Senin, 6 April 2020

Membuka Misteri Galangan Kapal Kuno Zabaq


Kamis, 22 Agustus 2019 | 15:00:01 WIB


/


Penelitian  F.L.  Dunn  dan  D.F.  Dunn  (1977:  22)  mengemukakan  bahwa  antara  20.000  sampai  18.000  tahun  lalu  teknologi  pelayaran  di  wilayah  Asia  Tenggara  masih  sangat  terbatas.  Aktivitas  pelayaran  di  laut  terbuka  belum  berjalan,  kemungkinan  baru  tahap  penggunaan  rakit  dengan  eksploitasi  jenis  kerang-kerangan  di  wilayah  perairan  dangkal  seperti  rawa-rawa  dan  hutan  bakau  yang  dipengaruhi  pasang  surut  air  laut.  Kemudian  sekitar  9000  tahun  lalu  mulai  dikenal  adanya  perahu  yang  penggunaannya  bersama  rakit  dengan  wilayah  eksploitasinya  berupa  rawa-rawa  dan  pelayaran  terbatas  di  perairan  terbuka. 

Eksploitasi  wilayah  baru  dilakukan  dengan  bertambahnya  pengetahuan  keahlian  berperahu.  Selanjutnya  sekitar  5000  tahun  yang  lalu  diperkirakan  telah  ada  eksploitasi  wilayah  Laut  Tiongkok  Selatan  dengan  penguasaan  navigasi  laut  danteknologi  perahu  yang  semakin  berkembang. 

Penggunaan  cadik  maupun  layar  sederhana berupa anyaman dari dedaunan meningkatkan luas wilayah eksploitasi dengan daya jelajah yang cukup jauh dari pantai (Dunn dan Dunn, 1977: 22-24)  Selain  itu  diperkirakan  pelayaran  dianggap  lebih  berkembang  sejak  awal  Holosen, penggunaan kayu gelondongan, ikatan kulit kayu atau buluh, kayu yang dilubangi berupa kano dan jenis rakit dari bakau atau bambu merupakan alat-alat pelayaran  pada  kala  itu.  Perkembangan  teknologi  pelayaran  disebabkan  karena  faktor kondisi permukaan air laut yang meninggi mencapai 130 meter pada kurun 15.000  hingga  8.000  tahun  yang  lalu. 

Terbentuknya  pulau-pulau  di  Nusantara  yang  menciptakan  garis  pantai  yang  lebih  panjang  dan  sumber  daya  alam  yang  melimpah serta iklim yang lebih stabil meningkatkan pertambahan populasi yang berdampak pada kemajuan budaya termasuk eksploitasi sumber daya laut. Isolasi geografi  pulau-pulau  di  Nusantara  oleh  alam  ditanggapi  oleh  manusia  dengan  mengembangkan teknologi pelayaran untuk melakukan kontak atau migrasi antar pulau-pulau. Horridge (2006: 143) menduga penggunaan rakit dari bambu telah ada sejak 50.000  tahun  lalu  yang  digunakan  oleh  manusia  untuk  bermigrasi  ketika  muka  laut  lebih  rendah  daripada  sekarang  dan  jarak antar daratan lebih pendek pada masa glasial. Selain itu rakit bambu mudah dibuat  dan  dapat  dikerjakan  dengan  alat  batu  yang  sederhana.  Sebaran  rakit  bambu  sampai  sekarang  masih  terdapat  di  Indonesia,  Melanesia,  hingga  ke  Fiji.  


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments