Minggu, 20 Oktober 2019

Kebakaran Lahan di Jambi Capai 11 Ribu Hektare, Satgas Karhutla Dapat Tambah Satu Heli Water Bombing


Sabtu, 14 September 2019 | 21:09:30 WIB


Kolonel Arh. Elphis Rudy
Kolonel Arh. Elphis Rudy / Metrojambi.com

JAMBI - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Jambi menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia, telah mencapai 11.022,00 hektare.

Untuk memadamkan api di wilayah Jambi Satgas Gabungan menambah satu heli water bombing. Dengan demikian, saat ini ada tiga heli untuk melakukan water bombing.

"Semoga ini bisa memperkuat satgas untuk pemadaman secara cepat," kata Dansatgasgab Kolonel Arh. Elphis Rudy, Sabtu (14/9/2019).

Ditambahkan Elphis, dari hasil rapat koordinasi pengendalian Karhutla di Kemenkopolhukam, Jumat (13/9/2019), terjadi peningkatan jumlah hotspot di seluruh wilayah Indonesia, terutama di daerah rawan Karhutla seperti Kalteng, Kalbar, Kalsel, Riau, Sumsel, Jambi, dan juga daerah-daerah lainnya.

Peningkatan ini diindikasikan sebagai akibat dari masyarakat mengejar waktu tanam sebelum datangnya musim hujan. Khusus di Jambi, juga ada peningkatan sampai menyentuh sekitar 150 an titik api dalam seminggu terakhir.

"Terbanyak di wilayah Muaro Jambi dan Tanjab Timur," kata Elphis.

Dikatakannya lagi, Satgasgab Karhutla Jambi terus berusaha melaksanakan pemadaman dan pendinginan titik api ditengah kesulitan dan kendala berupa panas terik, angin kencang serta semakin terbatasnya sumber-sumber air karena kanal dan embung-embung air yang kering serta lokasi yang jauh dan sulit dijangkau.

Satgasgab melakukan berbagai upaya mulai dari pembuatan kanal-kana cacing untuk melokalisir meluasnya kebakaran. "Pemadaman dengan penyiraman dan pemadanan manual dengan perlengkapan seadanya karena kesulitan air dan juga dengan pengeboman dengan water bombing," ujar Elphis.

Lebih lanjut Elphis mengatakan, Jambi saat ini memang sangat membutuhkan adanya rekayasa cuaca untuk menurunkan hujan, dan sudah mengajukan permintaan ke BPPT. Adapun daerah yang akan mendapatkan prioritas TMC (teknologi modifikasi cuaca) sesuai kondisi wilayah yang paling memerlukan saat ini adalah Riau, Sumsel dan Palangkaraya (Kalteng).

Namun demikian, pemerintah di bawah koordinasi BNPB akan membentuk Tim PPRC (pasukan pemadam reaksi cepat)n dimana pesawat TMC sudah dimuati bahan baku rekayasa cuaca sambil menunggu berkumpulnya akumulasi 70 persen awan sebagai prasyarat rekayasa cuaca di daerah tertentu yang akan terus dipantau permenit oleh BMKG.

"Jika sudah memenuhi syarat maka pesawat langsung diterbangkan untuk menyemaikan benih hujan buatan," sebut Elphis.

Ditambahkannya, BMKG Jambi juga akan terus memantau akumulasi 70 persen awan di atas Jambi untuk dilaporkan ke Tim PPRC, sehingga masih ada kemungkinan Jambi juga akan diberi hujan buatan jika kondisi memungkinkan, dengan menggeser pesawat TMC yang standby di Pekanbaru dan Palembang.

Elphis juga mengatakan Satgasgab Karhutla Jambi dalam seminggu terakhir sudah menerjunkan tambahan tim PPRC gabungan sejumlah 100 personel ke beberapa lokasi bergabung dengan personel yang sudah ada ke lokasi Dendang, dan Kumpeh.

"Kita juga akan menerjunkan tambahan lagi termasuk 1 SSK personel gabungan Yonif R 142/KJ dan Brimob yang khusus akan melaksanakan penjagaan di lokasi yang rawan untuk dibakar," terang Elphis.

“Kita akan jaga ketat lokasi rawan dengan patroli dan penjagaan disamping sosialisasi yang masih gencar dilakukan. Hal ini dilakukan untuk benar menekan jumlah masyarakat atau orang-orang tertentu yang ingin membuka lahan dengan membakar,” Elphis menambahkan.

Ia juga mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai terjadinya kebakaran. "Apalagi musim penghujan diprediksi baru akan datang pertengahan Oktober nanti," ujar Elphis.


Penulis: Novri
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments