Selasa, 7 Juli 2020

Membuka Misteri Galangan Kapal Kuno Zabaq


Kamis, 22 Agustus 2019 | 15:00:01 WIB


/


Dalam Tambo Tua Pulau Perca atau Sumatera, dikatakan “ Saat air basintak naik, basintak turun, laut samato mato, berlayar nenek kami di kulit air memakai upih, membawa emas pado rajo nan tigo selo, yang duduk diatas mustika yang menembus batas langit”. Bahasa tambo tak bisa di baca tersurat saja, namun diartikan secara tersirat, apakah ini yang di beritakan dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan dia. Emas itu didapatkan dari negeri Ofir. Kitab Al-Qur"an, Surat Al-Anbiya" 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).

Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatra. Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatra dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ofir Nabi Sulaiman a.s. Dengan eksavasi Kapal Sabak, diharapkan membuka misteri negeri Zabag, dan para leluhur yang gagah berani mengarungi samudera yang di tulis dan di catat dalam tambo tambo tua, dan kitab kitab suci, atau yang terlukis di dinding gua gua batu, maupun di relief relief menhir batu, namun yang terpenting, “Peradaban yang telah di buat para leluhur dengan semangat, keringat, bahkan darah, harus kita warisi, jangan menjadi bangsa penonton, namun jadilah bangsa pencipta peradaban, biar hidup jauh di tengah rimba, namun pikir mesti menembus semesta”.

* Sejarahwan, tinggal di Jambi


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments