Kamis, 12 Desember 2019

SMK Minim Siswa Akan Dimerger


Rabu, 07 Agustus 2019 | 15:18:31 WIB


ilustrasi
ilustrasi / istimewa

JAMBI - Tahun 2020 mendatang, akan mulai berlaku bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang saat ini jumlah siswanya tidak memenuhi ketentuan, siap-siap untuk dimerger (penggabungan). Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Bukri.

Dia mengatakan bahwa wacana tersebut sudah digaungkan oleh Kementerian Pendidikan, dan mulai berlaku tahun 2020 mendatang. "Sudah bisa dipastikan, tinggal menunggu payung hukumnya disahkan tahun ini, dan mulai berlaku tahun 2020 mendatang," ujarnya. Rabu (7/8/2019).

Bukri menyampaikan, SMK yang akan dimerger itu adalah SMK yang jumlah siswanya dibawah 50 orang untuk sekolah yang hanya punya satu jurusan. Sementara jika sekolah tersebut punya dua jurusan, maka jumlah siswanya harus diatas 100 orang. "Jadi rata-rata per jurusan jumlah siswanya harus diatas 50 orang," jelasnya.

Berbeda dengan SMK negeri, jika SMK swasta yang memiliki siswa dibawah 50 orang tersebut masih ingin berdiri, maka diperbolehkan. Namun, konsekuensinya tidak ada lagi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dikucurkan ke sekolah tersebut.

"Itu supaya tidak terlalu banyak sekolah. Kalau di Jambi masih agak longgar, kalau di Batam banyak ruko jadi sekolah," katanya.

Ditanya apakah di Jambi banyak SMK negeri yang terancam dimerger lantaran minimnya jumlah siswa, Bukri menyebut untuk di Kota Jambi tidak ada. Namun ada di daerah, seperti SMKN 7 Tebo yang memiliki tiga jurusan. Satu jurusannya tidak lagi memiliki siswa. Sementara dua jurusan lain, jumlah siswanya tidak sampai 100 orang.

"Kemungkinan akan digabung ke sekolah yang dekat di sana," ujarnya.

Sementara itu, untuk wacana penghapusan jurusan di SMK, juga sudah mulai diinvetarisir. Dimana, jika dalam satu jurusan jumlah siswa tak sampai 15 orang, maka jurusan itu akan dihapuskan. Sementara siswa yang sudah mendaftar di jurusan itu, akan dialihkan ke jurusan lain.

"Mumpung masih kelas 1, jadi kalau jumlah siswanya kurang maka akan dialihkan ke jurusan lain. Tinggal menamatkan siswa di jurusan tersebut untuk kemudian ditutup. Kami masih menunggu laporan lengkap hasil PPDB kemarin, kabarnya ada di Muaro Jambi yang satu jurusan itu hanya empat orang," imbuhnya.

Menurut Bukri, terkait jurusan di SMK sifatnya fleksibel. Sebab sekolah bisa membongkar pasang jurusan, disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan dunia kerja. "Boleh dihapuskan jurusan itu, boleh juga dibuat jurusan baru, fleksibel. Tergantung kebutuhan kerja dan potensi daerah," pungkasnya.


Penulis: Rina
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments