Senin, 18 November 2019

Membuka Misteri Galangan Kapal Kuno Zabaq


Kamis, 22 Agustus 2019 | 15:00:01 WIB


/

Oleh M. Ali Surakhman

KATA Zabag memang banyak bermunculan dalam berita Arab abad 9. Ditengarai pelabuhan ramai yang mengangkut rempah yang hari ini bernama Muara Sabak di kawasan Pantai Timur Sumatera. Persisnya di Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Berita Cina lama selanjutnya menyebut "San-fo-tsi" sebagai bandar yang sering dikunjungi oleh saudagar-saudagarnya untuk membeli lada. Phonetis kada "san-fo-tsi" dekat sekali dengan bunyi "tembesi". Tua (Jambi) yang utama ialah Muara Sabak, yang dalam pemberitaan Arab disebut "Zabaq". Orang Arab mentranskribir sebagai "Sribuzza", dan berita Cina menuliskan "Che-li-fo-che". Dari berita-berita ini menyebutkan bahwa kerajaan tua yang berada di bandar-bandar penting Sumatera adalah kerajaan Melayu Tua yang berpusat di Muara Tembesi.

Daerah sebelah selatan Jambi mulai penting sebagai produsen lada dan dengan bantuan armada Cina T"ang, San-fo-tsi mendrikan pangkalan disana (683 Masehi). Che-li-fo-che, Sriwijaya/Jambi, Muara Sabak, diapit oleh Melayu Tua/Muara Tembesi di Utara dan Palembang di sebelah selatan. Dalam hubungan ini penting berita I-tsing, bahwa ”Mo-lo-yoe” telah menjadi ”Sriwijaya” (685 Masehi).

Berita I"tsing itu mendapat ketegasan dalam batu bertulis Kedukan Bukit, yang tertanggal 605 Syaka atau 683 Masehi. Antara lain diberitahukan, bahwa "dapunta hyang" telah"nayik disana" dengan "koci", yang mebanwa "bala dua laksya banyaknya" guna "menyalap siddhyatra" dan "marbuwat banua syrivijaya jaya". Sebagai tempat bertolah disebut ”minanga Tamwan”, yang berdasarkan penyelidikan bahasa oleh Purbotjaroko disimpulkan sebagai ”minangkabwa”, asal kata ”minangkabau".


Penulis: M. Ali Surakhman
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments