Jumat, 1 Juli 2022

Membuka Misteri Galangan Kapal Kuno Zabaq

Kamis, 22 Agustus 2019 | 15:00:01 WIB


/


 Kemungkinan manusia pertama kali menggunakan rakit bambu menuju Australia dan  selanjutnya menggunakan  perahu  lesung.  Penggunaan  kayu  dan  bambu  sebagai   rakit   telah   digunakan   sebelum   datangnya   teknologi   perahu   petutur   Austronesia.  Terdapat hubungan antara perahu Austronesia dan perahu yang berkembang di  Lautan  Hindia  sekitar  5000  tahun  lalu  yang  bercirikan  teknologi  berbentuk  perahu  lesung  dengan  penambahan  komponen  berupa  papan  di  atas  dinding  lambung  perahu  lesung  dan  perahu  papan  yang  digabungkan  menggunakan  tali  (sewn-plank) yang tersebar di Sumatera. Ciri ini juga terlihat pada perahu-perahu di Mesir, Lembah Sungai Indus dan Mesopotamia.

Selain itu bentuk tiang, teknik pasak,   bentuk   ujung   kemudi   pipih   segiempat,   dan   bentuk   layar   trapesium   berkembang  sekitar  2000  tahun  lalu  pada  jaringan  perdagangan  di  selat  Malaka.  Namun pengaruh dari teknologi yang berkembang di lautan Hindia pada teknologi perahu  Austronesia  ini  oleh  Horridge  (2006:145-147)  dianggap  kurang  tepat karena  kelompok-kelompok  petutur  Austronesia  meninggalkan  wilayah  Asia Daratan jauh sebelum mendapat pengaruh dari teknologi perahu yang berkembang di  Lautan  Hindia  atau  bahkan  dari  Mesir. 

Ia  menunjukkan  bahwa  perahu-perahu Ausronesia  telah  berkembang  dengan  menggunakan  bentuk  layar  segitiga  sejak sekitar  200  tahun  sebelum  Masehi,  teknologi  layar  segitiga  ini  baru  berkembang di  Lautan  Hindia  pada  sekitar  200  tahun  Setelah  Masehi  hingga  seribu  tahun kemudian  diadopsi  oleh  para  pelaut  Portugis.  Rute  perdagangan  dari  Vietnam. menuju   kawasan   timur   Nusantara   sekitar   200   SM   yang   ditunjukkan   oleh persebaran  nekara  perunggu  yang  merupakan  salah  satu  artefak  dari  budaya  Dongson yang mengikuti pergerakan musim angin monsoons di laut Cina Selatan dan  laut  Jawa.  Diperkirakan  cengkih  dan  kayu  manis  merupakan  komoditas perdagangan yang dibawa oleh para pelaut petutur Austronesia menuju India dan Srilangka, dan mungkin menuju pantai timur Afrika dengan menggunakan perahu bercadik. 

Mereka  meninggalkan  jejak  dengan  pengaruh  berupa  desain  perahu, teknik  pembuatan  perahu,  cadik,  teknik  menangkap  ikan,  dan  sebagainya  pada bukti  literatur  di  Yunani  (Christie,  1957  dalam  Horridge  2006:  146).  Hal  ini didukung oleh  Hornel  (1928:  1-4)  bahwa  bentuk  perahu  di  Victoria  Nyanza,  Uganda  pada  Suku  Bantu  di  Afrika  Timur  mirip  dengan  bentuk  perahu  yang berada  di  Indonesia.

Mahdi   (1999)   mengemukakan   bahwa   hubungan   pelayaran   jarak   jauh perahu-perahu  Austronesia  dengan  perahu  dari  bangsa  Semit  di  lautan  Hindia diperkirakan  telah  terjadi  antara  1000  dan  600  SM.  Hal  ini  berdasarkan  data  tertulis  Kitab  Suci  mengenai  perjalanan  pelaut  dari  bangsa  Phoenic  untuk membantu  ekspedisi  pelayaran  Raja  Sulaiman  ke  tanah  Ophir  (Kings  9:  26-28; Chron  8:  17-18  dalam  Mahdi  1999:  153)  dan  terekam  juga  dalam  Ioudaikes Archaiologias  yang  merupakan  tulisan  orang  Yahudi  yaitu  Flavius  Joshephus tahun 93 Masehi yang menyebutkan tujuan perjalanan ekspedisi tersebut ke tanah Sopheir  (Thackeray  dan  Marcus  1966:  658-660  dalam  Mahdi  1999:  153). 

Terdapat  asumsi  dari  literatur  yang  lebih  kemudian  bahwa  tujuan  ekspedisi  ke  arah   timur   itu   adalah  wilayah   daratan Sumatera  yang  dianggap  sebagai  Suvarnabhumi  (tanah  emas).  Sedangkan  pada literatur yang lebih tua bahwa pelayaran hanya sampai pada daerah Sopara tidak jauh dari Baroch (Baygaza) (Mahdi 1999: 153-155).


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments