Minggu, 15 Desember 2019

Keadilan Gender Dalam Mengatasi Kerusakan Lingkungan


Senin, 26 Agustus 2019 | 13:49:12 WIB


Rodhiyah, SE, ME
Rodhiyah, SE, ME / istimewa

Oleh : Rodhiyah, SE, ME

BEBERAPA minggu terakhir Kota Jambi diselimuti kabut asap. Polusi udara yang diakibatkan oleh kebakaran lahan di beberapa titik hutan di Sumatera, Provinsi Jambi khususnya, membuat pemerintah meliburkan anak sekolah dasar agar tidak terkena dampak kabut asap. Selain itu kabut asap juga mengganggu jarak pandang lalu lintas.

Selain anak-anak yang rentan terhadap kabut asap, perempuan juga merupakan kelompok yang rentan terhadap dampak kerusakan lingkungan.

Eksploitasi sumber daya alam secara massif merubah kehidupan manusia dan menyebabkan kerusakan lingkungan. Eksploitasi SDA yang diharapkan dapat menyejahterakan masyarakat justru menenggelamkan bumi itu sendiri apabila tidak dijaga dan dilestarikan kelangsungan dan keberadaannya.

Demi pembangunan ekonomi yang bertumpu pada peningkatan pertumbuhan ekonomi, pemerintah memberikan kemudahan dan izin kepada perusahaan dan swasta baik dari dalam negeri maupun luar negeri untuk mengeruk SDA yang ada di Indonesia. Indonesia merupakan Negara yang kaya akan SDA merupakan nilai jual Indonesia agar investor bisa masuk ke Indonesia dengan tujuan melakukan pembangunan di Indonesia.

Hadirnya investor mampu memberikan dampak ekonomi yang besar bagi Indonesia, terbukanya lapangan pekerjaan, masuknya peralatan modern dan transfer teknologi, peningkatan pendapatan masyarakat, dan tentu pendapatan Negara. Namun, setelah bertahun-tahun dieksploitasi dengan modus pembangunan ternyata kenyataan yang terjadi di lapangan tidak sesuai harapan. Eksploitasi yang tidak disertai restorasi dan konservasi mengakibatkan pembangunan yang tidak berkesinambungan dan tentu saja kerusakan lingkungan.

Perempuan sebagai penikmat hasil pembangunan juga turut merasakan dampaknya. Kerusakan lingkungan semakin membuat perempuan merasa terdiskriminasi. Perempuan sebagai pengolah pertama SDA di dalam rumah tangganya akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Kekurangan air bersih membuat perempuan bekerja lebih ekstra untuk mendapatkan sumber air bersih yang nantinya akan digunakan oleh keluarganya. Pencemaran air, udara dan tanah juga dapat mengganggu kesehatan reproduksi perempuan. Pencemaran udara membuat perempuan bekerja lebih ekstra untuk membersihkan lingkungan rumahnya agar tetap terjaga kebersihan untuk keluarganya. Hal ini semakin menambah beban kerja pada perempuan sehingga bisa membatasi ruang gerak perempuan untuk bekerja di luar rumah (ranah publik). Sebagai bagian yang rentan terhadap dampak kerusakan lingkungan, keterlibatan perempuan dalam akses, partisipasi dan kontrol sering diabaikan dan dinomorduakan.

Selayaknya laki-laki, perempuan harus memiliki pengetahuan yang sama tentang lingkungan sebagaimana yang diterima laki-laki. Perempuan juga harus terlibat dalam pengawasan lahan melalui pemberdayaan perempuan memanfaatkan lahan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan, selain itu adanya peran perempuan memanfaatkan lahan secara tidak langsung dapat meningkatkan pendapatan keluarganya dan kualitas hidup keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup. Perempuan dilibatkan dalam pengambilan keputusan dalam merumuskan kegiatan dan menetapkan peraturan mengenai pengelolaan SDA.

Isu strategis gender dianalisis dalam perumusan kegiatan dan peraturan. Perempuan diberikan ruang untuk dapat berpasrtisipasi dalam pengelolaan SDA. Langkah ini diambil sebagai antisipasi untuk mencegah dan mengurangi kerusakan lingkungan. Sebab kerusakan lingkungan dapat menyebabkan perubahan hidup bagi perempuan.

Karyawan Swasta & Alumni Magister Ilmu Ekonomi Unja


Penulis: Rodhiyah, SE, ME
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments