Kamis, 21 November 2019

Mengeluarkan Siswa Bermasalah itu Solusi Instan

(Kritik untuk Kebijakan Sekolah Jambi keluarkan 8 Siswa)

Minggu, 01 September 2019 | 16:53:43 WIB


/

Oleh: Jaka HB*

ERIN Gruwell masuk ke kelas pertamanya. Tak ada pandangan ramah dari murid-murid lama untuk guru barunya ini. Jika para murid tak suka mereka keluar dari kelas. Gruwell bisa saja dicederai oleh murid-muridnya.

Tak jarang dia menangis di rumah akibat perbuatan muridnya. Dan banyak orang, bahkan ayahya dan suami menyuruhnya berhenti mengajar di sekolah itu dan berhenti jadi guru, tapi menyerah bukan pilihan bagi Erin.

Murid-muridnya berasal dari keluarga bermasalah. Mulai dari imigran gelap, anggota gang yang setiap waktu harus waspada dan pilihannya hanya membunuh atau terbunuh.

Murid-murid Gruwell pada mulanya adalah anak-anak yang baru keluar dari rehabilitasi narkotika, anak-anak yang tak selalu bisa mendapat makan siang di rumahnya, mereka yang hidup bersama ibunya yang bekerja sendirian dan mereka juga harus bekerja. Mereka tak peduli dengan seolah mereka. Bahkan salah satu muridnya ada yang merupakan pindahan dari sekolah sebelumnya karena sempat mengancam gurunya dengan senjata api.

Pada sebuah wawancara mantan murid-murid Gruwell mengungkapkan pada saat pertama kali Gruwell mengajar mereka tak peduli sama sekali. Bahkan ada yang menganggap Gruwell lebih layak jadi babysitter dibanding guru dan ada pula yang mengejeknya seperti cheer leader dari neraka.

Sekali waktu Gruwell mencoba banyak sekali pendekatan. Salah satunya memberi mereka buku catatan, semcam diary, untuk menuliskan apa saja tentang hidup mereka. Di hadapa murid-muridnya Gruwell mengatakan tidak akan membaca buku itu dan mempersilakan mereka menyimpannya di loker.

Diam-diam Gruwell membuka satu per satu catatan-catatan muridnya. Dia menangis mengetahui penderitaan-penderitaan muridnya. Dia paham bahwa perilaku muridnya hari ini adalah tumpukkan pengalaman yang mengendap di alam bawah sadarnya hingga membuat banyak murid selalu sinis, mudah tersinggung sekaligus rendah diri.

Lantas dalam waktu yang tidak pendek pendekatan Gruwell mulai membuahkan hasil. Selanjutnya dia mengundang penulis-penulis yang hidupnya menderita karena perang, lalu mengajak mereka mengunjungi museum yang menggambarkan kekerasan Nazi, menceritakan kisah Anne Frank dan banyak lagi.

Murid-muridnya mulai berubah. Mereka yang suka berkelahi lebih suka berbuat baik pada sesama. Mereka lebih memahami bahwa hidup mereka masih panjang dan banyak hal yang bisa diperbuat.

Pendekatan-pendekatan ini  yang merupakan proses pendidikan sesungguhnya. Seharusnya ini lebih mudah dilakuan di Jambi, mengingat kasus yang terjadi minggu lalu di Kota Jambi terkait 8 siswa dikeluarkan dari sebuah SMKN di Jambi.

Beberapa media daring mengonfirmasi dan narasumbernya mengklaim bahwa sudah melakukan rapat dan mengajukan keputusan bersama bahwa si murid harus dikeluarkan dari sekolah. Sebuah keputusan instan dari lembaga yang selalu menganjurkan bahwa kebiasaan instan itu tidak baik. Ya, mengeluarkan peserta didik dari sekolahnya karena masalah yang belum diketahui akarnya dan tidak ada konseling dari sekolah adalah bukti kegagalan sekolah sebagai lembaga pendidikan.

Delapan siswa yang dikeluarkan tersebut merupakan anak-anak yang mengekspose kegiatan mereka minum –minuman yang diketahui dari botolnya merupakan anggur merah. Video tersebut viral di salah satu akun gosip instagram Jambi. Ketika dikonfirmasi ke sekolah, kepala sekolah panik dan dinas pendidikan pun langsung berkoordinasi.

Sehari kemudian, dikutip dari Kumparan, bahwa delapan anak itu sudah dikeluarkan. Bagi saya pribadi ini keputusan yang emosional. Sekolah lebih memilih menjaga nama baik dan kemudian menafikkan hak anak-anak tersebut mendapatkan konseling dan pendidikan. Bukan keputusan instan seperti mengeluarkan.

Ada dua alasan yang digunakan pelaku pendidikan yang instan. Pertama, bila ada virus di tubuh maka virus perlu dikeluarkan dari tubuh. Kedua, untuk menjaga nama baik sekolah anak yang bermasalah berpotensi mencemarkan nama baik sekolah dan harusnya dikeluarkan.

Dua alasan ini tentu saja berbenturan dengan dasar hukum penyelenggaraan pendidikan di negara kita yaitu UU Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Saya kutipkan otongannya bahwa tujuan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana mengembangkan poensi rpisitual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia dan keterampilan.

Fungsinya mengembangkan kemampuan dan membentuk watak dan seterusnya. Lantas pada pasal 10 pemerintah dan pemerintah daerah berhak mengarahkan, membimbing, membantu dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan. Poin utamanya adalah mengarahkan dan membimbing.

Lantas apakah cocok peserta didik bermasalah dianggap sebagai virus yang perlu dikeluarkan? Tentu saja tidak. Sebab manusia adalah makhluk yang terus berkembang dan berubah. Para sarjana pendidikan memiliki teori dan metode-metode yang sudah teruji untuk membiasakan dan melakukan konseling untuk para peserta didik mereka. Lagi pula pemerintah pusat berkali-kali melarang sekolah mengeluarkan muridnya.

Dua tahun Sebelumnya dari media nasional diketahui Anies Baswedan sewaktu masih menjadi menteri pendidikan melarang sekolah mengeluarkan peserta didik yang bermasalah. Selanjutnya pada tahun berikutnya menteri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise juga mengatakan hal serupa pada 2017.

Menurutnya mengeluarkan anak tidak menyelsaikan masalah. Ada baiknya siswa dipindahkan ke sekolah lain.

Bagi saya memindahkan murid merupakan solusi minimal dari sekolah atau pun dinas pendidikan. Sebab tentu saja seperti yang kita ketahui yang menjabat di sekolah atau pun di dinas pendidikan adalah orang-orang yang belajar tentang pendidikan, psikologi pendidikan sampai sejarah pendidikan. Seharusnya para sarjana paham bahwa pendidikan itu mengubah siswa dari yang tidak baik menuju yang baik.

Lagi pula dari contoh kasus yang bisa anda tonton di film Freedom Writers yang berdasar pada kisah nyata, budaya murid di Jambi tidak separah kondisi yang dihadapi Gruwell. Apalagi di sebuah sekolah negeri, mereka tidak akan mencelakai guru-guru mereka sebab budaya yang membentuk mereka.

Para sarjana ini juga seharusnya berpikir bagaimana psikis anak-anak ini setelah dikeluarkan dari sekolah. Bagaimana selanjutnya perkembangan mental mereka terhadap sekolah dan motivasi hidup mereka.

Kalau sekolah hanya ingin murid baik dan pintar masuk dan lulus dari sekolah mereka, lalu apa yang dikerjakan sekolah? Main Zuma?

 

*Alumni Filsafat dan Sosiologi Pendidikan UNY yang tinggal dan bekerja di Jambi


Penulis: Jaka HB
Editor: Herri Novealdi


TAGS:


comments