanyak Rp4,5 miliar untuk pembayaran hutang atau minus terhadap pekerjaan proyek gedung laboratorium UIN STS Jambi yang dikerjakan oleh PT. Delbiper Cahaya Gemilang.

Uang sisa dari pembayaran hutang Rp1,5 inilah yang dipergunakannya untuk memulai pekerjaan gedung auditorium. Akibatnya pembangunan mangkrak dan pekerjaannya yang terealisasi hanya tercapai 7 persen.


Penulis: Sahrial
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments